Menemukanmu,
sebuah harap yang terjawab.
Dicatat oleh: Sabdapena at 1:28 AM 0 Komentar
Elegi sebuah Pertemuan
Tuesday, January 08, 2013Dicatat oleh: Sabdapena at 5:22 PM 1 Komentar
Kategori: Puisi
Jeda; Singgahlah Sejenak di Kedaiku (Bag. 1)
Sunday, January 06, 2013Dicatat oleh: Sabdapena at 12:49 AM 1 Komentar
Kategori: Catatan Harian, Catatan Kecil, Esei
Mencintaimu . . .
Wednesday, December 26, 2012Aku ingin mencintaimu seperti hujan, yang menghidupkan kembali sang bumi setelah kekeringan.
Dicatat oleh: Sabdapena at 9:45 PM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Kembali ke Merah-Putih!
Friday, September 28, 2012Dicatat oleh: Sabdapena at 9:28 AM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Engkau Keajaiban
Sunday, July 08, 2012Dicatat oleh: Sabdapena at 3:12 AM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Tentang Rasa, Dalam Sebingkai Tanya?
Dicatat oleh: Sabdapena at 3:10 AM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Refleksi Setahun Pengabdian di MAPK
Sunday, February 27, 2011Setahun yang lalu, 20 Februari 2010, aku memulai sebuah babak baru dalam hidupku. Yaitu dengan memilih Asrama MAPK-MAN 1 Surakarta, sebagai tempat untuk mengabdikan diri dan mengaktualisasikan ilmu. Hal ini tidak sekedar tuntutan keterpaksaan karena kebingungan hendak ke mana aku akan menempuh jalanku setelah usai kuliah. Namun, lebih dari itu, niat ini telah tumbuh semenjak aku masih berada di bumi kinanah, Mesir. Aku telah berazam untuk turut mengabdi di almamater tercinta, entah dalam durasi waktu yang (barangkali) belum aku tentukan.
Setelah sejenak bernostalgia dengan keluarga dan tanah kelahiran, menumpahkan segenap kerinduan, akupun berinisiatif untuk segera mengambil langkah maju dalam rangka mengamalkan ilmu, sekaligus melanjutkan jenjang studi berikutnya. Di Rembang, kota kelahiranku, mungkin tak susah kiranya jika aku mau mencari lahan untuk mengamalkan ilmu. Namun, tentunya akan sulit bagiku untuk mengembangkan potensi sekaligus melanjutkan studi. Untuk itulah aku memutuskan untuk berhijrah ke Solo (yang menurutku adalah salah satu kota besar yang cukup mudah dalam mengakses beragam informasi dan mengasah potensi), sebagai langkah awal untuk menyongsong masa depan yang lebih bermakna.
Ingin seperti Ibrahim As.
Dengan berhijrah meninggalkan kota kelahiran, bukan berarti aku berniat untuk benar-benar meninggalkannya, selamanya. Namun, hijrahku adalah sebagai wasilah untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya, lalu aku akan kembali untuk memberikan darma dan sumbangsihku kepadanya. Hal ini bukan berarti juga aku meninggalkan Rembang karena tanahnya yang gersang, sumber daya alamnya yang minim, demikian pula sarana prasarananya yang kurang.
Aku ingin meniru Ibrahim As, yang dengan segenap keyakinan dan keteguhan hati mampu bertahan di Makkah, kota tandus di tengah sahara, bersama keluarganya. Makkah yang pada saat itu bahkan sangat sulit untuk menemukan mata air untuk menyeka dahaga. Makkah yang sangat panas dengan terik matahari yang menyengat. Jika seandainya, konon, Ibrahim berniat berhijrah dari Makkah untuk selamanya, pergi meninggalkannya, maka tentu tak akan tercipta peradaban Islam yang hingga kini masih menggaung di seantero dunia.
Namun, aku tak bisa menirunya dengan tidak sama sekali meninggalkan kotaku, melainkan aku harus berhijrah dalam beberapa purnama, untuk dapat merengkuh secercah cahaya yang akan aku bawa serta kembali menerangi tanah kelahiranku. Ini adalah niat, yang semoga Allah mencatatnya sebagai satu poin yang akan dapat terwujud dengan bantuan kun fayakun-Nya. Tentu, manusia dengan segenap keterbatasan, hanya bisa bermimpi, berusaha dan berdo’a. Adapun hasil akhirnya, Allah-lah yang memegang kuasa.
Belajar dan Mengajar
Setelah genap setahun aku mengabdikan diri di MAPK, berinteraksi dengan para siswa dan juga guru, banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan. Antara lain, aku semakin merasakan arti penting belajar. Dalam waktu yang sama, aku juga merasakan arti penting mengajar. Dengan belajar, berarti kita akan terus menambah perbendaharaan ilmu dan pengetahuan. Dengah hal tersebut, akan terjadi satu pola sinergis dalam proses mengajar. Sebab semakin kita menguasai satu ilmu tertentu melalui proses belajar, maka kualitas kita dalam mengajar juga akan meningkat.
Ada satu kaidah umum yang barangkali telah menjadi sunnatullah: “jika kita telah paham dan menguasai akan satu hal, maka kita juga akan bisa memahamkan orang lain tentang satu hal tersebut. Dan sebaliknya, jika kita sendiri belum paham akan sesuatu, maka kita pun akan sulit untuk memahamkan sesuatu tersebut kepada orang lain.” Berangkat dari hal ini, tentu tumbuh semacam motivasi dari dalam diri untuk senantiasa belajar dan belajar lebih banyak lagi. Dengan demikian, input yang masuk dalam diri kita akan bisa sebanding lurus dengan output yang kita berikan kepada orang lain.
Ada juga falsafah lain yang bisa memperjelas poin ini, yaitu filosofi teko, kendi dan semacamnya. Teko atau kendi bisa mengeluarkan air dari “mulut”nya adalah karena sebelumnya ia telah diisi air. Jika di dalamnya kosong tak berisi, maka ia juga tak akan bisa menuangkan air. Demikian juga otak manusia. Jika otak tersebut kosong, maka akankah mulut dapat berbicara dan tangan dapat menulis? Tentu tidak! Maka sebagaimana kendi yang butuh diisi, otak juga demikian adanya.
Dengan menjalani dual-status, yaitu sebagai pelajar sekaligus pengajar, aku benar-benar merasakan betapa pentingnya ilmu pengetahuan. Betapa berharganya waktu yang terus berlari tanpa pernah berhenti dan kembali. Satu sisi aku harus menambah wawasan, mencari ilmu di bangku kuliah dan juga di mana saja, dan di saat yang sama aku harus membagikannya kepada para siswa. Satu simphony kehidupan yang menurutku sangat dinamis.
Semoga aku benar-benar bisa menjadi pembelajar sejati (being learner), yang pada gilirannya nanti juga bisa menjadi guru sejati. Rasulullah SAW, sebelum ia menjadi seorang guru sejati bagi semesta alam, ia terlebih dahulu menjadi siswa yang baik di sekolah Tuhan, melalui bimbingan Jibril As. Semoga kita bisa meneladaninya dalam hal ini.
Man Khadama Khudima
Salah satu pesan yang sangat aku ingat dan begitu lekat dalam ingatan adalah “Man Khadama Khudima”, barangsiapa yang mau melayani atau mengabdi, maka suatu saat ia akan menjadi orang yang dilayani oleh orang lain. Kalimat ini aku rekam beberapa kali dari Ustad Sukemi. Beliau menegaskan kaidah ini kepada kami, beberapa kali, dalam berbagai kesempatan, yang tiada lain adalah agar kami senantiasa bermuhasabah dan mengevaluasi niat kami. Pengabdian tetaplah pengabdian. Sejenis perjuangan, yang tidak bisa dihargai dengan nominal uang tertentu. Maka yang paling penting adalah, tulusnya niat, ikhlasnya hati, mengharap Ridlo Ilahi.
Memang terkadang kalau aku berpikir secara logis, sangat berat tugas yang ada di pundak kami. Tatkala para orang tua datang, membawa anak-anak mereka lalu menitipkannya kepada kami, tentu ini sebuah amanat yang tidak ringan. Sangat besar harapan mereka kepada kami, agar kami mampu mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang awalnya belum bisa membaca al-Qur`an dengan benar, setelah lulus dari sini mereka bisa membaca al-Qur`an dengan fashih. Yang awalnya mereka belum bisa bahasa Arab dan Inggris, setelah selesai masa studi di sini mereka telah mampu berbahasa Arab dan Inggris dengan baik. Yang awalnya etika dan akhlaq anak-anak mereka kurang baik, ketika lulus etika mereka menjadi semakin baik, dan lain sebagainya.
Tentu hal-hal semacam ini menjadi satu beban tersendiri. Maka sungguh, jika tidak dengan niat yang ikhlas dan hati yang teguh, tak akan kuat dan sanggup aku berada di sini, bertahan hingga satu tahun lamanya. Namun dengan kebersamaan, dengan bahu-membahu antar satu elemen dengan elemen lainnya, beban tersebut terasa sedikit lebih ringan. Belum lagi ketika menghadapi berbagai macam karakter anak yang berbeda-beda, tentu hal ini menjadi PR tersendiri bagaimana aku harus dapat belajar lebih bijak dan arif dalam bersikap.
Tidak hanya karakter siswa yang beraneka ragam, demikian pula karakteristik para guru atau Dewan Asatidz yang berbeda-beda. Hal ini sesekali menimbulkan “percikan-percikan api” yang bagiku, justru dapat menambah kekayaan batin dan pengalaman. Ada satu hal yang aku pegang dalam hidup, bahwa sejatinya setiap manusia saling membutuhkan satu dengan lainnya. Maka dari itu sebisa mungkin aku menghindari yang namanya permusuhan dan saling benci. Sebab apa gunanya kita saling membenci jika ternyata kita saling membutuhkan. Manusia diciptakan dengan segenap kekurangan, maka kita membutuhkan orang lain untuk melengkapi kekurangan kita. Maka dari sinilah semestinya kita bisa mengedepankan sikap saling menghargai dan menghormati, bukan justru sikap saling membenci dan memusuhi.
Barangkali tak hanya di sini, namun di manapun tempatnya akan muncul dinamika seperti ini. Yang semestinya harus diusahakan dan diciptakan adalah suasana kondusif dan nuansa toleransi dalam keberagaman. Bersatu dalam perbedaan. Begitulah tutur Ustad Sukemi kepada setiap siswa baru yang akan menempuh masa studinya selama kurang lebih 3 tahun di asrama dan MAPK. Dengan menanamkan sikap seperti ini, maka akan muncul sikap saling menghargai meskipun masing-masing mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, baik dalam hal status sosial, aliran kepercayaan dan seterusnya. Sungguh indah jika perbedaan benar-benar bisa menjadi rahmat.
Kuncinya adalah Proses Regenerasi
Jika mengamati beberapa instansi pendidikan atau lebih khusus sekolah-sekolah berlabel MAPK (dahulu MAKN) yang sebagian besar, bahkan hampir semua, telah gulung tikar, salah satu faktor penyebabnya adalah tidak berhasilnya proses regenerasi di tubuh pembina atau para guru yang menemani para santri di asrama atau pesantren. Hal ini (menurut hematku) setidaknya dipengaruhi beberapa hal, antara lain mungkin karena tidak memadainya gaji atau dana tunjangan yang darinya mereka bisa hidup dan menghidupi keluarganya. Di saat yang sama, mereka melihat bahwa rumput tetangga lebih hijau, bahwa lahan di luar lebih subur dan sebagainya.
Namun Alhamdulillah, MAPK Solo hingga kini masih tetap eksis semenjak ia didirikan pada tahun 1990. Hal ini tiada lain adalah atas berkat perjuangan dan dedikasi yang sangat tinggi dari para pendiri serta berbagai elemen yang mendukungnya, antara lain adalah faktor alumni. Tradisi yang telah berjalan dan masih ada hingga sekarang adalah kesediaan para alumni untuk mengabdi dan kembali mengamalkan ilmunya di almamater tercinta. Hal ini, sedikit maupun banyak memberikan peran tersendiri dalam menjaga eksistensi MAPK-MAN 1 Surakarta.
Tidak banyak memang, alumni yang mau berkiprah secara langsung untuk terjun di lapangan menjadi guru dan tenaga pengajar di MAPK. Ini dikarenakan para alumni lebih memilih untuk mengembangkan potensi di tempat lain, dan hal ini justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar MAPK. Yang terpenting adalah para alumni bisa mewarnai dan bisa berkiprah sesuasi bidangnya masing-masing, di manapun mereka berada.
Cukuplah beberapa orang saja yang kembali menapakkan kaki di asrama, mengikat niat untuk mengabdi, sedangkan selebihnya menyebar di seantero dunia dengan tetap berkirim do’a dan senantiasa memberi dukungan moril demi kelanggengan almamater tencinta. Dengan demikian, MAPK akan senantiasa ada dan berusaha untuk tetap mencetak generasi pilihan yang siap menyambut tongkat estafet perjuangan para pendahulunya.
Telah genap aku mengabdikan diri selama setahun dan masih akan kulanjutkan pengabdian ini hingga saat yang tidak ditentukan. Selama aku masih dibutuhkan di sini dan selama Allah belum menyediakan lahan lain bagiku untuk belajar dan mengajar, maka aku akan tetap bertahan di sini. Tentu dengan segenap kekurangan yang melekat pada diriku, aku akan terus belajar dan belajar. Tak ada manusia yang sempurna, namun usaha untuk menuju kesempurnaan itu harus terus diusahakan.
Di tengah malam nan sunyi ini, aku memanjatkan do’a kepada Sang Penggenggam Kehidupan, semoga limpahan rahmat-Nya senantiasa tercurah kepada kami semua. Dan semoga hidayah-Nya tak putus-putus dalam membimbing kami menjalankan amanat ini. Amin.
M. Luthfil Anshori
Solo, Astra, 20 Februari 2011, 00.10 WIB.
Dicatat oleh: Sabdapena at 2:50 AM 0 Komentar
Kategori: Catatan Harian
Gelap di Pagi.
Friday, December 03, 2010Pagi yang gelap, mendung,
dan gerimispun sedikit demi sedikit turun ke bumi,
membasahi tanah
dan dedaunan
yang belum kering dari embunو
menyisakan aura basah nan dingin.
Menyaksikanku arakan burung emprit,
bertandang satu pohon ke pohon lain,
mengais makan,
bertahan hidup,
tidak seperti mereka,
yang telah pergi,
meninggalkan kehidupan
yang tak lagi hidup.
Solo, 4 des 2010.
Dicatat oleh: Sabdapena at 3:28 PM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Jeda Makna
Thursday, October 07, 2010Alif. Ba'. Ta'...
Seperti teka-teki yang menyimpan misteri.
Aku tak pernah habis mengejamu,
berharap sebentuk makna tersirat dalam dada.
Memberi arti dalam detik-detik masa,
menjadi senyawa bagi semesta.
Asmadera, 07/10/2010.
Dicatat oleh: Sabdapena at 9:16 AM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Antara Bandara dan Kota Tua!
Friday, March 19, 2010Teringat suatu kala, dimana jiwa beserta raga ini harus berhijrah meninggalkan gemerlap dunia.
Ingin hati menuju cahaya agar mampu menyerap auranya, namun tak kuat ego ini merengkuhnya, lantaran terlalu jumawa.
Teringat suatu masa di bandara, tatkala isak tangis menggelegak mengiring kepergian para duta.
Tiap tetes air mata tak sekedar menjadi magma melainkan untaian doa yang menerobos masuk ke 'arasy kasih-Nya.
Barangkali, malaikatpun kala itu ikut haru menyaksikan kesucian niat para penuntut ilmu.
Akankah... meraka istiqomah, atau justru goyah dihempas malas dan kebebalan??
...
Berhari hingga bertahun, akan terbukti pertanyaan tadi!
...
Betul!
Aku membuktikannya sendiri;
lentera yang kubawa di kedalaman jiwa tak cukup terang menerangi jalan, hingga aku terseok dan jatuh dalam licin godaan dan kelalaian.
Mimpi yang kuidamkan tak sedahsyat usaha yang nyata. Aku hanya tidur dan terus terlelap dalam pelukan kenyamanan dan kebebasan.
Niat yang kupegang tak sekuat ikatan janji dua sejoli, melaikan hanya utopia yang fatamorgana. Terlalu mudah aku menanggalkannya lantaran niat-niat lain seliweran di kepala; ingin terkenal, ingin kaya, ingin merdeka dan ingin masuk surga. Bukankah itu hanya sampah yang bisa ditemukan oleh siapa saja di sepanjang jalan. Betulkah aku seorang hamba, atau hanya penjual yang memimpikan laba dalam setiap tidurnya??
Cahaya yang kuinginkan ternyata bukan matahari, melainkan hanya kunang-kunang yang redup-redam di gelap malam. Pantas saja aku tersesat. Bukan kemajuan yang kutapaki, tapi kemunduran-kemunduran, stagnasi di titik-titik beku.
Di negeri tua ini, warisan dan modernitas saling berjuang penuh gigih. Keduanya bak dua sisi magnet yang tarik-menarik menentukan siapa yang mendominasi, siapa yang menguasai.
Sementara aku adalah sebentuk obyek di antara kedua sisi itu, teseret kesana kemari dihempas dan tertarik.
Aku tak mampu teguh menancapkan mimpi dan niatku di sini. Terlalu keras tanahnya, terlalu gersang buminya.
Atau, terlalu kerdil mentalku untuk menghadapi beribu rintangan yang menghadang??
Namun demikian aku terus berusaha memijaknya, sehingga masih ada sepercik asa untuk bertahan, menghadapi kenyataan yang ada. Hingga pada akhirnya aku sampai di sebuah terminal, dimana aku telah mendapatkan apa yang tak kuinginkan: "Kepulangan dengan tangan hampa!".
Dan, pada suatu sore nan petang nanti, aku akan kembali pada sebuah rotasi, dimana aku berdiri di altar bandara ibu kota, mengenang sebuah cita-cita, serta sepenggal kisah dari kota tua.
***
Andai waktu bisa diputar kembali, aku akan meminta "ibu" untuk menemaniku dalam hijrah menuntut ilmu, agar selalu ada yang menjagaku, mengingatkanku, menghukumku dan menghadiahiku! Agar tangis, doa dan jerih payahnya senantiasa memotivasiku. Sungguh, aku terlalu lalai untuk hidup tanpa "ibu".
Cairo, 24 Oktober 2009. 14.35.
Dicatat oleh: Sabdapena at 12:23 AM 2 Komentar
Kategori: Puisi
Ramadhan dan Mukjizat Al-Qur`an
Tuesday, September 15, 2009Suatu ketika, tatkala Ramadhan telah tiba, Rasulullah SAW berkata kepada para Sahabatnya: “Sungguh telah datang kepada kalian sebuah bulan penuh berkah, yang di dalamnya Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang (pahalanya) lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa mendapatkan keberkahannya, maka beruntunglah ia!” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi)
Melalui sabda Nabi di atas, kita dapat memetik sebuah pelajaran akan keagungan bulan suci Ramadhan. Tak ada bulan lain yang keberkahannya melebihi Ramadhan. Ia ibarat seorang utusan dari Sang Maha Raja alam semesta untuk mendatangi rakyatnya dengan membawa sebongkah hadiah dan cindera mata. Namun, hadiah itu barangkali tersembunyi di dalam sebuah kotak tertutup yang dibawa serta oleh sang utusan. Sehingga, tak semua orang bisa melihat dan mengetahui maksud kedatangannya. Alhasil, di antara para rakyat ada yang menyambutnya penuh suka-cita dan penghormatan, adapula yang acuh tak acuh terhadapnya.
Demikian pula potret Ramadhan. Bagi yang mengetahui kadar keagungannya, ia akan berusaha mengoptimalkan setiap usaha untuk meraup berkahnya. Tapi yang tak tahu akan nilai penting Ramadhan, hanya akan membiarkannya berlalu begitu saja. Tatkala Ramadhan pergi, ia justru bahagia karena kembali bisa makan dan minum kapan saja. Tapi bagi golongan pertama, mereka akan bersedih hati ditinggal pergi sang Ramadhan.
Sejatinya, nilai keagungan Ramadhan terangkup dalam beribu dimensi yang dikandungnya. Tak semuanya mampu kita ketahui, karena keterbatasan manusia dalam memahami misteri-misteri ilahi. Namun, setidaknya ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik dari bulan suci ini. Antara lain adalah; wujud kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya, pembelajaran dalam ranah kehidupan sosial maupun personal, ajang penyucian hati dan jiwa, sekaligus peluang untuk mengimplementasikan rasa syukur atas nikmat Tuhan yang tiada pernah terbilang.
Di samping itu, ada poin penting lain yang dapat kita petik dari kehadiran Ramadhan. Yaitu sebuah peristiwa agung dalam sejarah umat Islam, nuzulul Qur`an. Ramadhan mendapatkan kemuliaan berlipat-lipat karena di dalamnya al-Qur`an diturunkan. Sebuah mukjizat abadi yang tak lekang dilindas zaman.
Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya al-Qur`an diturunkan, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan (sebagai) pembeda (antara yang benar dan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).
Maka, tatkala al-Qur`an diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan, kita perlu membersihkan diri dari hal-hal yang keji, menyucikan hati dan jiwa, guna menyambut sebuah hari dimana sepucuk kitab suci diturunkan ke muka bumi. Mengingat keagungan kitab itu, kita patut menyambutnya penuh kelapangan; dengan meninggalkan makanan dan minuman, kemudian membacanya penuh penghayatan dan kekhusyu’an seakan-akan setiap ayat yang kita baca baru saja diturunkan dari ‘arasy keagungan-Nya.
Selain itu kita juga dianjurkan untuk mendengarkan ayat-ayat itu dibacakan. Menyimak dengan penuh konsentrasi, bahwa kita tengah mendengarkan susunan kalam ilahi yang penuh makna. Dengan demikian kita akan sampai pada derajat kemurnian hati dan kejernihan fikiran. Tatkala mendengar ayat al-Qur`an dibacakan, kita membayangkan bahwa seakan-akan kita menyimaknya langsung dari Rasulullah. Bahkan, kita bembayangkan bahwa ayat-ayat itu sedang dibacakan oleh sang penyampai wahyu, Jibril As. Dengan demikian kita mampu menyerap keagungannya, lalu berusaha menjalankan ajaran-ajarannya.
Maka melalui dimensi Ramadhan ini, sangat perlu kiranya bagi kita untuk kembali memaknai arti penting mukjizat al-Qur`an. Bahwa ia adalah kitab suci yang diturunkan di bulan suci dari Dzat Yang Maha Suci. Al-Qur`an diturunkan sebagai kitab petunjuk (hudan). Sebuah buku pedoman yang selalu relevan di setiap zaman. Namun, akankah hikmah itu bisa kita rasakan, jika kita masih enggan bertadarus al-Qur`an, mentadabburinya, lalu mengamalkannya?
Ramadhan laksana sebuah ladang yang begitu subur. Maka barangsiapa mau bercocok tanam di dalamnya; dengan memperbanyak amal kebajikan, bersedekah, dzikir, tadarus al-Qur`an dan lain sebagainya, maka ia akan memetik buahnya di akhirat kelak. Terlebih, di bulan Ramadhan ada malam Lailatul Qadar, yang barangsiapa menjumpainya dengan dibarengi amal kesalehan, ia akan mendapatkan keberuntungan tiada tara. “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 3). Wallâhu a’lam.
Dicatat oleh: Sabdapena at 7:01 PM 0 Komentar
Kategori: Hikmah
Bulan Bertabur Cinta
Membincang Ramadhan erat kaitannya dengan cinta dan kasih sayang. Bagaimana tidak(?), Allah Swt. sendiri telah memilihnya sebagai bulan dimana kasih sayang-Nya ditumpahkan di seantero langit dan bumi.
Sepertiga pertama adalah bentuk awal dari cinta kasih Allah kepada para hamba-Nya (awwaluhû rahmah). Sementara sepertiga kedua adalah implementasi rasa cinta Allah dalam bentuk yang lebih besar, yaitu berupa ampunan (awsathuhu maghfirah). Adapun sepertiga terakhir adalah puncak ungkapan cinta Allah yang berupa penyelamatan dari api neraka (itqun minan nâr).
Ketiga ihwal di atas tiada lain adalah jelmaan-jelmaan kasih sayang Tuhan kepada para hamba-Nya yang ta’at dan ikhlas. Barangsiapa mampu meniti tangga-tangga hari di bulan Ramadhan dengan amal ibadah yang baik, maka anugrah terbesar akan ia dapatkan. Adakah yang lebih berharga dari cinta kasih Tuhan? Sebab jika Allah sudah mengasihi hamba-Nya, maka hanya sorga jaminannya.
Ramadhan sebagai bulan kasih sayang juga tercerminkan dalam pola interaksi sosial yang terjalin dalam masyarakat Islam. Baik si kaya maupun si miskin berada dalam posisi yang sama. Sama-sama merasakan derita haus dan lapar. Sama-sama membina hati untuk bersabar. Sama-sama menata niat untuk tawakkal.
Maka dalam kondisi seperti ini, akan muncul sebuah dorongan hati untuk saling berbagi. Yang kaya memberi yang miskin. Dan, yang miskin menerimanya sebagai bentuk derma & karunia. Dengan memberi, berarti si kaya telah melakukan sebuah implementasi kesyukuran atas anugrah Tuhan kepadanya. Dan, dengan menerima, si miskin juga telah bersyukur akan nikmat yang diterimanya, melalui tangan si kaya. Sungguh sebuah jalinan kasih sayang sesama muslim yang sinergis!
Di samping itu, bentuk cinta lain yang kita rasakan di sela-sela Ramadhan adalah “al-Qur`an”. Tak bisa dipungkiri, bahwa al-Qur`an merupakan salah satu wujud kasih sayang Tuhan. Ia adalah sekumpulan surat cinta Tuhan yang diturunkan kepada segenap manusia beserta alam semesta.
Al-Qur`an diturunkan pada malam keberkahan (innâ anzalnâhu fî lailatin mubârakah. [Ad-Dukhân: 3]). Malam keberkahan itu disebut malam Lailatul Qadar (innâ anzalnâhu fî lailatil qadr. [Al-Qadr: 1]). Dan malam Lailatul Qadar terdapat pada bulan Ramadhan (Syahru Ramadhân alladzî unzila fîhi al-Qur`ân...[Al-Baqarah: 185]).
Maka dengan firman-firman Allah ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran, betapa al-Qur`an diturunkan sebagai berkah dan kasih sayang, dari Dzat Yang Maha Penyayang, kepada seorang makhluk penyayang (Muhammad Saw.) dan diperuntukkan sebagai pedoman dan petunjuk bagi seluruh insan.
Adakah pahala yang lebih besar dari pahala malam Lailatul Qadar? Satu malam berbanding seribu bulan. Sementara umur manusia rata-rata tak sampai seribu bulan, yang jika kita hitung sepadan dengan 83 tahun. Umur Rasulullah saja hanya 63 tahun. Namun mengapa Allah memberikan peluang kepada setiap hamba untuk dapat beribadah dalam satu malam tapi diganjar seperti ibadah 1000 bulan/83 tahun? Bukankah ini adalah juga bentuk cinta yang sangat istimewa dari Dzat yang kasih sayang-Nya tiada pernah terbilang?
Maka mukjizat al-Qur`an yang hingga kini dan sampai kapanpun akan tetap terjaga nan abadi adalah sebongkah ungkapan cinta dari Tuhan. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan terhadap al-Qur`an. Apakah hanya sebatas kita baca ‘surat cinta’ itu? Atau kita baca sambil menghayati kandungan maknanya? Atau kita jadikan ia sebagai bekal termewah untuk meniti kehidupan dunia dan akhirat?
Jika pertanyaan pertama yang kita pilih, maka hanya dengan membacanya pun kita telah mendapatkan pahala. Bila kita memilih pertanyaan kedua, maka pahala dan hasilnya akan semakin banyak. Sebab, setelah kita memahami kandungan maknanya, kita akan beranjak mengamalkannya. Dan apabila pertanyaan ketiga yang kita tempuh, maka kebahagiaan hakiki akan kita raih.
Tapi ironisnya, jika kita justru acuh tak acuh terhadap surat-surat cinta itu. Jika membacanya saja enggan, maka bagaimana kita bisa mendapatkan cinta dari Dzat yang mengirim surat cinta itu? Dan jika demikian yang terjadi, berarti secara tidak langsung kita telah menolak cinta dan kasih sayang Tuhan yang sebenarnya dialamatkan kepada kita. Na’ûdzubillâh!
Dari beberapa deskripsi di atas, kita bisa menyimpulkan betapa Ramadhan adalah bulan bertabur cinta. Yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil saja dimensi cinta dan kasih sayang yang terangkup dalam madrasah Ramadhan. Masih banyak lagi bentuk kasih sayang lainnya yang bisa kita lihat dan rasakan. Maka dengan keutamaan yang seperti ini, akankah kita menyia-nyiakan Ramadhan?? Wallâhu a’lam.
Dicatat oleh: Sabdapena at 6:43 PM 0 Komentar
Kategori: Hikmah
S.a.j.a.d.a.h K.u.s.u.t !
Tuesday, September 01, 2009
Aku hamparkan sajadah kusutku di altar bumi-Mu
di tingkahi sinar temaram rembulan aku bersimpuh
mendongak langit lepas mengetuk 'arasy-Mu
menundukkan hati menyucikan ruh.
Meski telah berulangkali aku sujudi
tetap saja sajadahku menemani dalam munajat-munajat sunyi
ia tak kan pernah pensiun selama wujudnya masih utuh walau telah lusuh
sebab selama itu pula polah tingkahku terus berubah;
terkadang baik, terkadang buruk
maka ketika baik aku butuh sajadahku untuk bersyukur
dan ketika sedang buruk aku membutuhkannya sebagai penegur.
Sajadah lusuhku
meski fana sifatmu
tapi engkau penanda bagiku
dalam menempuh ta'at, mengusir maksiat.
Sajadahku,
bertahanlah untuk tetap maujud
menemaniku bersujud!!
Sabdapena,
Pojok Dukuh Segitiga, 01 September 2009, 05.19 AM.
Dicatat oleh: Sabdapena at 4:51 PM 142 Komentar
Kategori: Puisi
Jejaring Rahmat-ku yang Sobek(?)
Monday, August 31, 2009Sederet dimensi waktu minggat
tatkala Sang Rahman usai mengobral cinta-Nya
menabur embun-embun rahmat
di gersang sahara yang membara.
Aku ibarat nelayan
di samudera kasih sayang
hendak menuju pulau keberkahan
berharap bisa untung
menjaring ikan ketakwaan.
Namun aku silau
ditimpali bias cahya-Mu yang melebihi mentari.
Aku tak cukup kuat,
menampung agung-akbarnya kemurahan-Mu
Sehingga kurnia megah yang tak kunjung nihayah
membuatku lengah untuk bermuhasabah.
Aku seharusnya sabar dalam menahkodai perahu
tak perlu menoleh kanan-kiri
melirik kilau-kilau permata yang sejatinya fatamorgana,
hanya busa(!),
hasil benturan ombak yang kuanggap mutiara,
aku tertipu sepanjang samudera.
Tujuanku masih panjang
di ranah pulau keselamatan,
tak mampu kutangkap intan rahmat-Mu,
yang Kau tabur di tepian pulau-Mu,
karna sepanjang perjalanan yang lalu,
jejaringku telah sobek nan bolong,
digerus tamak-ananiyahku.
Bukan ikan kasih sayang-Mu yang kujaring,
namun tipuan dan rayuan,
menutupi alam kesadaran,
sehingga aku lalai akan tujuan,
dan telah lunglai sebelum pelabuhan.
Gusti,
pada sepuluh dimensi awal ini
aku lengah,
apalah daya jika rahmat-Mu tak mampu kurengkuh,
bagaimana hendak kulalui samudera maghfirah-Mu(?)
mengais ampunan atas segala nisyan.
Aku dibius kerlap dunia,
hingga lumpuh jiwa-raga
dan otakku semakin keruh.
Namun,
dalam gontai langkahku,
sepucuk puja beserta doa kupanjatkan
agar terus dapat bertahan
melanjutkan perjalanan.
Ya Rahman,
Ya Rahim,
Irhamna.
Pojok Dukuh Segitiga, 01 September 2009, 03.02 AM.
"Renungan 10 hari pertama Ramadhan 1430 H."
Dicatat oleh: Sabdapena at 6:14 PM 0 Komentar
Kategori: Catatan Harian, Catatan Kecil, Puisi
Masisir; Gelanggang Irasionalitas yang Terinferiorasi?
Monday, July 27, 2009Di suatu malam yang gaduh, aku merenung tentang potret negeri mimpiku. Yaitu di sejengkal tanah yang terberkahi oleh kehadiran para nabi dan wali. Dahulu aku bermimpi akan banyak belajar di sini. Aku berangan akan menemukan kawan-kawan yang bersemangat dan menggebu dalam menyelami samudera ilmu. Sebuah negeri yang menurutku akan memberikan kekayaan rasa dan asa.
Namun, semua memang hanya mimpi. Apa yang aku bayangkan tak selaras dengan fakta di lapangan. Sebab, sebagaimana dalam dunia mimpi, skenario dan alur cerita bisa saja loncat-loncat tak jelas arah. Buktinya, semua angan tadi hanyalah fatamorgana. Aku justru lebih cenderung bermalasan. Kawan-kawanku pun demikian. Hanya segelintir saja yang menyadari keberadaannya sebagai mahasiswa?
Yang lebih dominan bukan persaingan dan kompetisi di bidang keilmuan. Tapi sebaliknya, politik telah mengangkangi niat suci. Hegemoni menjadi cita-cita agung yang patut diperjuangkan. Hanya demi sebuah nama, institusi dan organisasi. Sementara kepentingan bersama tercabik-cabik. Amanat utama yang bertengger di pundak setiap mahasiswa dan pelajar justru ter-sia-kan.
Halaqoh-halaqoh diskusi semakin sepi. Muthala’ah, rutinitas membaca kitab, mendalami materi sesuai spesifikasi, menjadi pemandangan langka yang menyedihkan. Hanya segelintir orang saja yang menyadari, betapa belajar sangatlah penting, betapa membaca dan menulis adalah ibadah sekaligus bekal untuk hidup di dua alam: dunia-akherat.
Kesemuanya itu tergeser oleh suguhan-suguhan kemudahan yang dibawa serta melalui teknologi-teknologi canggih masa kini. Sebagian orang lebih suka hidup sendiri, hidup secara individual, tanpa mengindahkan norma-norma kebersamaan. Jika ada keramaian, kita bisa menebak acara apa yang sedang digelar. Kebanyakan adalah kegiatan hiburan. Kegiatan yang tidak melibatkan otak dan nalar untuk bergerak. Pada gilirannya, secara pelan-pelan, otak semakin sulit bekerja, karena tak pernah difungsikan. Dan nuranipun padam, karena tak pernah dinyalakan.
Aku masih meratapi nasibku, juga negeri mimpiku. Dan, saat ini keprihatinanku kian memuncak. Serakan ironi semakin tersebar dimana-mana. Aku sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Arus kemalasan, lemahnya spirit dan motivasi, sikap mental kerdil, egoisme pribadi maupun kelompok kian memenuhi atmosfer negeri ini. Konon, status pencari ilmu sudah banyak bergeser ke status-status lainnya. Berbagai tipe dan bentuk mahasiswa semakin beraneka.
Kondisi ini diperparah dengan muncuatnya kepentingan-kepentingan yang menuntut kedudukan dan kekuasaan. Kelompok yang satu mengincar posisi, kelompok yang lain juga berambisi untuk menghegemoni. Dakwah dan orasi yang didengungkan tak lagi murni. Semuanya sarat kepentingan, bahkan terkesang dipaksakan. Garis determinan yang sangat mencolok adalah munculnya stigma kaum mayoritas dan minoritas. Atau dengan ungkapan lain adalah kelompok yang vocal dan yang hanya diam, atau masyarakat yang aktif dan yang pasif.
Budaya saling sikut dan jegal kian merebak. Dunia yang carut-marut semakin keriput. Sepertinya tanda-tanda hari akhir semakin jelas saja. Nuansa-nuansa persaingan tak sehat semakin merajalela di mana-mana. Mulai dari komunitas terkecil hingga induk terbesar, semuanya berpacu untuk saling menjatuhkan. Semuanya memang berwacana ingin membangun. Tapi sebelum itu mereka memilih untuk lebih dulu menghancurkan. Aku semakin bimbang untuk terus tinggal di sini, di negeri mimpi. Sebab aku takut kehancuran akan segera datang.
Proses pembelajaran tak sepenuhnya terjadi di sini. Yang dominan justru pembodohan dan saling tipu. Yang vocal mengakali yang diam. Yang mayoritas mengebiri yang minoritas. Superioritas diselewengkan untuk menindas dan menghegemoni, bukan melindungi dan memperjuangkan kebersamaan. Aku terus merenung dan merenung. Sudah separah inikah negeri mimpiku?
Sepertinya, aku kurang beruntung dalam dimensi ruang dan waktu ini. Negeri mimpi yang selama ini kutinggali tak sesuai yang kubayangkan sebelumnya. Terlalu naif yang kulihat. Karena yang tampak adalah perubahan medan dan peran. Bumi yang semestinya menjadi ajang belajar dan mendalami kelimuan telah berubah menjadi gelanggang irasionalitas yang terinferiorasi. Aku semakin hanyut dalam kepedihan. Nilai-nilai kekerdilan dan irasional semakin bertahta. Memenuhi negeri mimpiku. Dan dadaku kian sesak. Dihimpit keprihatinan yang mendalam??
Oh... Masisir, Mahasiswa Indonesia di Mesir! Generasi bangsa yang kehilangan jati diri !??
M. Luthfi al-Anshori
Cairo, 28 Juli 2009, 01.10 AM.
Dicatat oleh: Sabdapena at 3:42 PM 3 Komentar
Kategori: Catatan Harian, Esei
Membaca Kisah Matahari
Thursday, June 25, 2009Begitu ramai matahari dikeluhkan orang-orang,
sampai-sampai keluhan itu saling bertabrakan di awang-awang,
kilat-kilat putih kekuningan bercipratan menambah kilauan,
menghasilkan asap abu beterbangan,
semakin panaslah bumi di musim yang gersang.
Sementara di tenda kubus aku bercucuran peluh,
membaca kisah matahari yang tangguh.
Terengahku memahami rancangkata yang teguh,
mencari makna agar tak ikut mengeluh.
...
:Kisah matahari membantu bunga menemukan rupa,
tatkala tujuh warna tersiram cahaya,
sehingga bermekarlah penuh pesona;
Kisah matahari menitah rembulan,
meminjamkan cahayanya untuk dipantulkan,
menyinari malam temaram;
Kisah matahari menyiangi lautan,
menerbangkan gelembung air menaiki awan,
lalu berproses menjadi hujan;
Kisah matahari yang tak pernah padam,
menjaga semesta agar tetap terang,
tak ada siang kecuali ia ada,
tak ada malam kecuali rembulan mewakilinya,
gemintangpun berkedip mesra menggodanya,
dalam romantika keserasian alam,
cerminan kuasa Sang Pencipta!
...
Membaca kisah matahari,
tak seperti yang dilukiskan orang-orang,
dalam keluh kesah kehampaan.
Membaca kisah matahari,
mendengar narasi langsung tiap cercah cahayanya,
bertatap mata dengan segenap warna, hujan dan terang,
membuatku teduh meski dalam peluh,
membasuh keluh,
menanam teguh,
dalam kehambaan yang patuh!
Membaca kisah matahari,
mengajariku untuk terus memberi![]
_M. Luthfi al-Anshori
Cairo, 26 Juni 2009, 02.16 AM.
Dicatat oleh: Sabdapena at 4:56 PM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Senyawaku; Debu!
Sunday, June 14, 2009Kupandangi tembok kampusku,
kuratapi papan tulisnya di ruang kelas,
berbaur warna dalam nuansa panjang sejarahnya.
Adhesi atom-molekul-senyawa
menempel, merekat, membalut benda-benda
yang jernih berubah buram,
yang buram semakin kelam,
kampus coklatku yang tak lekang.
Siklus keberputaran dalam rinai perubahan
setiap yang ada dari keberadaan adalah fana
tak tetap tak kekal dimakan usia
yang pasti adalah kepasrahan menanti
mematuhi rumus-rumus alam
berotasi bermetamorfosa di setiap jengkal nafas
menuju entah bentuk apa,
warna apa?
Di altar dunia
segala bentuk akan lebur,
segala warna akan hambur,
dalam bias atmosfer debu
senyawa segala yang ada,
termasuk diriku,
yang hidup dari debu,
dan mati menjadi debu!
Cairo, 06-06-09.
Dicatat oleh: Sabdapena at 7:14 AM 1 Komentar
Kategori: Puisi
Negeri Debu
Di negeri ini tak turun hujan
tak ada banjir yang menelan korban.
Negeri ini hamparan sahara,
namun sebongkah anugrah menghidupinya,
sungai Nil yang tak pernah kering.
Negeri ini tetap saja purba,
meski modernisasi menghegemoni dunia,
sebab peradaban apapun,
selalu bersentuhan dengan debu,
cerah menjadi gelap,
warna coklat,
abu-abu, kehitaman,
memeluki tembok rapat.
kesan tua memenuhi sudut-sudut kota.
Dan karena hujan debu pula,
bangsa ini semakin maju;
sebab, ia semakin tahu,
bahwa tercipta oleh debu,
kembali menuju debu!
Cairo, 04-05-09
Dicatat oleh: Sabdapena at 7:13 AM 0 Komentar
Kategori: Puisi
Debu dan Gerimis
Aku selalu merindukan gerimis
tapi masih saja debu yang menyapaku
Ohh, andai aku ingat
Adam dicipta dari unsur debu
Tak perlu lagi aku marah,
sebab aku dan debu sedarah!
Cairo, 04-05-09.
Dicatat oleh: Sabdapena at 6:45 AM 0 Komentar
Kategori: Puisi

