Ling-Lung!

Wednesday, November 26, 2008

kemarin
baru saja aku melihat
mahluk putih berpetuah
kepalaku manggut-manggut;
simbol sepakat.

lalu hari ini
tak ada lagi yang kulihat
hitam pekat
kepalaku geleng-geleng;
aku kembali tersesat.

dan, esok
aku tak tau,
kemana lagi kepalaku akan bergerak!

mataku, fikirku, hatiku
berharap sosok-sosok putih
pembawa madu!

datanglah
bicaralah
sesering
selalu!


Kairo, 27 November 2008

Baca Selanjutnya...!...

LIBURAN ?

Tuesday, November 25, 2008

Suatu ketika aku membaca sebuah tulisan
mengungkapkan kebahagiaan saat liburan,
kenikmatan yang membebaskan
untuk bercengkrama bersama alam
tak lagi disekat tembok-tembok bangunan.
Ya, di negeriku sekolah-sekolah jarang liburan,
kalaupun ada liburan tak sampai berbulan.

Sementara di sini,
di negeri yang saat ini kudiami
liburan berbulan-bulan,
dan ketika pintu-pintu perkuliahan sudah dibukakan
aku masih terus liburan
tak ada bedanya antara liburan dan tak liburan
rasanya sama saja
selalu membebaskan,
aku bebas berkeliaran bersama alam,
atau hanya berdiam
sambil membaca tulisan-tulisan.

Di negeriku sedikit liburan,
masuk sekolah setiap pagi hingga petang,
namun kenapa masih banyak kebodohan??
Mungkin karena orang sepertiku selalu liburan!?

Kairo, 25 November 2008

Baca Selanjutnya...!...

Angka Takdir

Saturday, November 22, 2008

Dahulu aku menganggap angka-angka
adalah simbol belaka.
Kemudian aku berpindah anggapan
ketika angka melambangkan harapan.

Angka 15,
nomer absenku ketika kelas 3 SMA
aku anggap keramat karena cinta.
Ya, sebab di kelas sebelah
ada seorang siswi bernomor absen sama,
aku mengaguminya,
sebatas pemuja rahasia.

Hingga saatnya tiba,
aku benar percaya
angka-angka takdir
bertebaran di semak-belukar dunia
mencari siapa saja
memberi sial, atau bahagia?

Kairo, 22 November 2008

Baca Selanjutnya...!...

Mushaf-Mushaf Berdebu

Monday, November 17, 2008


(1)
Di negeri pasir
angin sering berdesir.

Di negeri gurun
hujan jarang turun.

Karena angin mendesir
dan hujang mengering,
pasir-pasir hambur,
lembut dan tipis serupa debu.

Di negeri para nabi
isi-isi Mushaf dihafal,
dibaca di mana saja,
di bis-bis, angkutan kota, hingga kereta tua.

Namun di kamarku
di sebuah flat sederhana negeri menara seribu
kujumpai Mushaf-Mushaf berdebu
menatapku sinis, membuatku malu!

"Kenapa kau tak menyentuhku? Apalagi membacaku!"[]

Kairo, 16 November 2008
.............................

(2)
Aku melihat kaum Muslim bertengkar
bukan gara-gara harta maupun tahta
mereka berselisih tentang sumber agama
satu sisi al-Qur'an dibela sekaligus dipuja
di sisi lain ada yang meragukan keasliannya
namun anehnya, mereka tak mendekat,
tak menyelam, justru memilih berdiri di luar
di sebuah tempat yang mereka elukan
sebagai titik obyektivitas
karena dengan demikian mereka baru bisa berfikir jernih
aman dari tendensi kiri dan kanan.
mereka berlomba mencari titik kelemahan
mencibir agamanya sendiri
sementara Mushaf-Mushaf yang mereka beli,
hanya menjadi pajangan kebanggaan
yang lambat laun akan usang
dimakan debu yang garang.[]

Kairo, 17 November 2008.

Baca Selanjutnya...!...

RITUAL PECINTA GAGAL ?

Sunday, November 16, 2008


Sudah dua minggu lebih aku menjalani ritual ini. Sebuah ritual yang kujalani sendiri, diam-diam, tak diketahui orang lain di sekelilingku. Aku memang tak mau mereka tahu. Aku tak mau mereka tahu kalo aku sedang sedih. Sebab jika mereka tahu aku sedih mereka juga akan turut bersedih, minimal mereka tak nyaman menyaksikanku yang sedang terpuruk. Aku baru benar-benar merasakan bahwa kekuatan cinta tak hanya berpotensi membangun, tapi juga menghancurkan. Jika selama kurang lebih 3 tahun aku merasakan kekuatan cinta yang membangun, menopang dan menguatkan, kini aku merasakan cinta berbalik menyerang, mendobrak dan menghancurkanku berkeping-keping.

Pada awalnya aku berdalih bahwa ritual semacam ini bersifat normal. Yaitu sebagaimana yang dialami banyak orang ketika sedang patah hati. Oleh sebab itu, lagi-lagi waktu dua minggu ini aku tempuh dalam keadaan gontai. Jalanku tak tentu arah, bagai orang linglung, meskipun linglungku ini tak separah linglung seorang temanku ketika diputus oleh pacarnya. Namun secara jujur aku mengakui dan menyadari bahwa dalam tenggat waktu dua minggu ini ada perubahan psikis dalam diriku. Semacam rasa marah, rasa tak terima, meskipun pada waktu yang sama ada suara lain yang membisiku untuk bersikap dewasa dan menerima realita.

Waktu berjalan, terus berjalan tanpa henti. Aku masih belum tegak. Masih gontai, meskipun sedikit demi sedikit aku mencoba berdiri, menatap mentari yang selalu tersenyum di pagi hari. Membuatku malu. Mendorongku tuk terus berpacu. Aku tak boleh kalah hanya karena “cinta”. Oh, fikirku terus menerobos ke alam-alam yang masih begitu asing, mencoba mencari jawaban dan ketetapan. Siapa tahu hatiku bisa memperoleh tenang, menerima segala coba’an dengan segenap keridho’an.

Sesekali aku menangis, memang. Hanya dalam hati, tak sampai menitikkan air mata. Aku malu. Terutama pada Tuhanku. Sebab ketika berdosa saja aku tak menangis, bagaimana hanya karena cinta aku menangis. Memalukan! Aku mengutuki diriku sendiri. Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa tersadar dan segera kembali ke alam yang terang. Ya, aku harus segera keluar dari kubangan ini. Sebuah lembah suram yang kubuat sendiri. Aku harus kembali berdiri, berlari mengejar mimpi. Mimpiku, mimpi kedua orang tuaku, mimpi kakek-nenekku, mimpi saudara-saudaraku.

Lalu akupun tersadar, bahwa menyembah sesuatu yang sementara pasti umurnya juga sementara. Akupun tersadar, bahwa cinta yang hakiki adalah cinta Sang Maha Pecinta. Ialah Tuhan yang akan selalu menerima cinta hamba-Nya dengan balasan cinta pula. Berbeda dengan manusia, yang tak jarang membalas cinta dengan benci, membalas sayang dengan ancaman dan membalas ketulusan dengan tuduhan. Aku menjadi semakin yakin, bahwa konsekuensi dari kesementaraan adalah kefanaan. Maka jika kita terlalu mementingkan dan memuja hal-hal yang sementara, niscaya ia hanya bersifat sementara. Ah, cinta manusia, bukankah itu hanya sementara? Akupun belum tahu, masihkah rasa cinta manusia di dunia kepada sesamanya akan terus terbawa hingga ke sorga?

Kini, aku hanya bisa berdo’a sembari berniat, semoga ke depan aku tak lagi tersesat di lorong cinta. Semoga aku bisa menjadikan episode ini sebagai pelajaran terbaik guna meretas hari esok. Semoga aku mampu menjalani hidup ini dengan cinta dan kasih sayang. Aku tak akan kapok untuk jatuh cinta lagi, dan aku tak akan takut terjatuh kembali. Sebab semuanya hanya misteri ilahi yang harus dijalani. Namun, semoga aku tak mengalami patah hati lagi. Sebab rasanya sakit tak terperi. Meski itu akan hilang bersama hari, namun bekas lukanya akan tetap ada. Walau sudah kering.[]

Cairo, Awal Musim Dingin, 16 November 2008.

Baca Selanjutnya...!...

Engkaukah Sang Musim, Potret Pilu Hatiku?

Friday, October 31, 2008


Sekilas, jika kugambarkan iklim di Mesir dalam setahun ini (akhir 2007-sekarang), bisa kuungkapkan dalam beberapa kalimat berikut: musim dingin berlalu di Januari, konon dingin sekali -> dilanjutkan musim semi yang tak kunjung bersemi -> lalu segera diterjang panas, garang sekali, di akhir Mei-Juni -> Muncullah musim gugur, di mana bunga-bunga layu, dedaunan berjatuhan, berserakan di sepanjang September-Oktober -> Lalu datanglah kembali musim dingin, yaitu kali ini, di awal November, belum begitu beku, namun aura hening, gelap dan pekat sering menyergap bumi. Dan dalam kegelapan, segala yang buruk mulai terjadi!

Membayangkan perjalanan iklim setahun ini, aku seakan mendapati diriku dalam ketidak-nyamanan. Bagaimana tidak? Coba sekarang aku analogikan kondisi diriku dengan kondisi iklim di atas...

Pertama, pada puncak musim dingin yang lalu, tepatnya di sepanjang bulan Desember-Januari yang notabenenya adalah waktu-waktu ujian termin pertama, justru angka kejahatan meningkat. Parahnya, kebanyakan korban adalah dari kalangan mahasiswa asing, khususnya Indonesia. Nah, dalam situasi seperti ini, tentunya kondisi psikologis kita sedikit banyak terganggu, sehingga kurang bisa maksimal dalam belajar.

Kedua, ketika musim semi semestinya datang, namun pada kenyataannya ia tak kunjung datang. Tak ada bebungaan yang bermekaran di pinggiran jalan. Bahkan, pohon yang ada di belakang flat tempatku tinggal tak kunjung berbunga. Padahal biasanya setiap tahun ia selalu memunculkan bunga di pucuk-pucuk rantingnya. Perasaan tak nyamanku karena aku merasa malu pada adik-adik kelasku. Sebab ketika masih di musim semi, aku bercerita kepada mereka menggambarkan suasana musim semi yang asri. Namun pada kenyataannya, ceritaku itu tidak terbukti. Biasa saja, tak ada yang istimewa di musim semi.

Di samping itu, tak munculnya bebungaan di musim semi tenyata juga mengisyaratkan kondisi hatiku yang tak jua mekar. Seakan ia kehilangan gairah, meskipun tidak secara total, namun setidaknya ia menjadi lemah. Ada sepercik cahaya yang hilang darinya. Cinta! kemanakah ia??

Ketiga, tatkala musim panas dengan begitu garang menindas musim semi, akupun bagai musim semi yang tertindas itu. Seharusnya aku bersemi setelah usai masa ujian termin pertama, namun kenyataannya hatiku ditindas perasaan tak berdaya. Menghadapi ganasnya cinta yang menyiksa. Aku dihujam panas yang mendera. Seakan hatiku menganga seperti tanah di negeriku kala diterkam kemarau. Aku terbakar, oleh sebuncah amarah, egoisme buta, perasaan tidak menerima, akan semua episode yang harus kujalani kala itu. Oh, dosa apa wahai cinta...

Dan keempat, hadir musim gugur yang disambut kembali oleh dingin yang sekat. Kali ini hatiku benar-benar gugur. Setidaknya untuk saat ini, tatkala kudengar, bahwa sepercik cahaya cinta benar-benar telah meninggalkanku. Di sini, aku tersekat dalam sunyi, berkawan dedaunan kering yang berjatuhan ke bumi. Entah aku hanya akan hilang diterpa angin, melayang, terombang-ambing hingga akhirnya lenyap, atau aku akan terpendam di perut bumi? Menjadi pupuk yang kan menumbuhkan tunas baru nan subur!

Arrrghhh... aku sedang tak ingin memikirkan bagaimana aku nanti! Yang jelas sementara ini aku ingin menikmati sepi, dalam penderitaan hati yang kubuat sendiri. Yaitu ketika mendengar suara bidadari, sama saja menyiram garam dalam luka hati. Sebab itu semua hanya mimpi, dan bidadari itu kini telah pergi dari alam mimpiku. Ia hanya akan menjadi mimpi. Indah, namun kemudian meninggalkan perih di hati. Perih seperti tawa yang menyimpan tangis!

Kini musim dingin semakin bertahta. Sebagaimana tahun sebelumnya, kejahatan demi kejahatan kembali terjadi. Gelap, pekat dan sekat. Ada yang jahat, ada yang laknat, ada yang tersekat. Aku, kamu dan mereka tersekat dalam bilik-bilik flat. Takut menghadapi senyap, ngeri menerobos gelap! Ada orang-orang gelap yang siap merampas hak kita!

Dan, di musim dingin ini, air mataku tak padat maupun beku. Justru ia sering meleleh keluar meninggalkan kelopak. Aku tak tahu. Mungkin ia keluar mengiring kepergian cinta yang kupuja. Mungkin ia meleleh bersama perpindahan bidadari ke alam mimpi lain. Atau justru ia menjelma ke alam nyata, sebagai bidadari lain, yang kan menghiburku di kala duka. Ah,... rasanya tak mungkin. Sejak kapan air mata menjelma bidadari? yang ada ia justru dititah menjadi magma!

Wahai,...
engkaukah sang musim,
yang begitu setia menemani perjalananku; dalam dinginmu aku tersekat beku, dalam semimu yang tak bersemi aku mulai layu, dalam panasmu aku terbakar lebur, dalam gugurmu akupun bak dedaunan berjatuhan dan dalam dinginmu lagi aku semakin pilu.

Maka untuk segenap rasa itu,
aku pasrahkan kembali kepada-Mu,
juga kepada musim tahun ini,
semoga yang dingin tak menyebabkan beku, yang semi betul-betul bersemi, yang panas tak membakar ganas, yang gugur satu kan tumbuh tunas seribu dan yang dingin tak lagi menyebabkan pilu!

Kairo, 1 November 2008, at: 2.45, dini hari yang sendu.

Baca Selanjutnya...!...

Senandung Gerimis

Saturday, October 25, 2008


Kala Hujan Mengisahkan Kerinduan
Cathar: Jum’at, 24 Oktober 2008/24 Syawal 1429

[Bawwabah 2, Pukul 10.00 CLT.]
Aku terbangun ketika ponselku berdering. Aku amati layarnya, yang tertangkap olehku adalah nomer baru yang asing. Tak berpikir panjang, langsung kuangkat…

“Halo!”
“Halo!”
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam…”
“Dik, ini saya mau kirim uangnya tapi saya masih ragu nama adik pake ‘o’ atau ‘u’, soalnya takut salah, nanti tidak bisa diambil!?”
“Oh, pake ‘o’ Mbak, Mohammad!”
“Baik, terimakasih! Wassalam…”
“Wa’alaikum salam…”


Percakapan via telpon yang singkat. Antara aku dan Mbak Hartati yang ada di Yunani. Selanjutnya aku menuju kamar mandi dan cuci muka. Aku kembali ke kamar tempat aku tidur tadi, Studio NUR Radio Mesir, lalu kuhampiri komputer yang sudah hidup. Aku membuka YM dan Email. Kubaca offline message yang masuk dan beberapa postingan di Millist. Lalu datang seorang teman, namanya Adon. Dia bertanya bagaimana memasang radar untuk mendeteksi lokasi pengunjung di blog. Aku mencoba membantunya semampuku. Tak terasa sudah setengah dua belas. Itu tandanya Sholat Jum’at segera dimulai. Aku minta izin untuk pulang ke rumah.

[Musallats, Pukul 11.45 CLT.]
Meskipun jarak antara Studio NUR Radio dan rumahku tak begitu jauh, namun jalanan yang akan kulalui pasti macet. Sebab setiap hari Jum’at ada pasar mobil yang selalu menyebabkan kemacetan.

Sesampai di rumah aku mendapati sepi. Kawan-kawan telah pergi ke masjid. Masih ada 3 kawan yang tersisa, namun mereka juga telah siap untuk berangkat. Ternyata tidak, hanya 2 orang yang benar-benar berangkat. Sementara yang satu masih berada di rumah, dia Makhasin. Mungkin karena dia sedang sakit, sehingga memilih mendengarkan khutbah dari kamar, karena jarak rumah dengan masjid cukup dekat. Dia memang perlu banyak istirahat. Entah ia sedang sakit apa(?), yang jelas dia terpuruk dan meringkuk tak begitu berdaya seperti biasanya. Ketika itu tinggal kita berdua yang tersisa di rumah.

Sejak aku terbangun tadi, aku memang telah merasakan cuaca hari ini yang mendung. Langit gelap. Terbukti, beberapa saat setelah aku sampai di rumah, gerimispun berjatuhan dari langit kelam. Spontan bibirku tersenyum gembira, hatiku bahagia, entah kenapa? Aku sedikit berteriak kepada Makhasin, “Sin, Hujan, Sin! Jarang-jarang kita menemui hujan di sini!”. Sementara Makhasin tak menunjukkan respon yang seimbang. Aku maklumi, dia lagi sakit. “Eh, bukannya di jemuran ada baju?! Aku ambilin ah, kasihan nanti kalo habis dijemur dan hampir kering tapi basah lagi!”

Tak lama kemudian gerimispun reda. Aku masih di rumah menemani Makhasin yang ragu apakah dia akan berangkat ke Masjid atau tidak, mengingat kesehatannya yang kurang baik. Hingga melewati khutbah kedua, dan akhirnya ia memutuskan dan memberanikan diri untuk berangkat. Bismillah, La Haula…!

[Musallats, Pukul 13.00 CLT.]
Sholat Jum’at usai dan gerimis makin reda. Bahkan bertambah menit, matahari kembali menampakkan sinarnya. Dunia kembali terang, bahkan aku merasakan kembali hawa panasnya. Tak hanya itu, udarapun terasa pengap akibat gerimis yang turun tak seberapa, sehingga ia justru hanya menerbangkan debu yang sebelumnya bertumpuk tebal di atas jejalanan, menyatu dengan udara. Itulah pula yang dikeluhkan Makhasin ketika kami berjalan pulang dari Masjid. “Ah, aku ngerasa nggak enak dengan udaranya. Kalo cuma gerimis justru jadi pengap dan bikin sesak dada!” katanya mengeluhkan udara.

Sesampai di rumah aku mendapati Ajib yang sedang Chatting menggunakan komputerku. Ia selesai sholat Jum’at lebih dulu, sebab ia mimilih masjid yang satunya lagi, lebih cepat. Aku biarkan ia sembari menyantap Tho’miyah bil Beidh yang dibeli Fandi. Katanya itu hadiah untukku sebagai imbalan jasa karena telah menyelamatkan bajunya dari rintikan gerimis. Setelah Ajib usai, aku segera menggunakan komputerku dan kubukalah YM. Tiba-tiba kawanku Ari nge-buzz. Aku cukup kaget, lalu kutanyai dia:
“Ada apa?”
Gak ada apa-apa!” jawabnya datar.
“Tapi kok kayae ada hal penting gitu!?” selidikku.
“hehe,… pokoknya hari ini aku lagi seneng banget. Biarlah orang mau bilang apa. Mau bilang aku seperti anak kecil juga terserah. Yang jelas hari ini aku bahagia!”
“hem…” jawabku singkat, sambil berfikir ada apakah gerangan yang terjadi.
“Eh, Thing,… keluar yuuk!” ajaknya.
“Kemana?” tanyaku.
“Terserah deh kemana aja!” pasrahnya.
“Heh, gak mau ahh… kemana dulu, tujuannya harus jelas!” desakku.
“Udah deh, masalah kita mau kemana kita tentukan saja ntar, yang penting sekarang aku langsung turun dan menuju rumahmu!” jawabnya diplomatis.

Beberapa menit kemudian Ari sampai ke rumahku. Aku tawarkan kepadanya gimana kalau pergi ke Abbas el-Akkad saja, menemaniku mengambil uang. Ternyata ia setuju karena kebetulan ia juga mau mengambil uang di ATM.

[Mutsallas, Pukul 14.00 CLT.]
Sebelum pergi, aku menanyakan ke Ari apakah dia tau tempat kantor Western Union (WU), atau setidaknya tempat mana sajalah yang menyediakan layanan WU. Ari berinisiatif mencari alamat-alamat agen WU di Cairo melalui google. Setelah searching beberapa saat akhirnya ketemu juga. Ada beberapa lokasi, namun kita memilih yang lebih dekat, yaitu Abbas el-Akkad, sebagaimana yang sudah kuduga sebelumnya. Ternyata tepat sekali tadi aku mengajak Ari ke Abbas, karena ternyata salah satu agen WU memang bertempat di sana.

Sebelum pergi, Ari membuka sebuah Friendster, memberitahuku tentang profil dan foto seseorang yang ada di sana. Oh, aku cukup terhenyak, sebab yang ditunjukkannya adalah dia, pujaan hatinya. “Oh, akhirnya terobatilah sudah sedikit kerinduanmu padanya!” gumamku dalam hati.

Aku dan Ari akhirnya keluar rumah. Saat itu cuaca masih terlihat panas. Ari saja menggunakan kaos oblong lengan pendek biasa. Aku menggunakan kaos panjang rangkap kaos pendek. Meskipun panas, tapi aku takut masuk angin. Kami menuju halte yang terletak tidak jauh dari rumah. Menuggu bus sekitar 10 menit dan akhirnya datanglah. Kami naik bus dan ternyata ia tidak melaju melewati jalur sebagaimana mestinya karena takut terjebak macet. Tak apalah, yang penting bus yang kami tumpangi tidak melewatkan jalur yang kami tuju. Baru melaju beberapa saat, tatkala langit kembali terlihat suram, Ari pun mulai membuka pembicaraan. Ia bercerita tentang kebahagiaan yang ia rasakan pagi tadi karena seakan ia kembali mendapatkan harapan. Bagai tertimpa durian. Gersang yang sebelumnya ia rasakan, kini seakan bak diguyur air hujan, bukan hanya gerimis seperti yang baru saja terjadi. Harapan akan cintanya yang telah sekian lama terpendam, kini sedikit memperoleh cahaya terang, sebagaimana langit yang kembali cerah siang ini. Ia bercerita bahwa pagi tadi ia berjumpa dengannya, gadis impiannya, meskipun hanya via Chatting.

Selama perjalanan, wajahnya tampak begitu berseri. Sungguh telah lama aku tak mendapatinya sebahagia hari ini. Akupun turut senang melihatnya bahagia, meskipun hatiku juga khawatir, akankah kebahagiaannya akan terus berlanjut. Ataukah ini hanya kebahagiaan sesaat. Ah, tapi tak apalah, toh dia juga menyadari hal itu, bahwa belum tentu kebahagiaannya itu akan terus berlanjut, tapi setidaknya, baginya, hari itu merupakan salah satu episode terindah dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama tak berkomunikasi satu sama lain, akhirnya pagi tadi ia menemukannya, meskipun hanya melalui alam maya. Tapi setidaknya ia puas karena bisa melihat wajahnya melalui webcam dan bisa mendengar suaranya melalui headset. Oh, kerinduannya terobati.

Ari betul-betul terlihat gembira. Hal itu terbukti ketika ia merespon perkataanku: “Wah, siang ini langit begitu gelap, debu dan sampah berhamburan ditiup angin berkawan debu. Udaranya juga semakin dingin!” dengan ungkapannya: “Ah,… mungkin hal itu disebabkan karena sang mentari saat ini berada di hatiku. Jadi meskipun dunia gelap, tapi hatiku terasa begitu terang. Dan meskipun angin begitu dingin nan liar, tapi aku tetap merasakan kehangatan dalam hatiku!” sahutnya melankolis. Aku semakin heran, anak ini jadi seperti anak kecil, atau bahkan seperti orang gila? Memang, power of love!

[Abbas el-Akkad, 14.40 CLT.]
Sekitar 30 menit kemudian, ketika kami hampir sampai di tempat tujuan, hujan deras justru datang. Kami turun dari bus sambil berlari menuju pinggiran sebuah apartemen untuk berteduh. Di pinggiran apartemen itu kami kembali melanjutkan cerita sembari menunggu hujan reda. Kali ini memang lebih deras dan lama, tidak seperti tadi yang hanya gerimis dan singkat. Kami bercerita ke sana ke mari. Mengingat masa-masa di SMA. Apalagi aku, setiap kali hujan turun, aku seakan terseret ke masa lalu, mengingat sebuah kenangan manis bersama seseorang yang aku cintai.

Hujan sedikit reda, meskipun tak sepenuhnya, dan kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju ATM City Bank yang berada di seberang jalan. Konsekuensinya kami harus menyebrang, dalam kondisi jalan yang digenangi air dan lalu lalang mobil yang tak kunjung lengang. Ah, kami terjebak oleh genangan air. Rasanya seperti sedang tersesat di sebuah pulau kecil di kelilingi samudra. Jika nekat menyebrang, ada kemungkinan sepatu kami akan basah. Kami mencari alternatif jalan yang tidak digenangi air, namun syaratnya agak muter dan sedikit jauh. Tak apalah, yang penting aman. Namun ketika menyebrang dan sampai di tengah jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang dan seketika genangan air itu terpercik, membasahi sebagian sisi celana dan sepatuku. Ughh… rasanya ingin aku keluarkan kata umpatan kepada sopir mobil itu yang tak mau menyetir pelan. Sungguh tak berperasaan! Namun tak ada gunanya karena ia telah jauh. Sabar!

Kemudian kami bergegas menuju ATM. Ari mesuk ke dalam mengambil uang dan aku menunggunya di luar sambil bertanya kepada satpam. “Permisi, numpang tanya, apakah anda tau di mana letak jalan Mohamed Husein Haikal?” Dia menggelengkan kepala lalu menanyakan petugas yang ada di Kantor City Bank.
Petugas itu menghampiriku lalu aku bertanya kepadanya, “Aku mencari jalan Mohamed Husei Haikal!”
“Oh, kamu tau rumah makan GAD yang ada di sisi jalan sebrang sana?” tanyanya.
“Iya, saya tau!” jawabku berseri.
“Nah, nanti sebelum GAD ada gang masuk, kamu masuki saja gang itu lalu belok kiri di tikungan pertama. Itulah jalan Mohamed Husein Haikal!” jelasnya mantab.
“OK, syukron!

Setelah beres mengambil uang di ATM, kami bergegas menuju jalan Mohamed Husain Haikal sesuai petunjuk sang petugas. Ternyata ia benar, baru memasuki gang lalu belok kiri, lamat-lamat aku telah melihat lambang Western Union, tempatku mengambil uang. Akhirnya sampailah kami di kantor WU.

“Ah, sudah jam tiga lebih lima, Ri. Berarti sudah buka! Ada untungnya juga tadi hujan lalu kita berteduh, sehingga kita samapi di WU pas ketika ia telah buka!”
“Iya, berarti emang ada baiknya juga!”

Pertamanya aku agak canggung. Namun dengan gaya sok mantab aku masuk ruangan sembari melirik kiri-kanan, mempelajari kondisi yang ada di sana. Oh,… untuk mengambil uang aku harus mengisi sebuah kertas khusus yang disediakan untuk pengambilan. Aku isikan data yang diminta, lalu aku sodorkan ke petugas. Tak lama kemudian, uang pun bisa cair. Alhamdulillah!

Kami berdua pergi meninggalkan kantor WU, kembali ke tempat semula di mana kami berteduh dari hujan. Di situ kami berunding, perihal mau melanjutkan perjalanan ke mana. Mengingat kondisi baju kami yang basah sehingga tidak nyaman, kami memutuskan untuk pulang saja. Dan, konsekuensinya kami harus kembali menyebrang dan menghindari genangan air sebagaimana yang kami lakukan tadi ketika hendak menuju ke kantor City Bank. Ah, semoga aku tidak terkena cipratan air hujan lagi akibat ditekan ban mobil yang melaju kencang.

Kini, jalanan sedikit sepi. Terutama sepi dari kendaraan angkutan umum. Kami berteduh di halte bus agar tidak kejatuhan rintikan hujan yang tinggal gerimis. Kami hanya berdua. Kemudian datang seorang pemuda Mesir, bergabung dengan kami untuk berteduh. Di halte itu, aku menulis sms untuk seseorang yang dahulu pernah menorehkan kenangan manis di hatiku tentang hujan. “hei, lg ngapain?km gak pnya plsa ya?aku lg kehujanan berdua nih sama Ari.Bertduh disebuah halte!” Kukirimkan. Tak langsung dijawab. Baru setelah aku menaiki sebuah angkot, ada sms balasan datang. Aku tersenyum, dan bahagia menyertai kami berdua sepanjang perjalanan.[]


Kampus Biru-Kairo, 24 Oktober 2008

Baca Selanjutnya...!...

Karenamu, Sahabatku!

Thursday, October 09, 2008


[Teruntuk ARa]

Jikalau saja aku bisa terbang,
akan kuterbang ke negerimu tuk mengucap salam.

Jikalau aku bisa menghilang,
akan kumenghilang saat ini juga dari negeriku mencarimu,
tuk mengikat persahabatan.

Jikalau saja aku seekor burung,
akan kutemanimu setiap saat dengan kicauan-kicauan merdu,
agar kau tak kesepian.

Jikalau aku serupa malaikat,
Akan kuiring setiap langkahmu kemanapun kan menuju,
melindungimu dari setiap iblis yang mengganggu.

Jikalau aku berada satu dimensi ruang dan waktu denganmu,
tak hanya aku tuliskan puisi untukmu,
namun kan kubacakan,
kubisikkan lembut ke telingamu,
sembari kuartikan satu persatu bait-baitnya,
agar kau tak payah membacanya sendiri,
mentadabburinya sendiri,
mengartikannya sendiri.

Lalu, kau tersenyum haru!

Dan, jika kau bertanya:
kenapa harus jikalau?
kenapa aku harus berandai seperti itu?
Jawabku hanya satu:
Karenamu sahabatku!

Bagiku, sahabat adalah instrumen Tuhan,
yang menghibur dimana ada luka-luka hati,
menebar keyakinan dimana ada keraguan,
menyiram harap dalam gersangnya setiap keputus-asaan,
berbagi kebahagiaan dimana ada kesedihan,
dan memberi cahaya dalam setiap kegelapan.

Maka bagiku, sahabat menjadi unsur terpenting dalam menjaga kehidupan, kosmos dan semesta alam![]

Kairo, 5 Syawal 1429/5 Oktober 2008

Baca Selanjutnya...!...

Banyak Sarana Menuju Tuhan !


Yang ingin menulis-menulislah
yang ingin bermusik-bermusiklah
yang ingin menyanyi-menyanyilah
yang ingin melukis-melukislah
yang ingin menari-menarilah
yang ingin apa saja kerjakanlah!

Sebagaimana Robi'ah, Rumi, Walibah, hingga Dzunnun al-Mishri
Tak ada yang tabu,
tak ada yang salah untuk menuju sudut Yang Satu
Melalui jalan manapun
Asal kau tempuh dengan ruh;
bahwa yang tercatat adalah ilmu-Nya,
yang berirama adalah instrumen-Nya,
yang bersuara adalah anugrah-Nya,
yang terlukis adalah keindahan-Nya,
yang bergerak adalah kuasa-Nya,
Maka jika kau ingin apa, kerjakanlah,
asal kesemuanya bermuara lillahi ta'ala ![]

Kairo, 5 Syawal 1429/5 Oktober 2008
Dicatat di sela-sela acara Halal bi Halal Word Smart Center di Rumah Budaya Akar.

Baca Selanjutnya...!...

Antara di sini dan di sana ?


Di sini, orangorang saling bekenalan
mengeja kebersamaan dalam suasana lebaran.
Di sini, orangorang saling menautkan hati
mengikat nama serta berbagai data lainnya dalam ruang ingatan.

Namun di sana, di negeri antah berantah, aku melihat darah.
Di hari yang fitri kudapati orangorang mati,
karena bom bunuh diri.

Di Baghdad, beberapa saat setelah Takbir kemenangan dikumandangkan,
berpuluh nyawa melayang![]

Kairo, 5 Syawal 1429/5 Oktober 2008
Dicatat di sela-sela acara Halal bi Halal Word Smart Center di Rumah Budaya Akar.

Baca Selanjutnya...!...

Teruntuk Yang Maha Suci!

Wednesday, October 01, 2008


Benarkah ada hari yang suci?
dimana noda terhapuslah sudah!
Benarkah ada yang kembali fitri?
dimana noktah tak lagi mengotori!

Sebab manusia bukan mahluk statis sebagaimana iblis dan malaikat;
ia labil,
mudah goyah,
terpelanting ke sana kemari,
sulit menggapai tegak,
berat menapak tetap.

Maka, apakah masih ada yang bisa mencapai suci?
di sebuah hari yang dianggap suci,
disifati putih karena terlahir kembali:
idul fitri!

Bagiku, rahmat-Mu teramat lapang,
Maaf-Mu terlampau luas,
Cahya-Mu, menerangi sepenjuru alam,
namun manusia tetap Kau titipi nafsu,
yang menggoda hati untuk diajak bersekutu,
menyekutu-Mu dengan berhala-berhala kecil yang kerdil.

Duh, Gusti,...
Mampukah manusia kembali suci?
sementara hati terus terkotori,
meski hanya syirik khofi,
terlintas kilat lalui alam sadar,
tak terasa, meski ia ada.
Bukankah itu juga noda!

Teruntuk-Mu, Gusti,...
yang kuakui Dzat Maha Suci,
meski manusia tak pernah suci,
titipkanlah niat untuk slalu bersuci,
menuju hari pertemuan suci,
di tempat suci
sorga abadi
antara sang abdi dan Sang Maha Suci![]

Cairo, 29 Ramadhan 1429/29 Spet 2008.
Di Pagi hening bertabur embun.

Baca Selanjutnya...!...

Yang Pergi, Yang Kembali!


Wahai,...
apa hendak dikata tatkala hari... pergi?
"Selamat tinggal!", entah dengan bangga, atau sesal!

Wahai,...
apa hendak diucap tatkala esok... kembali?
"Selamat datang!", entah akan dikerjakan, atau hanya diam!

Wahai,...
apakah yang tersisa jika yang pergi tak kan pernah kembali?
"Kesan dan kenangan!", entah dipuja, atau dihina!

Hari-hari dunia,
lembar prasasti manusia,
apa yang tercatat,
itulah yang dihisab![]

Cairo, 29 Ramadhan 1429/29 Sept 2008
Di Pagi hening bertabur embun.

Baca Selanjutnya...!...

Koridor Cinta?!

Entah aku sengaja ingin masuk
atau dipersilahkan masuk,
kini kuberada di sebuah lorong,
koridor cinta;
sebentuk ruang,
bilik-bilik,
tersekat,
namun lapang.
Tak gelap,
begitu terang!

Seperti tabung,
bervolume
berdiameter
terbatas.
Berisi kasih
tertuang sayang.

Ada dua pintu,
di kiri dan di kanan;
yang kanan dibuka, lebar!
yang kiri ditutup, rapat!
tak ada celah polusi
tak ada lubang.
Berlapis putih
terjaga
pasukan langit,
syeitan tak berkutik.

Koridor cinta;
sebentuk ruang,
penuh kasih sayang,
kebijaksanaan,
ampunan,
keselamatan,
bagi hamba yang beriman: RAMADHAN![]

Cairo, 29 Ramadhan 1429/29 Sept 2008
Di Pagi hening bertabur embun.

Baca Selanjutnya...!...

A.P.O.L.O.G.I

Saturday, September 27, 2008


Kenapa tak sembahyang?
Kenapa tak baca Qur'an?
Kenapa tak sedakah?
Kenapa tak kau jemput berkah?

Oh, Aku sibuk, Tuhan!

Ah, lebih sibuk mana kamu dengan-Ku?
itu hanya apologimu!
yang benar adalah: kamu pecundang!
tak lebih dari sampah!
Bilang saja kalau malas beribadah,
tak perlu berkelah kau sibuk memikirkan ummah!

Oh, ampuni hamba, Tuhan!
Aku abdi yang lemah!

Ah, kamu lagi-lagi membantah!
Bertaubatlah!!!

Oh, Astaghfirullah![]


Cairo, 27 Ramadhan 1429/27 sept 2008.

Baca Selanjutnya...!...

Malam Seribu Bulan

Thursday, September 25, 2008


Duhai malam;
yang gelap jadilah teduh
yang terang agar tak silaukan.

Malam;
Pekat
Noda
Dosa.

Malam, gelap, pekat, noda, dosa!

Rembulan tak cukup kuat
malam tetap remang
temaram menyuguh hening, tunduk!

Rembulan tak cukup kuat
malam tetap remang
temaram menyuguh hening, tunduk!

Adakah malam terang?
Adakah malam benderang?
Meski langit bersih tanpa gemintang!
Namun ia putih?
Oh...malam!

Sepoi angin membelai mesra
tak panas, tak dingin
namun sejuk membasuh gersang!

Oh, ternyata engkau tak hanya malam!
Namun engkaulah "Raja Malam",
satu-mu sebanding seribu!

Dan,
tak ada pekat,
hilanglah gelap,
bersihlah noda,
terbebas dosa.
Engkaulah malam seribu bulan,
kado indah dari Tuhan.[]

Cairo, 25 Ramadhan 1429/25 Sept 2008.

Baca Selanjutnya...!...

Membisu, Terkepung Malu!

Wednesday, September 24, 2008


Terdiamku di lorong sepi
terkepung malu ratapi diri.
Oh,.. maha bodohnya!
Kulewatkan begitu saja;
bazar rahmat-Mu,
obral ampunan-Mu,
dan, bonus sorga-Mu?

Oh,.. aku celaka!
Oh,.. aku kecolongan!
Ramadhan-Mu hampir pergi,
akankah bisa bertemu lagi?

Tuhan,..
ya Ampun, hamba pendosa tak tau diri!

Kairo, 25 Ramadhan 1429/22 Sept 2008


Pic: taken from http://verafun.multiply.com/journal?&page_start=20

Baca Selanjutnya...!...

Si Bisu (1)

Cerpen by: Sabdapena

Di kampung kelahiranku hanya dia satu-satunya yang bisu. Usianya hampir seumuran denganku. Kini, aku sudah 20 tahun dan kuliah di Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir. Sejak di bangku Madrasah Ibtida’iyyah (MI) ia sempat menjadi teman sekelasku. Walaupun bisu, ia seakan tak menghiraukan kebisuannya. Ia tetap bersikeras untuk ikut sekolah sebagaimana teman-teman sebayanya. Namun apalah daya? Karena kebisuannya itu, ia terpaksa harus putus sekolah ketika masih di bangku kelas 1 MI. Bagaimana tidak!? Ternyata bisu yang ia derita adalah pengaruh tulinya sejak lahir. Ia bukan bisu suara. Namun hanya bisu aksara dan bahasa, karena sejak lahir ia tak bisa mendengar dan menyerap bahasa manusia di sekitarnya. Tentu saja proses transformasi ilmu dari para guru tidak bisa ia terima. Hanya sia-sia ia meminta tanpa pernah menerimanya. Bahkan ditolak mentah-mentah oleh telinganya sendiri.

Putus sekolah bukan berarti kelana pencarian ilmunya berhenti sampai di situ. Selanjutnya, oleh kedua orang tuanya yang terhitung hanya seorang petani dan buruh bangunan, ia disekolahkan di SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa) yang berlokasi di kota. Ia rajin sekolah, masuk kelas dan mencoba mendengarkan. SA’ID. Begitulah nama singkat yang diberikan kedua orang tuanya. Memang singkat, namun mengandung makna besar yang terkadang sulit didapatkan dalam kehidupan. “Orang yang bahagia”.

*** ***

Aku jadi teringat sebuah pertanyaan yang diberikan oleh guru bahasa Inggrisku waktu SMA: “what is the important thing in this world?”. Teman-temanku kala itu menjawabnya dengan ungkapan yang berbeda-beda dan beranekaragam. Namun ternyata guruku telah menyiapkan sebuah jawaban untuk pertanyaannya tadi. “It’s happiness!” begitulah guruku menjawab pertanyaannya sendiri.

“Kebahagiaan”. Satu kata yang mudah diucapkan namun sulit didapatkan. Kebahagiaan bukan hak paten milik orang kaya. Kebahagiaan bukanlah jelmaan dari harta banyak yang bergelimang. Kebahagiaan tak mengenal kasta. Kesuksesan, karir, belum tentu menghadirkan bahagia. Ahh... ada dimanakah kebahagiaan? Mungkin saja ada di hati orang miskin. Mungkin saja hanya ada di jiwa para bayi dan anak-anak kecil yang bermain riang di taman kebebasan. Mungkin juga kebahagiaan itu ada di setiap sudut masjid, gereja, biara, wihara, kuil, atau bahkan ada di jalan tol?.

Entahlah...! Bahkan terkadang, Masjid justru hanya menjadi arena-arena pelarian untuk mengusung segenap duka nestapa yang sedang mendera. Atau mungkin ia hanya sarana untuk menggugurkan kewajiban, lalu sudah lancang mengharapkan balasan!?

Atau memang kebahagiaan itu dimiliki orang kaya? Kaya harta, kaya rasa, kaya hati dan kaya arti? Ughhh.... jangan-jangan kebahagiaan hanya ada di sorga. Sorga akheratkah? Bukankah itu masih sangat jauh!? Namun rasanya aku pernah mendengar ada seorang sufi bertutur pada muridnya, “Nak, ketahuilah bahwa sesungguhnya sorga dunia itu ada. Ia bisa saja terletak begitu jauh darimu. Namun jika kamu mau dan mampu, sorga kecil itu akan menjadi sangat dekat denganmu. Bahkan ada dalam dirimu. Dialah hatimu. Jika kamu mampu mengendalikan hatimu, mampu menstabilkan sistem kerjanya dan mampu untuk senantiasa merawat kebersihannya, kerapiannya, maka kamu akan menjadi orang terkaya di dunia. Kekayaan hati adalah kekayaan rasa. Maka dengan hati yang sehat, kamu akan hidup dengan sehat pula. Lain halnya dengan manusia yang sering sakit hati atau disakiti hatinya. Dan lain pula dengan orang-orang yang setia mengumpulkan duri sembari makan hati. Ohh... kebahagiaan mereka boleh dipertanyakan!”.

*** ***

Sa’id terpaksa harus putus sekolah lagi dari SDLB, sekolahnya yang baru dan lebih modern itu. Di sana setiap siswa mendapat fasilitas berupa alat bantu sesuai dengan kondisi fisik masing-masing. Sa’id sendiri, karena dia tuna rungu dan tuna wicara, pihak sekolah pertama kali melakukan proses tes terhadap alat pendengarannya. Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, tes itu telah dilaksanakan beberapa kali namun hasilnya nihil. Telinga Sa’id sudah sulit untuk ditolong. Dengan berat hati pihak menejemen sekolah menyatakan tidak sanggup untuk mendidik dan menerima Sa’id untuk tetap belajar di sekolah itu.

Akhirnya Sa’id kembali menjadi anak pengangguran. Ketika teman-teman sebayanya tengah belajar di sekolah masing-masing, ia hanya bisa bermain sendiri atau sesekali melihat teman-temannya di sekolah. Sungguh malang nasibnya. Meskipun demikian, ia bukan tipe anak yang mudah menyerah dan putus asa. Dari wajahnya terpancar sebuah cita-cita besar yang ingin diraihnya di kemudian hari.

Aku termasuk teman mainnya sejak kecil. Sehingga meskipun ia tuli dan bisu, aku masih bisa berkomunikasi dengannya melalui bahasa isyarat, yaitu dengan bahasa gerak tubuh. Kami, sekumpulan anak-anak yang sebaya dengannya di desa kami tidak pernah mengucilkannya karena cacat. Kami semua bisa menerimanya sebagai teman yang bisa diajak bermain bersama, bahkan berbagi cerita dan pengalaman menarik yang pernah kami punya.

Desa kami terhitung salah satu desa yang masih sangat kental nuansa religinya. Di banding desa-desa sekitar, desa kami termasuk yang paling syi’ar dalam hal keagamaan. Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Begitu pula para pemudanya, sebagian besar masih menjaga akhlak yang baik. Berbeda dengan desa-desa lainnya, yang telah banyak terkontaminasi dengan budaya-budaya jahili seperti judi, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.

Meskipun kecil dan tidak begitu luas, namun desa kami memiliki berbagai lembaga pendidikan, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtida’iyyah (MI), Madrasah Diniyyah (dilaksanakan sore hari), hingga Madrasah Tsanawiyyah (MTs) dan pondok pesantren. Desa kami bernama “Badeg”. Barangkali dahulu nama aslinya adalah “Badi’” yang mempunyai arti indah. Namun karena lidah orang Jawa yang mungkin agak sulit dan berat mengucap kalimat Arab, akhirnya berubah jadi “Badeg”. Mungkin dengan ditunjang berbagai lembaga pendidikan itulah desa kami menjadi salah satu desa percontohan dalam hal keagamaan.

Maka menurutku menjadi sebuah anugrah dan nikmat tersendiri karena Sa’id hidup di lingkungan yang baik. Sebab, sedangkal hematku, seseorang yang diuji dengan kekurangan semacam itu karakter dan sifatnya akan sangat ditentukan oleh lingkungan sekitar di mana ia tinggal. Karena Sa’id besar dan tumbuh di lingkungan yang religius, ia pun mempunyai karakter tersendiri sesuai kadarnya dalam bidang keagamaan. Salah satu contoh misalkan, meskipun ia tuli dan bisu, namun ia masih saja selalu mengikuti kegiatan mengaji al-Qur’an (tahsînul qirâ’ah) di masjid jami’ desa kami. Kebetulan guru ngajinya ayahku sendiri. Dan beliau dengan sabar membiarkan dan mengizinkan Sa’id untuk tetap ikut mengaji. Entah apa yang ia baca dan apa yang ia ucapkan, ayahku tetap mendengarkannya.

Suatu ketika, tanpa ada yang menyuruh, karena ia merasa waktu sholat Isya’ telah tiba, ia menyalakan pengeras suara masjid lalu mencoba melantunkan adzan. Sepontan orang-orang yang ada di masjid kaget. Ada yang marah, ada juga yang hanya tersenyum melihat kelakuan anak itu. Ia terkadang memang agak aneh. Keanehannya itu bukan karena ia gila, tapi keinginan dan persepsinya bahwa ia merasa seperti orang normal lainnya itulah yang membuatnya agak aneh. Ia sebenarnya cacat, tapi sesekali ia tak menghiraukan kekurangannya itu. Sehingga seakan-akan ia bebas melakukan apa saja seperti teman-teman yang lainnya.

*** ***

Di suatu siang, kala itu aku telah duduk di bangku kelas 5 MI, sungai di pinggiran desaku sedang banjir besar. Bahkan airnya hampir meluap ke area perumahan warga. Hal itu disebabkan karena beberapa hari sebelumnya hujan deras mengguyur desaku. Kebetulan rumahku terletak di ujung paling utara desa Badeg, tepat satu meter di samping masjid Jami’ Al-Falah. Tak tau juga dahulu bagaimana sejarahnya, sehingga rumahku begitu berdempetan dengan masjid.

Segerombolan orang datang dari arah selatan desa. Orang-orang itu adalah tetangga Sa’id. Mereka terlihat panik dan cemas. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, gerangan apakah yang terjadi. Karena sungai itu terletak beberapa meter di belakang rumahku, mereka bergegas menuju pinggiran sungai. Mata mereka menyisir dan memelototi aliran air deras sungai itu.

Ternyata Sa’id terbawa arus deras sungai ketika sedang buang hajat. Kata mereka siang itu ia bersama beberapa temannya sedang bermain di pinggiran sungai di belakang rumahnya. Si Sa’id buang hajat di pinggiran sungai yang cukup licin, sehingga ketika keseimbangan tubuhnya oleng, otomatis ia akan tergelincir dan terseret arus. Orang-orang semakin berteriak histeris ketika mereka tak mendapati tubuh Sa’id di antara gulungan air deras sungai.

Mereka menuju ke pinggiran sungai belakang rumahku sebenarnya bertujuan untuk mencegat Sa’id, siapa tau dia terdampar di situ. Sebab aliran sungai itu memang mengalir dari arah belakang rumah Sa’id yang terletak di pinggir selatan desa, menuju arah pinggir utara desa, yaitu di dekat kawasan rumahku. Setelah menunggu beberapa saat dengan perasaan tak menentu, orang-orang akhirnya mendapat kabar bahwa si Sa’id selamat dan sekarang telah dirawat di rumahnya.

Aku dan orang-orang itu segera berlari ke rumah Sa’id untuk melihat keadaannya…

Bersambung…!


Baca Selanjutnya...!...

Sejenak Kusembunyi !

Thursday, September 11, 2008

Sebenarnya tak ada alasan untuk berhenti menulis. Toh aktivitas nulis sudah jadi candu. Namun, setelah melakukan kontemplasi selama beberapa saat, aku sadar bahwa tulisan butuh gizi, butuh ruh, supaya bisa menghadirkan makna yang bermakna. Lalu bagaimana aku bisa menghasilkan tulisan yang bermakna jika aku tak memakan atau melahap bacaan-bacaan yang penuh gizi, sarat arti?

Maka sejenak kuingin mengendapkan diri, menyatu dan larut dalam lautan kata dan makna yang dikandung oleh samudra buku. Ini adalah pengakuan, ini adalah keinsafan, bahwa kita perlu mengeluarkan (menghasilkan) sesuatu yang bermutu, yang tentunya harus diawali dengan memasukkan (membaca) sesuatu yang bermutu pula. "Teko tak akan mampu menuangkan minuman berupa susu ke sebuah cangkir jika ia tak diisi dengan susu". Maka, dari apa yang kita masukkanlah kita akan mengeluarkan "seperti" apa yang kita masukkan.

Aku merasa tabung otakku masih kosong, belum terisi. Sehingga konsekuensi logisnya aku tak bisa mengolah, tak mampu memproduksi. Bagaimana bisa, bahan yang untuk diolah saja belum tersedia! Oleh karenanyalah aku ingin sejenak bersembunyi, di bebalik dinding-dinding buku, untuk bercengkrama mesra dengan kata-kata yang mengandung makna. Oh, aku ingin larut, aku ingin hanyut, aku ingin mabuk, bersama samudra ide dan buah karya para punggawa pena. Sungguh mereka telah abadi dalam ruang-ruang tertentu, meski jasad telah lebur bersama tanah. Oh, aku hanya ingin sejenak mengisi, menabung, lalu kembali untuk memberi, kembali memproduksi.[]

Kampusbiru, 11 Sept 2008

Baca Selanjutnya...!...

Tak Lagi Bisa Menangis

Thursday, September 04, 2008

Kini tak lagi kubisa menagis,
meski begitu banyak yang seharusnya kutangis;
waktu begitu kuasa menyekatku dalam ruas berliku,
labirin panjang mengepungku,
Aku tersesat dalam diriku!

Yang kutemu lorong-lorong gelap
namun selalu kupelihara dan kujaga
agar teduh, agar tak silau
hingga kuterlalap dalam lena.
Alih-alih teduh, yang kuterima justru gerah nan sumpek,
alih-alih menghindari silau, yang kurasa justru samar-bingar,
alih-alih bisa menyatu, aku malah terlempar jauh dari sejatiku.

Aku tak lagi bisa menangis
Sebab telah keruh hatiku
sebab terlampau keras jiwaku
Aku tak lagi bisa menangis.

Telah lama kutak menangis
pusat syarafku seakan mati
diam, tak bergemeretak, sepi.
aku tak lagi peka
fikirku tak menyala, pekat!

Justru aku sering tertawa
Justru aku tersenyum kecut
menatapi jiwa yang merana
meratapi hati yang luka
aku tak lagi aku yang dulu
hatiku menjadi batu
bahkan lebih keras dari batu.

Justru aku sedang tertawa!
menghukum hati yang tak peka
acuhkan makna dalam setiap fenomena, buta!

Kini, tangisku menjelma tawa!

Tuhan,... berilah aku setetes air mata!
agar kembali leleh hati-batu-ku
hingga rindu kembali menjemputku
tuk kembali mesra dengan-Mu!

Cairo,5 September 2008 - 5 Ramadhan 1429.
at: 02.25 PM, CLT.

Baca Selanjutnya...!...

Marhaban ya Ramadhan

Monday, September 01, 2008


RAMADHAN MENJELANG, RAMADHAN DATANG
ITU TANDANYA TUHAN TELAH MEMBUKAKAN PINTU AMPUNAN-NYA, GERBANG KASIH SAYANG-NYA SERTA SEGENAP ANUGRAH DAN KARUNIA-NYA.

SAMBUT RAMADHAN DENGAN SUKA CITA
SAMBUT RAMADHAN DENGAN PENUH CINTA

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
SEMOGA SEMUA AMAL IBADAH KITA DITERIMA DI SISI-NYA
SEHINGGA MENJADI SIMPANAN UNTUK KELAK DI ALAM BAKA

MARHABAN YA RAMADHAN
MARHABAN SYAHROS SHIYAM

MOHON MAAF ATAS SEGENAP KHILAF
SEMOGA KITA MEMASUKI BULAN SUCI DENGAN HATI YANG BERSIH NAN JERNIH
TAQABBALALLAHU MINNA JAMI'AN.AMIN.

Baca Selanjutnya...!...