Pecundang

Thursday, August 21, 2008

Aku gelisah sendiri tak bertepi
dipermainkan perasaan yang menikam-nikam
sungguh aku ingin berbuat sesuatu
tapi perang nurani dan logika memenjaraku di ruang beku
berjubel pertanyaan menghujam
protes pemberontakan ingin kuteriak
kenapa manusia jadi pemalas?
kenapa mereka saling bertengkar?
aku harus di mana?
aku harus bagaimana?
dan jawaban tak kutemukan
maka aku hanya diam
tersekat dalam kebodohan
aku sang pecundang!!

Cairo, 21/8/2008

Baca Selanjutnya...!...

Refleksi HUT RI dan Ultah Luthfie

Tuesday, August 19, 2008


HUT RI ke-63 ini rasanya sepi. Entahlah. Tak seperti biasanya. Kairo tak begitu ramai dengan berbagai aktivitas penyambutan hari kemerdekaan Indonesia. Sebenarnya KBRI juga membentuk panitia khusus menyambut HUT kali ini. Mereka menggelar beberapa perlombaan, baik yang bersifat massif, atau perorangan; seperti lomba karya tulis populer,dll. Namun entah karena apa, aku sendiri merasa biasa-biasa saja.Seperti tak ada yang Istimewa pada perayaan hari bersejarah bagi seluruh warga Indonesia itu.

Tak hanya HUT RI yang sepi. Harlahku sendiripun sunyi senyap tak berwarna. Tak ada apa-apa. Ya meskipun aku tetap bersyukur, sebab masih ada beberapa kawan yang mengingat hari itu, ada yang mengirim ucapan selamat dan do'a lewat SMS serta ada juga yang lewat Comment di FS. Itu semua aku syukuri bahwa masih ada orang-orang yang perhatian di sekelilingku. Sebenere yang membuat aku agak sedih tak datang dari luar diriku, tapi justru dari dalam diriku. Ingin rasanya aku mengajak teman-teman untuk sekedar makan-makan kecil. Meskipun tanpa kue dan lilin, asal ada kebersamaan itu sudah cukup. Ahh, tapi kesibukan dan tugas ini-itu nampaknya belum bisa diajak kompromi, sehingga membuat aku sibuk dengan urusanku sendiri.

Bulan-bulan ini emang lagi masa-masanya "kanker" bronkitis. Ekonomi lagi kacau (ceile,..kaya apa aja make bahasa ekonomi segala..:p). Sebenere jika aku tidak menggantikan seorang teman untuk tamasya ke Hurghada, mungkin masih ada sisa uang untuk beli makan-makan di hari jadiku kemarin. Tapi, bagaimana lagi, benar-benar tak ada budget untuk itu. Ah, tak perlu kusesali lagi. Toh apalah arti sebuah Ulang tahun. Yang paling penting, meskipun tak ada acara apapun, momen Ultah tetep aku jadikan kesempatan untuk evaluasi diri, guna memperbaiki langkah ke depan. Setidaknya agar lebih baik dan bermanfaat dari hari-hari sebelumnya.

Ya, Aku sudah 22 tahun mengarungi kehidupan ini. Semoga Tuhan masih berkenan memberikan umur panjang yang manfaat dan barakah. Semoga sisa nafas ini mampu kugunakan untuk melakukan hal-hal yang lebih bermakna, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Aku hanya bisa merenung. Aku hanya bisa merasakan. Aku hanya mampu mentadabburi, anugrah sebuah kemerdekaan, sekaligus sebuah kehidupan. Semoga kemerdekaan hakiki Indonesia akan benar-benar terwujud, entah kapan. Semoga aku juga bisa merdeka, merdeka dari hawa nafsu, merdeka dari ego, merdeka dari apa saja, kecuali dari Tuhan Sang Pencipta.

Cairo, 20 Agustus 2008, pukul 02.59

Baca Selanjutnya...!...

Duh, Sya'ban !

Saturday, August 16, 2008


Di malam temaram, ditingkahi lampu neon benderang, aku bertadabbur, bertafakkur bersama lembaran-lembaran kuning bertuliskan huruf-huruf hija'iyyah membentuk gugusan kata mengandung makna.

Aku memandangi sambil sesekali menyelami dan mengarungi samudra nilai yang terkandung dalam teks-teks keagamaan itu. Aku temukan mutiara, aku padukan warna-warna dalam nuansa khilaf-perbedaan pendapat.

Ada yang bilang teks-teks dalam kertas-kertas kuning itu tak sampai kepada sang Rosul sehingga nilainya menjadi tak sempurna.Jika demikian, itu berarti mengada-ada !? Ada juga yang meyakini dan mengamininya, bahwa selama tak menyentuh area-area kudus nan paten, ajaran itu tak menjadi dosa, karena semua dilandasi niat tulus mengharap Ridlo-Nya.

Biarlah mereka berselisih faham. Yang jelas perdebatan itu akan terus berlangsung, dan kita berhak memilih jalan kita masing-masing.

Adalah malam Nisfu Sya'ban, sebagaimana termaktub dalam rangkaian huruf-huruf hija'iyyah itu, dimana Nabi yang mulia tersungkur panjang dalam sujud tengah malamnya, memanjatkan do'a serta puja-puja kepada Sang Maha Kuasa."Sebuah malam istimewa" tuturnya. "Sebab pada malam ini Allah turun ke langit bumi memandangi hamba-hambanya yang sedang beraktifitas. Bagi yang minta pengampunan maka akan diampuni, dan bagi yang minta kasih sayang akan dikasihi. Sementara bagi para pendengki, Tuhan akan mengakhirkan nasib mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan" lanjut Nabi dalam sabdanya.(Disarikan dari Hadits Imam al-Baihaqi dari Aisyah RA)

Ah, sebuah bulan yang sering terlupakan namun menyimpan keagungan.Sya'ban yang terhimpit Rajab dan Ramadhan. Maka apakah kita termasuk yang melupakan? Atau akan menyambutnya dengan suka cita, melalui do'a-do'a yang teriring mesra, dalam syahdu malam pengampunan!

"Tuhan, Ampunilah segala dosa, dan temukanlah kami dengan Ramadhan-Mu yang mulia!"

Kairo, 16 Agustus 2008 M/15 Sya'ban 1429 H

Baca Selanjutnya...!...

BELAJAR BERBASIS ALAM

Friday, August 15, 2008

"Melejitkan Prestasi melalui Kegiatan Ekstra Kampus"
Oleh: M. Luthfil Anshori*


Prolog
Ada sebuah opini yang menyatakan, bahwa "upaya-upaya untuk meningkatkan kemampuan belajar akan menjadi terlalu penting jika hanya diserahkan pada dunia persekolahan (formal) saja!". Ungkapan ini muncul bukan hanya sebatas bualan kosong yang tanpa sebab. Namun jauh daripada itu, pernyataan tersebut keluar sebagai bentuk respon atas mandulnya berbagai lembaga pendidikan formal dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Maka sudah saatnya kita berusaha untuk menggugat peran dunia persekolahan, termasuk universitas, dan menggugah peran serta seluruh komponen masyarakat dari berbagai bidang dan tingkatannya untuk senantiasa meningkatkan kemampuan belajar masing-masing.

Aksi "menggugat" yang dimaksudkan di sini nampaknya akan lebih pas jika diletakkan pada konteks bagaimana kita melakukan "reformat paradigma belajar kita", bukan "berdemo menuntut perubahan kurikulum atau sistem pendidikan yang ada". Dengan demikian, pada kesempatan kali ini penulis tidak hendak "menggugat" lembaga pendidikan di mana kita belajar (al-Azhar maupun universitas lainnya), namun akan mencoba memberi tawaran solusi guna peningkatan prestasi akademis melalui sistem Belajar Berbasis Alam (BBA).


Sekilas tentang Belajar Berbasis Alam
Sub-judul ini mungkin masih terkesan ambigu. Oleh sebab itu, sebelum melangkah pada pembahasan yang lebih praktis-aplikatif, di sini penulis akan menjelaskan makna dari BBA. Sebetulnya, penulis sendiri tidak tahu entah dari mana istilah itu muncul. Namun tiba-tiba begitu saja ia ada dan terbersit ketika penulis memikirkan alam Mesir yang sungguh "kaya". Kaya yang dimaksud bukan berarti sumber daya alam yang melimpah, namun lebih kepada kekayaan khazanah keilmuan yang termanifestasikan oleh begitu banyaknya perpustakaan, tokoh-tokoh pemikir berkelas internasional, juga dimensi-dimensi lain yang menambah gemerlap alam intelektual negeri para nabi ini.

Sebab lain yang mungkin mengilhami kemunculan istilah BBA adalah menyeruaknya kembali file lama yang pernah tersimpan di alam ingatan, bahwa konon penulis sempat membaca sebuah resensi buku yang diadopsi dari negeri Sakura, Jepang, tentang "sekolah berbasis alam" yang mulai diejawantahkan di sana. Entah siapa pencetus dan penggagasnya penulis tidak begitu ingat, namun secara substansi, sistem sekolah yang ditawarkan adalah bagaimana mengajak siswa untuk lebih akrab dengan alam, sekaligus menjadikannya spirit untuk melakukan kegiatan belejar mengajar.

Sejauh ini, sebagian besar sekolah hanya mengedepankan sistem belajar in-door saja yang cenderung statis dan membosankan. Akibatnya, tidak sedikit dari siswa yang patah semangat atau malas-malasan untuk belajar. Menyikapi fenomena tersebut akhirnya muncul sebuah gagasan bagaimana menciptakan sebuah sistem belajar yang enjoy dan mengasyikkan, tanpa mengurangi substansi materi pembelajaran. Nah, oleh sebab itulah sekolah berbasis alam itu muncul di Jepang dengan menawarkan format yang “seimbang” antara kegiatan belajar in-door dan out-door.

Bertolak dari konsep sekolah tersebut, penulis ingin mencoba mengadopsinya untuk dapat diterapkan dan diujicobakan dalam ranah Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir). Maksudnya, bahwa sistem perkuliahan di Mesir yang bisa jadi kurang representatif akan mengakibatkan hal yang sama sebagaimana dijelaskan di atas, yaitu berakibat pada kejenuhan dan penurunan prestasi belajar. Maka dari itu, untuk menanggulangi stagnasi belajar Masisir di bangku kuliah, perlu kiranya kita memberikan tawaran solusi dan menggugah kembali gairah belajar Masisir melalui konsep Belajar Berbasis Alam.

Kenapa penulis lantas memilih istilah "belajar" dan bukan "sekolah"? Sebab kata "belajar" akan memberikan kesan lebih mendalam ketimbang "sekolah", karena pada dasarnya manusia terlahir sebagai "kaum pembelajar". Dan, tentu saja aktifitas serta proses belajar akan terdistorsi jika hanya kita letakkan pada konteks pembelajaran formal yang dilaksanakan di bebalik sekat-sekat tembok bangunan sekolah.

Menemukan Kembali Arti Belajar
Banyak orang beranggapan bahwa "belajar" itu identik dengan "sekolah". Jadi ketika berbicara tentang "wajib belajar" mereka memaknainya sebagai "wajib sekolah". Dengan demikian, "belajar" adalah urusan "anak sekolahan", bukan urusan orang tua, orang dewasa, bukan pula urusan orang yang sudah bekerja atau masyarakat pada umumnya. Maka "belajar" itu urusan "anak-anak" dan dunia "persekolahan".

Tentu saja hal ini tidak benar. Sebab setelah menelisik lebih jauh tentang makna belajar yang dikemukakan beberapa tokoh pendidikan, kita mampu menyimpulkan bahwa belajar adalah, "proses pertumbuhan dan/atau perubahan, agar tahu (knowledge), agar mau (attitude), agar bisa (skills) dan agar berhasil (performance)".

Lalu karena manusia menempati posisi sentral dari proses pembelajaran, maka pengertian belajar juga bisa dipahami sebagai, "proses perubahan dan/atau pertumbuhan manusia dari keadaannya yang semula potensial (human being) menjadi aktual (being human)". Atau, "proses pemanusiawian manusia agar ia menjadi manusia sepenuhnya (fully human being)". (Andrias Harefa: Gradien 2003)

Maka kesimpulannya, bahwa kegiatan belajar merupakan proses berkesinambungan sejak manusia lahir hingga mati (…minal mahdi ilal lahdi [al-hadits]). Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim kita dituntut untuk dapat lebih dalam menghayati makna belajar secara utuh, sehingga mampu mewujudkan cita-cita terbesar diutusnya manusia ke bumi, yaitu sebagai khalifah yang bertugas untuk menjaga dan memakmurkannya.

Piranti-piranti BBA
A. Bumi Mesir
Secara geografis, Mesir memang mempunyai konstruk alam yang cukup keras dan menantang. Di samping itu musim yang dikandung bumi ini juga cukup merepotkan bagi sebagian mahasiswa asing, khususnya mahasiswa Indonesia yang lebih terbiasa dengan dua musim saja. Meskipun demikian, hal itu akan tidak terasa ketika kita menyadari dimensi-dimensi lain yang dimiliki negeri ini. Sebut saja dalam bidang peradaban dan budaya, Mesir sebagai negeri tua menyimpan kekayaan sejarah dan peradaban yang begitu beraneka. Lalu dalam bidang keilmuan, Mesir adalah gudangnya. Oleh sebab itu tak salah jika ada yang menyebut "Misr ummu ad-dun’ya!".

Mari secara lebih spesifik kita melihat Mesir dari dimensi keilmuan. Di Kairo saja, sedikitnya kita akan dengan mudah menemukan 5 perpustakaan besar yang menyimpan segudang khazanah literatur klasik maupun modern. Sebut saja Perpustakaan al-Azhar, Perpustakaan Umum Mubarak, Perpustakaan Qaherah Kubra, Darul Kutub dan Perpustakaan IIIT. Di perpustakaan-perpustakaan tersebut kita bisa menemukan beratus bahkan beribu manuskrip, mikro film, buku-buku umum, sciense, keislaman, hingga pada risalah-risalah magister maupun doktoral (thesis dan disertasi).

Di samping itu, Mesir juga mempunyai beragam lembaga dan instansi yang menawarkan berbagai kegiatan budaya maupun ilmiah yang tentunya bisa kita akses untuk dapat berpartisipasi di dalamnya. Secara lebih dekat mari kita melihat masjid al-Azhar, yang selalu membuka kegiatan ad-dars al-ilmi atau talaqqi hingga daurah shaifiyyah dan lain sebagainya. Dan melalui media elektronik, kita juga bisa memanfaatkan siaran-siaran radio Mesir dalam rangka menambah wawasan serta kemampuan bahasa kita. Sesungguhnya begitu banyak piranti yang disuguhkan bumi para nabi ini, yang bisa kita manfaatkan untuk meningkatkan kualitas belajar kita.

B. Dunia Masisir
Begitu banyak organisasi yang bermunculan di ranah Masisir. Namun apakah wujud dan aktifitasnya telah selaras dengan visi dan misi seorang akademisi? Mari kita telusuri bersama… Akhir-akhir ini, khususnya paska Lokakarya yang diselenggarakan oleh KBRI Kairo, roda perjalanan organisasi Masisir sedikit banyak mengalami perubahan arah. Ya, meskipun diamini atau tidak, kesadaran dan keprihatinan akan minimnya kualitas belajar Masisir telah menjadi perhatian bersama. Maka dari itu, muncullah berbagai inovasi dan kreasi dari beberapa organisasi (termasuk di dalamnya PPMI) untuk menggalakkan kembali ghirah belajar Masisir. Lagi-lagi belajar yang dimaksud di sini adalah belajar dalam arti luas, yang meliputi bidang akademis maupun non-akademis.

Beberapa kegiatan positif tersebut antara lain adalah daurah lughawiyyah, workshop peningkatan skill dalam bidang tertentu, sekolah menulis terpadu, lomba-lomba bernuansa ilmiah, pelatihan metodologi riset dan lain sebagainya. Dalam tataran praksis, kegiatan-kegiatan tersebut sebagian sudah dilaksanakan dan sebagian lainnya masih dalam proses penggodokan. Namun ketika kita menengok kembali realita yang ada di kalangan Masisir, kegiatan-kegiatan semacam itu belum atau masih kurang diminati secara menyeluruh. Akan tetapi hal itu wajar, karena semuanya memang membutuhkan proses, waktu dan ketelatenan.

Intinya, pada ruas ini penulis ingin menyampaikan bahwa, alangkah indah jika seandainya aktifitas organisasi Masisir bisa ditata ulang sedemikian rupa, bahkan kalau perlu di-upgrade sehingga mampu berjalan selaras dengan tuntutan zaman yang ada. Maka secara moril, penulis sendiri sangat mendukung jika kegiatan-kegiatan seperti tersebut di atas bisa lebih ditingkatkan lagi, sehingga mampu memberikan bekal tambahan yang lebih kepada Masisir dalam rangka menyongsong tantangan zaman yang semakin menggila.

Aplikasi Konsep
Setelah sama-sama tahu akan potensi yang tersedia, baik di bumi Mesir secara umum maupun di dunia Masisir secara khusus, setidaknya kita perlu sadar bahwa hal itu akan menjadi sia-sia jika tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya. Mesir yang disebut-sebut sebagai gudang ilmu tak akan berarti apa-apa jika kita yang berada di dalamnya hanya diam saja di rumah tanpa mau bergerak mendatangi lumbung-lumbung ilmu itu. Mari kita tanya pada diri masing-masing, sudahkan kita mengunjungi perpustakaan-perputakaan tersebut? Sudahkan kita menggerakkan kaki untuk mencari dan mendatangi para tokoh dan masyâyikh guna menimba ilmu dari mereka? Sudahkah kita berusaha untuk mencari informasi-informasi tentang penyelenggaraan seminar-seminar ilmiah yang diadakan oleh berbagai instansi Mesir? Dan sejauh mana kepekaan kita, sejauh mana daya adaptasi kita dalam merespon alam sekeliling kita yang sebenarnya "kaya"?

Sistem perkuliahan al-Azhar boleh dibilang kuno dan ketinggalan zaman. Lalu apakah ketika kita tidak bisa menerimanya lantas langsung putus asa? Bukankah di luar, di alam Mesir ini masih menyuguhkan berbagai menu menarik lainnya yang bisa kita cicipi? Sungguh ironis ketika ada sebuah pepatah, "ayam mati di lumbung padi". Tentu kita semua tidak menginginkan hal itu. Maka jawabannya, mari kita bergerak, mari kita melangkah, mengenali alam di mana tempat kita tinggal. Jika kita telah mendapati bahwa alam sekeliling kita sungguh "kaya" dan mempesona, mengapa kita tidak berusaha mengambil sedikit kekayaannya?

Alhasil, ketika kita menemukan jenuh dan sesak di balik tembok-tembok perkuliahan, mari kita menyatu dengan alam luar yang lebih luas dan melapangkan. Kita ambil spirit darinya, lalu kita jadikan ramuan untuk dapat menggerakkan syaraf-syaraf kita mengarungi samudra keilmuan. Jika kita rela mengeluarkan uang 3 Pound untuk chatting di warnet selama dua jam, mengapa kita tidak mengeluarkan uang yang sama untuk sampai ke perpustakaan-perpustakaan, atau ke tempat-tempat talaqqi, ke seminar-seminar, ke nadwah-nadwah, atau ke tempat-tempat bersejarah, dan lain sebagainya!?

Adapun tugas organisasi Masisir, di samping menyelenggarakan kegiatan-kegiatan positif bernuansa ilmiah (dalam hal ini bisa dilaksanakan oleh kelompok-kelompok kajian maupun senat dan almamater) dalam rangka mendukung prestasi akademis, perlu kiranya organisasi Masisir mengusahakan untuk mencari informasi tentang kegiatan-kegiatan ilmiah yang diselenggarakan instansi-instansi Mesir kepada khalayak Masisir. Dengan demikian, arus informasi akan selalu berkesinambungan sehingga aktifitas pun menjadi dinamis dan lebih bermakna.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yakni masalah kemampuan bahasa Masisir yang lemah, berbagai organisasi Masisir (sebagai poros gerak dinamika sekaligus civitas akademika ke-2 setelah kampus) hendaknya menggalakkan kembali diksusi-diskusi atau halaqah-halaqah lughawiyyah yang akan bermanfaat dalam mendukung prestasi di kampus. Sebab menurut hemat penulis, lemahnya kemampuan bahasa (khususnya Arab) sungguh menjadi keprihatinan tersendiri yang harus disadari oleh semua fihak. Bukankah ironis ketika ada seorang alumni Timur tengah yang pulang ke tanah air tapi diminta berbicara bahasa Arab saja belepotan!? Maka dari itu, hendaknya organisasi-organisasi Masisir (bukan hanya PPMI) mampu menjadi promotor dalam rangka mewujudkan gerakan sadar berbahasa di kalangan Masisir.

Di samping penguatan bahasa Arab sebagai basis utama untuk menjalani proses studi di Mesir, kemampuan bahasa lain juga perlu ditingkatkan. Dan menurut pengamatan penulis, sejauh ini telah ada beberapa organisasi yang membuka kursus-kursus bahasa, mulai dari Inggris, Perancis, hingga Jepang. Tentunya hal semacam ini merupakan langkah positif yang perlu ditingkatkan lagi, mengingat peta percaturan dunia global yang semakin menuntut kompetensi personal dalam berbagai bidang.

Epilog
Nah, dengan demikian, ketika kita telah sama-sama menyadari bahwa ruang gerak kita untuk belajar tidak hanya terbatas pada sekat-sekat ruang kuliah, dan setelah kita sama-sama memahami bahwa hakikat manusia adalah sebagai kaum pembelajar (learning being), serta jika kita memahami mengapa kita harus belajar, maka kita akan dapat belajar dalam situasi dan kondisi apapun.

Masisir, dalam ranah belajar mempunyai dua ruang yang bisa sama-sama dimanfaatkan guna mendukung prestasi, yaitu ruang kuliah formal dan alam di luar kuliah (baik bumi Mesir maupun dunia kecil organisasi Masisir). Dengan demikian, Masisir diharapkan mampu mensinergikan dua potensi tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas hidup selama menempuh studi di bumi kinanah ini.

Walhasil, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa menempatkan bangunan sekolah dan universitas sebagai lokasi-lokasi yang paling ideal bagi proses pembelajaran merupakan suatu kekeliruan yang berakibat fatal. Maka sekali lagi kita perlu menyadari, bahwa seharusnya kita menempatkan proses pembelajaran dalam konteks sekolah kehidupan. Yaitu sebuah sekolah yang dimenej langsung oleh Tuhan Sang Pencipta Alam, yang di dalamnya menyimpan segudang ilmu dan pengetahuan yang maha luas dan lapang. Semoga, kita mampu memanfaatkan alam sekeliling kita untuk sama-sama berproses menuju manusia yang sebenar-benarnya, bermetamorfosis menuju kesempurnaan yang didambakan! Amin. Wallahu a'lam!

*Mahasiswa tingkat akhir fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir al-Azhar Uviversity

Baca Selanjutnya...!...

Do'a Malam untuk Seseorang...!


...
(dan) aku hanya mampu berdoa;
semoga...
embun-embun suci sedia membasuh segala resahmu
sehingga kembali jernih, terang mengiring laju
dan, kau akan tetap bersinar
walau di kegelapan malam yang pekat
menapaki hidup, dalam pelukan rahmat !

Kutengadahkan dua tangan yang hina nan lemah
mencoba melambai menyalami langit-langit,
agar dibukakan pintunya,
sehingga do'a ini bisa meniti tangga-tangga 'Arasy-Nya
hingga sampai ke singgasana Maha Diraja !

"Tuhan, jagalah ia, dekaplah selalu dalam cinta-kasih-Mu,
sehingga ia bahagia, lapang dan nyaman dalam melakoni setiap episode,
yang Kau siapkan untuknya..!" Amiin..!

Selamat malam, nice dream....!
semoga,
esok hari kau kembali tersenyum secerah mentari !

Tidurlah...letakkan segala gundah dan beban,
sehingga kau menjadi ringan, menapaki jarak yang masih panjang !

(Kota Tua, 01/7/08)

Baca Selanjutnya...!...

Karena Hidup adalah Pilihan !?

Thursday, August 07, 2008


Menanggapi pertanyaan kawan Bala yang beberapa waktu lalu mengisi di shoutbox, beliau menanyakan tentang abstraksi yang saya tulis di header blog. "Apa artinya; hidup di dunia kita memilih, di akhirat kita dipilih!" Maka dalam catatan kali ini saya ingin sedikit mengupas tentang terjemahan dari kalimat tersebut.

Jujur saya katakan, bahwa pertama kali saya mendapat kalimat tersebut dari sebuah pesan yang dituliskan oleh salah satu teman sekelas saya dalam buku rememberance angkatan kami. Meskipun kalimat tersebut telah ia tulis pada tahun 2004 ketika kami lulus dari Madrasah Aliyah (MAKN Surakarta), namun saya baru ngeh dan mendapatinya begitu bermakna ketika saya telah sampai ke Mesir. Kebetulan saya membawa buku itu dan sesekali ketika rindu menghinggapi saya buka-buka lagi buku kenangan tersebut sembari mengingat-ingat memory masa SMA. Begitu indah, berwarna dan membekas di lubuk hati. Masa-masa yang tak kan pernah terlupakan sepanjang hidup.

Ya, "hidup di dunia kita memilih!". Sebagaimana hak asasi setiap manusia, bahwa ia mempunyai kebebasan dalam memilih. Memilih apa saja yang ia kehendaki dan sesuai dengan isi hati. Tentu saja, dunia ini penuh dengan pilihan-pilihan. Pilihan di sini meliputi hamper seluruh aspek kehidupan; mulai dari agama dan keyakinan; hingga pilihan-pilihan yang bersifat teknis, seperti memilih tempat sekolah/belajar, memilih jabatan, memilih pekerjaan, memilih pasangan dan lain sebagainya. Intinya, bahwa dunia ini ibarat ladang/sawah, yang kita bebas hendak menanaminya apa saja! Entah dengan bibit unggul atau bibit biasa, entah dengan usaha maksimal atau usaha sekedarnya! Walhasil, di dunia kita masih berkesempatan untuk memilih apa saja, yang tentunya masing-masing mengandung konsekuensi yang harus siap diterima.

Nah, kemudian, "di akhirat kita dipilih!". Tentu saja! Karena di sana (menurut keterangan teks-teks al-Qur'an dan Sunnah) manusia akan dihisab sesuai dengan apa yang telah ia pilih dan ia kerjakan selama di dunia. Maka di alam ini manusia tak berkesempatan untuk memilih, karena hasil yang akan ia dapatkan adalah sesuai dengan apa yang ia tanam. Manusia juga tak bisa melakukan pembelaan. Sebab mulut akan terkunci, dan yang akan bicara adalah seluruh indera yang melaporkan setiap aktivitasnya selama di dunia. Maka intinya, di akhirat Allahlah yang akan memilih dan menentukan, apakah seseorang akan masuk surga atau neraka!

Walhasil, dari sedikit penjabaran di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dunia adalah alam pilihan, sementara akhirat adalah alam kepastiannya. "ad-dun`ya mazra'atul akhiroh!". Dunia adalah ladang bercocok tanam yang hasilnya akan diterima ketika telah berada di akhirat. Maka dari itu, "karena hidup di dunia adalah memilih dan di akhirat kita dipilih!", tentunya selama di dunia kita diharapkan mampu memilih hal-hal yang baik sehingga di kelak kemudian hari kita akan dipilih. Ya, dipilih kembali sebagai hamba yang meneguhkan pengabdiaanya, bukan hamba yang mengingkari janji agungnya ketika masih di gua garba ibu: "balaa syahidna!". Konon, segenap manusia dipilih untuk terlahir ke dunia setelah menyatakan sumpah itu. Namun dalam aplikasinya di dunia, banyak dari mereka yang lupa atau mengingkari. Maka semoga ketika diakhirat nanti kita kembali terpilih karena termasuk para hamba yang senantiasa mengingat dan menjalankan janji setianya ketika masih di gua garba para ibunya! Wallahu a'lam!
_Kairo, Jum'at, 8 Agustus 2008

Baca Selanjutnya...!...

Puing-puing Ironi Tanah Pertiwi

Saturday, August 02, 2008


Puing 1: Di rumah-rumah
Aku melihat rumah-rumah gelap
Entah terlalu rapat tersekat tembok-tembok kuat,
Atau karena tak ada minyak untuk sekedar menyalakan misykat?
Di rumah-rumah pekat;
Entah yang terbangun di atas batu
Atau yang berdiri ditopang kayu, hanya bambu.
Tak ada cahaya, hanya serpihan-serpihan fatamorgana yang menjadi aktifitas keseharian.

Aku mendapati rumah-rumah gelisah
Entah yang di dalamnya bergelimang harta,
Atau mungkin sebaliknya, seakan tak ada nasi se-piring-pun
Sehingga tak nampak unsur senyawa,
bahkan embun tak lagi membasuh atap-atapnya di pagi buta.
Ohh...yang kelebihan kekayaan gelisah untuk kehilangan,
Yang penuh ketiadaan takut akan kematian,
mereka kelaparan!

Aku memandangi rumah-rumah bodoh itu
Entah yang penghuninya belajar tapi untuk menipu,
Atau yang memang tak pernah belajar karena tak mampu beli buku.
Rumah-rumah bodoh para penipu, di dalamnya tersusun strategi untuk menang sendiri, jaya sendiri, makmur sendiri,
pintar tapi bodoh,
Karena telah merakit dinamit untuk diri sendiri.
Sementara rumah si miskin kering kerontang,
Bahkan untuk beli bacaan, mengisi perut tiap hari saja kesulitan!
Lambat laun mereka semua akan mati,
Hanya menanti hari![]


Puing 2: Di kantor-kantor
Pertama, mereka berjuang mendapat kursi;
entah karena mampu, atau hanya nafsu?
Kedua, ada yang berhasil ada yang gagal;
yang berhasil tasyakuran atau berpesta pora,
yang gagal menangis seakan jatah rizkinya terkikislah sudah.
Ketiga; yang diterima lantas berlupa,
yang ditolak memilih putus asa.
Keempat; yang lolos mencuri uang dari balik kursinya,
Yang tersingkir menjadi pencopet di bus-bus kota.
Dan kelima; yang mendapat hasil curian banyak tetap aman, nyaman juga sentousa menduduki kursinya,
yang hasilnya hanya tak seberapa digebuki masa hingga akhir hayatnya.
Celaka![]


Puing 3: Di rumah-rumah Ibadah
Musibah...!
Rumah-rumah ibadah tak lagi suci
Rumah-rumah ibadah telah ternodai
Siapa yang mengotori?
Siapa yang mencemari?
Apakah karena iblis berhasil menerobos?
Ataukah penghuninya telah menjelma lain sebentuk benalu?
Menumpang sembari menggerogoti?

Imamnya tak ikhlas memimpin jama'ah
Dalam hatinya protes sebab tak cukup kafa'ah.
Khatibnya riya' dalam menyampaikan khutbah
Membanggakan akal, mulut dan suaranya.
Makmumnya hanya diam dan manggut-manggut
Padahal sembahyangnya tak khusyuk,
juga apa yang didengar tak masuk.

---
Ohh, para penghuni rumah-rumah Tuhan yang tak berke-Tuhan-an !?
Mereka hanya mampir
Mereka hanya parkir
Menyandarkan fikir yang keruh
Mendaratkan seribu amarah yang membuncah.
Ahh, mereka begitu pongah di setiap jengkal tanah
Mereka terlalu congkak berbekal setitik nikmat.
Do'a-do'a, puja-puji dilantunkan untuk kepentingan sendiri,
Agar Tuhan tak mengujinya lagi,
Sudah! Mereka hanya ingin mandiri
Karena setelah keluar dari pintu-pintu rumah ibadah,
Mereka tak ingin kembali lagi untuk yang kedua kali,
Sudah cukup dengan usaha sendiri mereka akan berdikari.
Sudah... aku tak butuh kau lagi,
Dan... kosong lagi...
sepi kembali...![]

Puing 4: Di jalan-jalan
Jalan itu untuk kemudahan
Jalan itu untuk sampai ke tujuan.

Tapi jalan-jalan itu sekarang penuh kesulitan
Yang ada hanya olah kepentingan; yang penting aku senang, yang jelas aku tak takut kemiskinan, biarpun orang-orang lain berteriak hingga kehausan.
Berjejal kesumpekan; arak-arakan manusia, deretan kemogokan, bahkan sengaja diblokir, atau siapa mau lewat harus tanda tangan!
Hingga butuh waktu sangat lama untuk meraih tujuan
Atau bahkan tak akan sampai
Karena telah kehabisan bahan bakar
Lalu mati di tengah jalan
Menjadi tumbal atas ulah kebodohan.[]


Puing 5: Di mal-mal, di pasar, swalayan dan pertokoan
Di tempat-tempat itu, adalah pos-pos dimana dijual produk-produk kecantikan, pakaian, makanan, mainan-mainan beserta segenap produk fisik yang penuh kesementaraan.

Di tempat-tempat itu, manusia rela membayar berapa saja untuk sekedar menghadirkan tampilan luar yang memesona dan elok dipandang mata.

Ya, adalah produk-produk tangan manusia yang dicipta untuk kehancuran mereka sendiri. Sebab ketika mata mereka melihat, yang muncul adalah nafsu, rasa ingin memiliki yang berlebihan. Sebab ketika mereka silau dan tergiur, maka yang terjadi adalah samar dan buta.

Kali ini mereka lupa, bahwa yang mereka ingini bukanlah hakekat dan keabadian. Namun hanya fatamorgana dan kefanaan.

Ya, meskipun bagi sang pabrik, sang pengrajin dan sang pekerja adalah sekedar mempertahankan hidup dari binasa percaturan dunia; agar dapat makan, agar dapat memberi makan. Namun bagi sang konsumen, sang pembeli dan sang pengagum produk-produk keduniaan adalah ujian, cobaan, bahkan jebakan.

Entahlah, duniapun menjadi bingar, tak jelas warna; mana yang putih, mana yang hitam![]



Puing 6: Di kampus-kampus
Dahulu, aku mengira kampus-kampus adalah tempat menimba ilmu
Ya, mungkin karena darinya kakek-nenek dan bapak-ibuku menjadi berbudi dan berilmu.

Kemarin, aku melihat para mahasiswa bangkit dari kursi belajarnya untuk menggugat kebiadaban dan menghentikan kebodohan-kebodohan.
Lalu mereka berparade di sepanjang jalan meneriakkan hak-hak.
Kemudian mereka berorasi memperjuangkan nasib rakyat kecil,
walau entah berhasil, atau hanya dianggap malaikat kecil yang suka usil menggoda urusan para dewa!!??

Sekarang, aku menyaksikan mereka tawuran,
saling adu hantam satu sama lain.
Entah apa yang mereka perjuangkan, apakah harga diri atau hanya menuruti emosi dan tipu daya para aktor berjas putih di gedung-gedung megah!?[]



Puing 7: Di istana
Di istana mereka hanya berfoya-foya
Di istana mereka saling memperkaya
Di istana mereka makan-minum sepuasnya
Dan ketika keluar, mereka meneriakkan janji sorga: "Kami akan memperjuangkan nasib rakyat, mengentaskan kemiskinan, memberantas korupsi, mencerdaskan bangsa melalui peningkatan taraf pendidikan, memberikan subsidi demi meringankan beban, dan...dan..."
Sekembali mereka ke istana,
telinga menjadi tuli,
dan matapun telah ngantuk,
"Ahh... lebih baik tidur! Toh tak ada PR yang harus dipikirkan dan dikerjakan!".

Munafik![]


_Sabdapena17, Kairo: Jum'at pagi, 06 Juni 2008.

Baca Selanjutnya...!...

Hukum Harus Tegas

Tuesday, July 08, 2008


"Jika hukum tak lagi berwibawa, maka kehancuran akan segera tiba"


Saat ini Indonesia benar-benar dilanda kekacauan! Setelah berbagai bencana melanda dan tak kunjung mendapat titik terang, kini sesama rakyat justru tunggang-langgang saling menuduh dan terpecah-belah. Masyarakat grass-root semakin menderita dengan berbagai kebijakan pemerintah yang tak jelas arah. Sementara yang di atas, mereka tetap nyaman dengan gaji bulanannya plus berbagai dana tunjangan.

Kasus demi kasus; korupsi, penggelapan dana, manipulasi, pun tak segera tuntas bahkan hanya numpuk di meja jaksa. Menumpuk dan terus menumpuk sehingga semakin sulit untuk memilahnya. Insiden demi insiden, tragedi demi tragedi, tuntutan demi tuntutan, tak ada yang diputuskan secara tegas. Walhasil, bumi pertiwi seakan hanya menjadi wadah tumpukan masalah bahkan berbagai tragedi berdarah.

Penyebab dari itu semua antara lain adalah ketidak-arifan pemerintah, sang pemangku kebijakan (stake-holders). Setelah bermula dari ketidak-tahuan akhirnya berimbas pada ketidak-tegasan. Karena tidak tahu pasti mana yang benar dan mana yang salah, akhirnya kebingungan merasuki fikiran. Nah, puing-puing itulah yang akhirnya menyebabkan alur pemerintahan seakan tak tentu arah, tak punya pijakan.

Lebih ironisnya, lagi-lagi yang menjadi korban tetap rakyat kecil. Si kecil yang tak punya uang lalu mencuri ayam. Na’asnya ia tertangkap basah oleh penduduk kampung lalu dipukuli hingga babak-belur. Sementara Si besar, mereka tetap nyaman menggerogoti uang dari balik kursi kehormatannya. Sayangnya, ia punya akal yang brilian hingga aksinya tak kelihatan. Atau misalkan kelihatanpun ia bisa memutar-balikkan fakta dengan uang.

Celaka! Inilah awal mula musibah yang begitu deras melanda negeri kita. Ketika rakyat kecil bersalah secepat mungkin fonis dijatuhkan. Tapi jika para pembesar yang bersalah, ahh, nanti saja kita tunggu salam tempelnya? Sunguh tak adil! Dimanakah ketegasan sikap dalam hukum Indonesia?

Benar apa yang telah diisyaratkan oleh kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya: “Wahai para manusia, sesungguhnya penyebab musnahnya orang-orang sebelum kalian adalah: ketika ada pejabat di antara mereka yang mencuri mereka diamkan, dan ketika ada orang kecil yang mencuri mereka hukum. Demi Allah seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, maka aku akan memotong tangannya!” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah SWT berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi kalian...” (QS. al-Ahzâb [33]: 21). Jika Rasulullah telah mengajarkan sebuah sikap ketegasan bagi kita semua, maka patut rasanya jika para ulil amri di negeri kitapun mencontoh dan mempraktekkannya. Dengan harapan, semoga dengan ketegasan yang dibarengi kearifan, segala permasalahan, permusuhan dan perpecahan bisa diangkat dari bumi pertiwi tercinta.Wallahu A’lam!

Baca Selanjutnya...!...

Berdakwah dengan Hati

Friday, July 04, 2008


Dalam disiplin Ilmu Dakwah disebutkan bahwa, profesi da’i itu bukanlah profesi yang mudah, bahkan sangat sulit. Pasalnya, seorang da’i dalam Islam laksana penerus perjuangan para nabi yang bertugas menyampaikan risalah dan ajaran-ajaran Islam ke segenap umat manusia. Oleh karena itu, ia dituntut untuk menguasai Islam secara kaffah (sempurna). Bukan hanya menguasai ilmu-ilmu Islam secara teori (nadzariy), tetapi juga harus mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari (‘amaliy). Sebab, ketika seseorang telah disebut sebagai da’i, maka secara alami ia akan menjadi public figure yang akan selalu dilihat dan dicontoh oleh masyarakat.

Da’i dalam Islam juga laksana dokter, yang bertugas untuk mendiagnosa penyakit-penyakit masyarakat, sehingga dapat mencarikan obat yang tepat untuk menolong dan menyembuhkan mereka. Oleh sebab itulah seorang da’i seyogianya mempunyai hati yang bersih (ikhlas), nurani yang tajam (kepekaan), fikiran yang jernih (kearifan), dan mata yang jeli (bijaksana). Sehingga dengan itu, ia mampu membaca setiap fenomena yang muncul di masyarakat, menganalisa setiap gejala yang ada, lalu memilih solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Jika ia salah cara (salah memberikan obat atau dosis), maka usaha dakwahnya bisa jadi tak akan sampai ke masyarakat. Alih-alih ingin berdakwah, yang terjadi justru menambah runyam masalah, menambah bingung masyarakat bawah.

Selanjutnya, mari kita simak sebuah kisah tentang usaha dakwah yang dilakukan seseorang dengan modal hati dan kelembutan, bukan dengan paksaan dan kekerasan.
Adalah KH. Robbach Ma’shum, yang hingga kini masih menjabat sebagai Bupati Gresik, sosok teladan yang baik bagi para da’i dan pendidik, yang mampu melakukan proses pengajaran serta dakwah dengan hati dan kelembutan. Suatu ketika, beliau melakukan lawatan ke Mesir untuk membeli buku-buku yang digelar dalam rangka “Pameran Buku Internasional di Kairo”. Hal itu semata-mata didasari atas kecintaan beliau terhadap buku. Pada kesempatan itu, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama’ (PCINU) Mesir berhasil menyelenggarakan dialog publik bersama Kiai Robbach yang dihadiri oleh warga nahdliyyin di Mesir.

Dalam pidatonya, Kiai Robbach tidak menyampaikan mauidhah hasanah layaknya para da’i. Namun beliau hanya bercerita seputar pengalaman pribadi beliau, baik sebelum maupun ketika menjabat sebagai Bupati. Cukup banyak hal-hal menarik nan menggugah yang beliau sampaikan. Namun dalam konteks ini, penulis hanya akan memaparkan salah satu bagian dari cerita beliau yang terkait dengan dunia dakwah.

Alkisah, sebelum menjadi seorang Bupati, beliau telah dikenal sebagai sosok yang ramah dan akrab dengan masyarakat bawah. Hal itu disebabkan karena beliau telah aktif di berbagai kepengurusan cabang NU di daerahnya, sehingga membuatnya sering bersinggungan dengan masyarakat secara langsung. Dengan kondisi tersebut, beliau mampu merasakan sebuah keprihatinan akan moral dan nasib para pemuda yang semakin jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Betapa banyak para pemuda yang suka mabuk-mabukan, berapa banyak anak-anak jalanan yang terjerembab dalam kubangan narkoba, dan berapa banyak generasi muda yang melakukan tindakan asusila.

Bagi Kiai Robbach, hal itu beliau sikapi sebagai sebuah panggilan jiwa, sebuah bisikan nurani yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu guna menolong mereka, dan mengentaskan mereka dari jalan yang sesat. Namun langkah apakah yang akan beliau tempuh? Strategi apakah yang akan beliau terapkan untuk dapat mengajak mereka kembali ke jalan yang benar?

Jawabannya: “kelembutan dan hati!” Ya, beliau memilih metode persuasif. Beliau tidak secara langsung mendatangi gerombolan mereka untuk diceramahi atau bahkan dimarahi, namun beliau datang layaknya seorang teman yang mencoba mendekati dan mengakrabi. Tentunya dengan segenap kesabaran dan kehati-hatian, sehingga beliau bisa diterima oleh mereka. Beliau datang ke kantin-kantin, ke toko-toko, di tempat-tempat di mana mereka sering berkumpul. Beliau ikut minum kopi, turut kongkow bareng bersama mereka. Pembicaraan awal beliau kepada mereka tentu bukan soal agama, namun lebih kepada pembicaraan tentang hal-hal lain yang sifatnya lebih umum, atau soal pribadi mereka masing-masing. Pada fase ini beliau hanya bertujuan bagaimana agar mereka bisa menerima beliau sebagai seorang teman, teman curhat.

Nah, setelah melalui proses pendekatan yang cukup panjang dan membutuhkan kesabaran, lambat laun beliau semakin akrab dengan mereka. Barulah dalam kesempatan seperti ini beliau mulai berbicara soal agama. Dan yang jelas beliau tetap sangat hati-hati, sehingga tak ada sedikitpun kata-kata yang menyakiti hati mereka. Singkat cerita, setelah sekian lama proses itu berlangsung secara berkesinambungan, datanglah petunjuk dan cahaya dari Allah yang memasuki hati mereka. Akhirnya, bersama Kiai Robbach mereka justru berniat untuk membentuk semacam kelompok pengajian. Anggota mereka terdiri dari para mantan pecandu, morfinis, pemabuk, hingga para pezina.

Suatu ketika, mereka berkumpul di sebuah tempat guna melakukan sebuah konggres. Hal itu dimaksudkan untuk menentukan nama jama’ah mereka, sekaligus berbagai perangkatnya. Ketika proses pengusulan nama mulai dibuka, ada sebagian dari mereka yang mengusulkan nama-nama bercirikan Islam seperti; Al-Hikmah, Al-Hidayah, At-Taubah dan lain sebagainya. Namun pada saat itu, ada satu orang di antara mereka yang mengusulkan nama yang asing dan aneh, yaitu “Al-Koboi”. Sepontan mereka bertanya, apa alasannya sehingga ia memilih nama tersebut? Ia pun menjawab: “Sejauh ini, saya telah banyak melihat nama-nama jama’ah yang bercirikan Islam, namun yang terjadi justru mereka hanya mengotori dan menodai nama itu dengan prilaku yang tidak Islami. Maka lebih baik kita menggunakan nama yang tidak Islami namun kita mampu menerapkan ajaran-ajaran Islam, ketimbang menggunakan nama Islam hanya untuk kita cemari!”

Ohh..sebuah alasan yang cukup logis dan sesuai fakta nampaknya, sehingga membuat mereka bersepakat untuk memilih nama itu sebagai nama jama’ah mereka. Pada fase-fase selanjutnya, Kiai Robbach senantiasa bermu’amalah dan beramah-tamah dengan mereka, sembari mengajarkan nilai-nilai Islam sehingga menjadi semakin akrab dan dekat. Salah satu caranya adalah dengan membukakan pintu rumah selebar-lebarnya untuk mereka, apalagi ketika bulan Ramadhan. Beliau sering mempersilahkan mereka untuk berbuka dan sahur di rumahnya. Walaupun mungkin masih ada juga dari mereka yang belum berpuasa.

Secuplik kisah di atas tampak jelas memberikan gambaran kepada kita, bahwa berdakwah dengan hati dan kelembutan akan bisa lebih mengena dan berhasil, dari pada melalui kekerasan dan paksaan. Taruhlah misalkan, hari ini kita mampu meluluh-lantahkan tempat-tempat maksiat, namun bisa jadi esok mereka mendirikannya lagi di tempat yang lain. Sebab dakwah itu tak sampai ke hati mereka, namun hanya sampai ke tempat-tempat di mana meraka melakukan maksiat. Berbeda dengan kisah di atas, di mana dakwah yang dilancarkan langsung menembus pusat kontrol aktifitas manusia, yaitu hati. Sehingga ketika hati sudah terkontrol, maka seluruh bagian tubuh yang lain pun tunduk dan mengikuti.

Benar apa yang dikatakan oleh Imam al-Ghozali tentang strategi seorang da’i: “Wajib bagi seorang da’i menatap mereka (obyek dakwah) dengan tatapan mata rahmat, kasih sayang dan penghormatan. Juga, agar ia bisa mendekati masing-masing person dari mereka maupun kelompok mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dan, seorang da’i sangat dilarang untuk memandang mereka dengan tatapan sinis atau berbicara kepada mereka dengan perkataan yang menyakiti perasaan. Sebab jika ia melakukannya, maka mereka akan tetap berpegang teguh dengan keyakinan yang semula. Bukan karena ia merasa bahwa keyakinannya telah benar sehingga mereka mempertahankannya, namun semata-mata hal itu mereka lakukan karena pembelaan atas harga diri yang telah dihina!”.

Allah SWT berfirman: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta berdebatlah dengan mereka melalui jalan yang baik...”
(QS. An-Nahl [16]: 125). Dari ayat tersebut kita dapat menarik kesimpulan, bahwa Tuhan Yang Esa telah mengajarkan kepada kita tentang tata cara berdakwah yang baik. Yaitu yang dilandasi atas ketulusan hati serta kesabaran yang tinggi guna mencapai hasil yang diinginkan.[]

Oleh: M. Luthfi al-Anshori

Baca Selanjutnya...!...

Catatan Lama: Sebuah Dialog

Friday, June 20, 2008


NB: Baca dari bawah ke atas...!

Nggak usah tahulah.
Itu kan cmn tambahan aja.
Supaya puisinya lebih mendramatisir.
He.. he.. he...(Wed, 26/10/05)

mohammad luthfil anshori menulis:

sebelumnya aku minta maaf!
kalo aku boleh meminta, pada tulisanmu di bawah ada beberapa kalimat
yang membuatku penasaran dan masih belum bisa aku pahami substansinya, jadi kalo kamu ga keberatan tolong dijelaskan!
apakah itu sayap kebebasan yang kau maksud?
siapa pula yang kau maksud kekasih pengecut?
sebelum dan sesudahnya trima kasih!(Wed, 26/10/05)

Lathifa Anshori wrote:

Aku tersenyum sekarang
melihat pelangi yang bersinar dari air mataku
Kurasakan air mata dalam keramaian
dan aku tertawa

Kumenunggu sayap kebebasan
oh... dia didepan sana
Apakah Tuhan benar2 menitahkannya untukku?
Tolonglah...

Sudah kulepas gembok kepenatan
Dengan menertawai kekasih yang pengecut
Kini...
Nggak usah taulah!!

He... he.. he...(Sat, 22/10/05)

mohammad luthfil anshori menulis:

Tidak perlu kawatir akan keterbuangangan...
tidak perlu takut akan kesendirian...
di sini, di negeri senja ini...
sesungguhnya kita tetap mempunyai banyak teman...
untuk saling berbagi,
untuk saling membantu
dikala susah, maupun senang...!
Dan memang terkadang akupun merasakannya,
bahwa perihnya sebuah kesendirian itu
justru bukan pada saat kita sedang sedih,
tapi justru ketika kita sedang senang dan tertawa,
tapi tidak ada teman yang dapat kita ajak tertawa.
tapi yang pasti,...
aku nang mburimu...
ROBBENA DAIMAN FI 'AUNINA
GOD ALWAYS IN OUR SIDE!(Fri,21/10/05)

Lathifa Anshori wrote:

sudah lama kuinjakkan kaki di tanah ini
tanah yang gersang
yang diairi sejuta tetesan

tak ada yang kurasa disini
hampa?
tidak juga

aku tau segalanya
aku mengerti yang terjadi
tapi kuhanya diam
mengikuti kemana angin membawaku

banyak orang yang membutuhkanku
aku sadar itu
dan aku terbuang disini
meratap.........
mengapa ini harus terjadi?!

tapi......
biar sajalah
sudah terlanjur jauh ntuk menggugat
biar sajalah..

aku sendirian sekarang..
dalam kasih sayang yang pupus kadang2
aku ketergantungan
sepipun menenggelamkanku dalam lamunan
yang kubawa selamanya dalam tidurku.(Fri,21/10/05)


Baca Selanjutnya...!...

Elegi Cinta

Saturday, June 07, 2008

Bagaimana aku tidak merasa lemah,
sementara sebentuk tulang rusukku ada padamu
Dan kau masih ragu
apakah akan kau satukan kembali
Atau tetap kau bawa pergi, sendiri.

Bagaimana aku tidak merasa iba
Melihat bayang hidupku dalam dirimu
Bayangan sebuah mimpi, sebuah khayal
Yang indah melambai mengiring laju angin
Berhembus, terus berhembus
lalu akan hilang ditelan waktu.

Atau,…
Akan kau jaga mimpi itu
Hingga kita menyatu!?

Jawabannya ada di hatimu!!

Cairo, 07 Juni 2008




Baca Selanjutnya...!...

Sebegitu Pentingkah Ikhlas dalam Cinta??

Wednesday, May 07, 2008


Oleh: M. Luthfi al-Anshori

Kita tentu telah mengenal kata “ikhlas” sejak kecil. Sebuah kata yang boleh jadi sangat akrab kita dengar, terutama dari kalangan kaum beragama, atau bahkan masyarakat biasa. Namun saking akrabnya kita dengan kata itu, terkadang justru membuatnya bias dan tak nampak penting. Padahal, ketika kita telusuri lebih jauh, sebuah kata “ikhlas” dalam tataran aplikasi mempunyai substansi yang sangat penting. Mengapa demikian? Ya, sebab dalam kaidah agama (sebelum kita meniliknya melalui perspektif yang lain), keikhlasan menempati posisi penting sebagai parameter sampai atau tidaknya amal perbuatan seseorang. Kata “sampai” di sini tentu kita artikan dengan: diterimanya amal perbuatan hamba oleh Tuhannya. Mungkin dengan ungkapan yang lebih akrab, masyarakat pedesaan sering menyebutnya dengan lillâhi ta’âla. Yaitu mendasarkan segala perbuatan atas landasan keikhlasan semata-mata hanya karena Allah. Sebab, dalam tataran praksis, masih sangat banyak sekali orang yang melandasi perbuatannya atas dasar inilah, itulah,... atasan, bos, suami, istri, pacar, calon mertua, atau hanya karena ingin dipuji oleh sesamanya saja (mungkin termasuk penulis juga masih belum bisa ikhlas secara murni dalam konteks ini, hehe).

Di samping urgensitas ikhlas dalam hal ibadah syar’iyyah, ia juga menempati posisi penting dalam ranah kehidupan sosial (baca: dalam hal mu’amalah atau ahwal syahshiyyah). Sebagai contoh, mungkin kita tak perlu terlalu jauh menjelajahi kitab-kitab fikih atau bahkan tasawuf, kita cukup flash back saja merenungkan isi pesan yang terkandung dalam film “Kiamat Sudah Dekat”. Seorang Rocker yang akhirnya berhasil mendapatkan putri Pak Kiai melalui ilmu ikhlas. Ya, bisa jadi memang seperti itulah hakekat sebuah keikhlasan, merelakan dengan sepenuh hati, bahwa jika memang sang Rocker bukanlah yang terbaik untuk putri Pak Kiai dan ada calon lain yang lebih pantas, maka ia pasrah dan mengikhlaskan segala apa yang akan terjadi. Alhasil, dengan sikap yang seperti itulah justru akhirnya Pak Kiai menyetujui lamaran sang Rocker untuk meminang putrinya. Sebab menurut Pak Kiai, sang Rocker ternyata telah mampu mengaplikasikan ilmu ikhlas itu tanpa ia sadari.

Contoh lain dapat kita lihat dan saksikan dalam film “Ayat Ayat Cinta”. Seorang Fakhri yang diuji oleh Allah karena mempunyai dua istri, Aisyah dan Maria. Pada awalnya si Fakhri belum bisa menerima dengan lega kenyataan yang ia hadapi itu, bahwa ia mempunyai dua istri. Sehingga yang terjadi, kehidupan rumah tangganya menjadi goncang, sebab secara psikis si Fakhri belum benar-benar bisa menerima nasib yang harus ia jalani. Namun, setelah mendapatkan nasihat dari si Saiful agar si Fakhri ini bisa mengikhlaskan takdirnya itu, akhirnya iapun mampu memperbaiki keadaan rumah tangganya. Tiada lain adalah dengan mengaplikasikan konsep ikhlas yang menempati posisi cukup sentral dalam menentukan bahagia atau tidaknya hidup seseorang. Sebab tanpa keikhlasan, seseorang akan terkungkung dalam keadaan gelisah yang berkepanjangan dan ingin senantiasa protes, bahkan menentang takdir yang ia hadapi.

Nah, tulisan ini memang tidak hendak memaparkan konsep ikhlas secara detail sebagaimana yang dapat kita temukan dalam buku-buku fikih atau tasawuf. Namun ingin lebih menekankan pada sisi aplikasi dari konsep tersebut. Sebab beberapa waktu terakhir ini, secara pribadi penulis juga cukup dihantui oleh sebuah kata bernama “ikhlas” itu sendiri. Bukan hanya itu, beberapa kawan yang penulis jumpai di sekelilingnya juga nampak sedang mengalami “krisis ikhlas”, sehingga membuatnya kian gelisah dan tak tenang menatap hari depan. Hidup dalam bayang-bayang “dendam” dan penasaran.

Maka dari itu, penulis merasa tergugah untuk merenungkan kembali sebuah kata “ikhlas” yang sebenarnya telah kita hafal sejak kecil. Bukan hanya merenungkannya sebagai sebuah istilah yang hampa makna, tapi mencoba mencari dan memahami substansi aplikasinya dalam kehidupan nyata. Dan ternyata, oh... sungguh menderitanya hidup tanpa keikhlasan. Dan ohh,...sungguh damai dan tenangnya hidup berpegang keikhlasan. Atau dalam istilah lainnya kita mengenal kata “qanâ’ah” atau dalam bahasa Jawanya “nerimo ing pandum” (menerima apa adanya). Segalanya sudah digariskan oleh Allah, dan setiap yang terjadi pasti mengandung sebuah hikmah atau pelajaran. Maka terserah anda bagaimana akan menyikapi setiap takdir! Akan tersenyum selalu atau menangiskah? Yang jelas penulis mengajak diri sendiri dan kawan-kawan semua untuk sama-sama belajar mengamalkan ilmu ikhlas, supaya mendapat sorga di kehidupan selanjutnya, dan minimal bisa dapat putri Pak Kiai di kehidupan dunia.

Kedua kisah di atas hanyalah sebagian kecil dari potret pengamalan ikhlas. Namun dari sesuatu yang kecil tentunya kita berpeluang untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang besar. Maka jadilah kita orang-orang yang berbesar hati, sehingga ketika derita dan coba sedang melanda, hati kita masih tetap lapang, yang masih menyediakan ruang masuknya cahaya maupun udara. Tapi ketika ruang tampung hati kita sempit, maka sedikit cobaan saja yang kita hadapi, tak tau entah di mana kita akan menampungnya. Sehingga hati kita menjadi sumpek, penuh dengan derita dan gelap karena tak ada lagi ruang kosong dalam hati. Dan dalam kondisi hati seperti ini, manusia berpotensi untuk nekad karena tak kuat lagi menerima semuanya. Lalu anda akan memilih yang mana??

Cukup sampai di sini saja sang pena menorehkan tintanya. Adapun kisah selanjutnya bisa anda buktikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari!?[]

Kairo, 7 Mei 2008. Sebuah renungan singkat di sela peristirahatan menjalani skenario-skenario kehidupan selanjutnya yang telah digariskan Tuhan. Tak melalui referensi, karenanya hanya suara hati yang muncul begitu saja merespon fenomena yang mampu diserap indera. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang sedang menghadapi problem apa saja, terutama “cinta”. Semoga kita bisa ikhlas menjalani semuanya.Amin.

Baca Selanjutnya...!...

Do’a Bersama

Monday, May 05, 2008

Tuhan...
Sungguh indah kami membayangkan bisa berada di sebuah tempat yang tenang
Di hamparan padang rumput yang hijau, atau di pelataran gurun yang gersang, entah di bumiMu yang bagian mana,
Yang jelas tiada atap yang lebih indah selain langitmu, yang terkadang biru, pituh, abu-abu, atau bahkan jingga dan kelabu.

Tuhan, kami hanya ingin dapat berdo’a dengan damai
Tanpa diganggu oleh setumpuk persoalan dunia yang ruwet
Yang setiap saat mengganggu dan memaksa kami untuk melupa padaMu
Ohh... sungguh... kami hanya ingin mengadu
Menumpahkan segala kesumpekan dada
Yang sebenarnya kami sendiri yang menciptakannya
Biarlah rumput-rumput menjadi sakti dan pepohonan mengamini;
Tuhan,... titipkanlah sabar dalam hati kami
Ikatlah teguh dalam niat kami
Dan sisipkanlah cahaya dalam otak kami
Sehingga kami kuat menjalani perjalanan ini,
Yang penuh ujian, penuh cobaan dan tantangan.

Dipanjatkan pada acara hang-out Afkâr, al-Azhar Park, 09 April 2008, di pangkal malam dengan tingkahan cahaya temaram lampu taman, sebuah padang rumput yang lapang, ohh...!

Baca Selanjutnya...!...

IRONI


Konon, aku pamit pada ibuku untuk pergi menuntut ilmu
Bahkan aku telah pamit pada desaku akan berkelana selama beberapa purnama.
Bukan tanpa tujuan,
Tapi ini adalah perjalanan suci
yang pernah ditempuh para nabi dan wali.

Konon, aku katakan kepada mereka kepergianku bukan sekedar membuang usia
Tapi aku ingin mengembara memungut cahaya,
untuk menerangiku hingga di ujung waktu.
Aku pergi mencari terang,
dari kegelapan yang menyesatkan,
dari kebodohan yang menistakan.
Aku jengah dengan labirin panjang penuh tikungan nan membingungkan.
Aku ingin pergi bersama rembulan,
menapaki sunyi dalam perjuangan.

Konon, aku berjanji pada mereka semua yang kucinta
Bahwa kepergianku adalah untuk kembali
Memboyong cahaya, menyongsong rembulan dan terang
Menghapus pekat gelap desaku
Dari belenggu kebodohan, menuju gerbang ketercerahan yang membebaskan.

Namun sayang,
Kini janji itu telah terkulai lesu
Disergap gemerlap dunia yang ternyata melenakan.

Bukan cahaya yang kudatangi
Tapi justru semakin gelap hati ini
Tertutup noda-noda hitam yang menyesatkan.

Bukan terang yang kuhadapi
Tapi justru utopia-utopia maya
Yang semakin membingungkan
Tak sampai untuk memberi penerangan,
meluruskan jalan sendiri saja aku kebingungan.

Bukan pula rembulan yang menemani penjalanan
Tapi justru gerhana yang setiap hari kutemui
Aku tak tau harus bagaimana lagi
Mungkin aku tersesat di jalan ini
Sehingga terpelanting jauh dari janji yang kuucap sendiri!

Digaungkan pada acara hang-ut Afkâr, al-Azhar Park, 09 April 2008, hanya barisan catatan pengingat tentang sebuah niat!?

Baca Selanjutnya...!...

Nenek-nenek di Taman Kanak-kanak

Saturday, April 12, 2008

Di hadapanku nenek-nenek itu riang gembira; tertawa, berpose, foto-foto, bertepuk tangan, ngerumpi, bermain bola. Anda tau di mana saat ini aku berada bersama nenek-nenek itu? Di sebuah taman kanak-kanak, di satu ruas kota Kairo.

Aku yang sedang di rundung duka; ohh... cinta yang selalu membuatku gila! Kuhanyutkan diri dalam pelukan alam terbuka; bersama pohon-pohon, bunga dan rerumputan, di sebuah negeri yang sahara ini. Aku mencoba mendekati alam, menyapa kesejukannya untuk aku serap sebagai obat gila. Aku butuh energi murni, untuk dapat kembali berdiri menatap hari, menyambut senyum mentari yang setiap pagi akan selalu lahir atas kuasa Sang Pencipta. Tampaknya aku tepat memilih tempat untuk bersembunyi, dari setumpuk kesumpekan yang aku rasakan menghimpit di bebalik sekat-sekat ruang apartemen yang kotak-kotak. Aku berhasil merubah sunyi-sepi hati menjadi aroma riang, lapang dan murni.

Aku memandangi polah-tingkah nenek-nenek itu lagi, yang dalam senja umur mereka, mengeja hari seperti anak-anak kecil, bermain di dunia-dunia mereka, taman kanak-kanak; bermain bola, bersorak ceria, menikmati ice-cream dan coklat yang menemani mereka mengeja senja. Barangkali mereka telah lupa; rambut mereka telah berubah warna lalu rontok, tubuh mereka renta dan gembrot, mungkin selama ini mereka hidup sejahtera, berkecukupan bahkan bergelimang harta, sehingga di masa tua, mereka seakan berpotensi membeli waktu, untuk mereka putar balik ke masa muda. Lalu mereka bisa berkunjung ke taman-taman ria, bermain bola dan menggunakan kaos-kaki bercorak loreng merah-putih-hijau-orange dan lain sebagainya.

Ahh...aku yang masih muda...tak sepantasnya mengejek mereka. Lebih baik aku giat bekerja, agar di usia tua bisa menikmati hidup seperti mereka; riang gembira, bermain ke taman ria dan kembali ke usia muda, menjadi anak tua yang bermain bola!.

Cairo, taman kanak-kanak, 29 Maret 2008

Baca Selanjutnya...!...

Di sebuah Lorong Perjalanan Cinta

Sunday, March 30, 2008


I
Mencintaimu bukan sekedar untuk menunggu
Tapi ini sebuah tekad suci
Yang aku jalani sepenuh hati
Demi masa depan, menyongsong kebersamaan
Yang telah lama kita impikan.

II
Telah cukup lama kita telusuri loronglorong sunyi
Dalam kesendirian masingmasing yang sepi
Semuanya berawal dari pilihan
Segalanya dimulai dari keinginan
Untuk menyenangkan hati,
Memenuhi rasa,
Dengan menyatukan cinta.

Dan kini kita t'lah berada di tengah waktu
Dihujam rindu dalam himpitan bayang-banyang semu
Sementara perjalanan masih jauh
Menanyai hati apakah masih teguh?

Permulaan memang memang menawarkan impian & harapan
Namun pertengahan menghadirkan rintangan & cobaan
Sementara di akhir hanya ada dua pilihan; kalah atau menang!

III
Mencintaimu bukan seedar menuggu
Tapi aku ingin bertemu!
Mencintaimu bukan pilihan
Melainkan titah dari Tuhan!
Kalaupun boleh, aku tak akan memilih perjalanan ini,
Yang bagai labirin penuh duri
Sebab yang kuingini adalah pelabuhannya,
Terminal akhir pelaminan kita!!

Cairo, Taman Kanak-Kanak, 29 Maret 2008.

Baca Selanjutnya...!...

Skenario yang bagaimana lagi?

Aku,... Tuhan,... Ujian,...
Ujian apalagi ini?
Aku tak paham!
Tapi ayo,... silahkan!
Aku ikhlas menerimanya,
Walaupun mungkin akan berat dan sakit kurasa,
Tapi ayo,... aku rela, bahkan aku rindu ujian-Mu!
Aku rindu belaian kasih-Mu, yang selalu menegurku,
menuntunku untuk kembali mengingat-Mu
Ayo... bahkan aku ingin Kau uji aku, Tuhan...!
Tapi jangan yang berat-berat, ya...!
Aku takut gak kuat!
Aku kan hanya manusia yang Kau cipta lemah.
Tapi sungguh, terima kasih Kau masih mau mengujiku,
Itu berarti Kau masih sayang padaku,
Memberikan kesempatan padaku untuk naik kelas di sekolah-Mu,
Tapi mungkin juga aku tidak naik,
Maka tolonglah aku sehingga aku bisa lulus dari ujian-Mu,
menjadi juara di hadapan-Mu..!
Ooh... skenario apalagi yang hendak Engkau rancangkan untukku?
Duhai... ujian apalagi yang akan Kau sajikan padaku?
Tuhan,... tolong jangan Kau pisahkan aku dengan sebagian tulang rusukku,...
Sehingga aku menjadi mahluk lemah tak sempurna!!?

Griya Jateng-Kairo, 24 Maret 2008


Baca Selanjutnya...!...

Kebodohan


Tuhan,...
Pada sudut waktu luang aku bergumam tentang bagaimanakah diri gerangan: Aku yang sholat setiap hari namun dalam sholat aku tak khusyu'; paha ayam, sate, kibdah, burger, tuna bakar hingga telor ceplok melintas di benakku, wanita-wanita cantik nan molek menyambangi pelupuk mataku, harta, materi, dan segala jenis problematika dunia membayangiku.

Tuhan,...
Aku yang sedang sembahyang, namun masih kebingungan mencari arah tujuan! Ka'bah yang kau sediakan masih kalah oleh fatamorgana dunia sehingga aku tak mampu istiqomah.
Lalu dalam do'a aku lantunkan beribu permohonan, cita-cita dan tuntutan-tuntutan hak seorang hamba.
Namun bagaimana aku layak menuntut hak jika kewajiban masih belum kutegakkan!?
Aku meminta umur panjang yang penuh berkah, namun setiap detikku masih terbuang murah.
Aku meminta rizqi yang cukup tapi tak mau bergerak, tertelungkup berselimut.
Aku meminta ilmu yang dalam tapi tak mau menimbanya.
Padahal sudah Engkau panjangkan umurku hingga kumampu menuliskan puisi kebodohan ini, menghardik diri sendiri.
Padahal sudah Engkau beri aku karunia-Mu sehingga aku masih bisa makan setiap hari.
Padahal sudah Engkau bekali aku otak untuk dapat menampung barang sepercik samudra ilmu-Mu, namun aku tetap bebal, dungu dan tak tau malu.
Aku hamba-Mu yang hanya bisa meminta tanpa mau berusaha!
Bodoh!!!

Kairo-Mutsallats, 08 Januari 2008

Baca Selanjutnya...!...

Krisis Tauladan

Monday, March 24, 2008

Seiring perjalanan waktu yang kian menyeret manusia ke dalam lingkaran globalisasi, mereka dihadapkan pada sebuah tantangan besar: mampu beradaptasi atau tersingkir lalu mati. Di saat dunia gemerlapan dalam kemewahannya yang fatamorgana, kini manusia justru dihadapkan pada krisis multidimensional. Krisis ekonomi, krisis politik, krisis kepercayaan dan krisis-krisis yang lain, terutama krisis akhlak dan suri tauladan.

Pada zaman ini, tatkala cahaya surya semakin memanas, bumi pun mulai meleleh. Kabut gunung gelap lekat mulai turun ke permukaan mengelilingi kebenaran. Angin bertiup kawankan debu menghantam mata kaburkan pandangan. Dunia silau satu pilihan; kebenaran-kebathilan campur baur tanpa perbedaan. Kali ini manusia sungguh dipermainkan.

Akibat berbagai terpaan krisis multidimensional itu, manusia banyak yang berbalik arah. Kali ini, manusia terpelanting jauh dari ajaran-ajaran agama. Akhlak tak lagi mulia, norma tak lagi dijaga, dan manusia mengejar apa yang ingin mereka kejar dengan menghalalkan segala cara. Ohh... zaman apa ini, dan kenapa pula dengan manusia-manusianya? Apakah mereka telah lupa dengan akhirat? Apakah mereka telah hilang pegangan, sehingga tak tau arah mana yang akan ditempuh?

Wahai saudaraku, Tuhan Yang Maha Bijaksana telah mengutus kepada kita seorang Rasul yang mulia. Ia datang dengan membawa cahaya kurang lebih 15 abad yang lalu. Ia diutus untuk menyampaikan risalah suci, mengeluarkan manusia dari lembah kenistaan menuju istana abadi melalui ilmu dan akhlak. Maka semenjak diutus, ia secara seksama penuh kesabaran yang tiada tara telah menggembleng manusia dengan perbaikan-perbaikan moral sebagaimana termaktub dalam sabdanya:

« إنما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق ... »
"sesungguhnya, tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak"...

Dan dalam kitab suci al-Qur'an, Allah Swt. secara tegas berfirman dalam surat at-Taubah ayat 128:

لقد جآءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم

Artinya: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas-kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin" (Q.S. at-Taubah: 128).

Kawan... tidakkah cukup Nabi Muhammad Saw. menggunakan harf Qashr yang berfaidah hashr di awal sabdanya? Bahwa ia sejatinya tidak diutus ke muka bumi ini kecuali untuk menyempurnakan akhlak manusia sehingga mereka menjadi lebih beradab! Dan kurang jelas bagaimana Allah menggambarkan sifat mulia Nabi dalam firmannya tadi; seorang Rasul telah diutus dari bani Adam kepada segenap bani Adam untuk mengajarkan apa yang sepantasnya dilakukan oleh bani Adam dalam kehidupan dunia. Ia yang akan merasa menderita ketika umatnya menderita. Yang ia inginkan tiada lain hanyalah keselamatan umatnya yang senantiasa ia dakwahi dengan penuh kasih sayang dan kelembutan rasa. Lalu bagaimanakah kita saat ini?

Sebuah pertanyaan besar, apakah kita telah mampu mencontohnya, dan menjadikannya idola nomer 1 sebagai suri tauladan dalam segenap lini kehidupan? Bagaimana kabar akhlak kita? Apakah masih kokoh sebagaimana yang diajarkan Nabi, atau sudah runtuh diterpa angin westernisasi?

Kawan, sebelum kita terlalu jauh melenceng dari ajaran kitab suci, marilah kita kembali merenungi dan mentadaburi segenap isi dan kandungannya. Sehingga kita mampu menyelamatkan diri dari lembah kegelapan; krisis tauladan dan kemerosotan budi. Simaklah sebuah ayat cinta dari Tuhan, yang mendorong kita mengambil suri tauladan dari Rasul-Nya, karena akhlaknya tiada lain adalah representasi ajaran al-Qur'an. Ia laksana al-Qur'an hidup yang berjalan di antara kerumunan manusia untuk memberikan contoh prilaku yang benar:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut asma Allah" (Q.S. al-Ahzâb: 21).

Sungguh tiada idola lain yang pantas kita idolakan di dunia ini kecuali Nabi. Tiada suri tauladan yang lebih mulia di muka bumi ini selain Nabi. Maka sebagai manusia yang mengakui bahwa kita adalah umatnya, marilah kita sama-sama mencoba untuk ber`itba' kepadanya. Yaitu dengan memupuk cinta yang dalam kepadanya, sehingga setelah ada cinta, kita pun akan merasa ringan dan nyaman untuk melaksanakan apa yang diinginkan oleh yang dicinta.

Bulan ini adalah bulan agung di mana dahulu ia dilahirkan, Muhammad sang suri tauladan. Maka puisi salamku kuhaturkan kepadamu;

يا نبى سلام عليك ... يا رسول سلام عليك
يا حبيب سلام عليك ... صلوات الله عليك

Baca Selanjutnya...!...

DI BAWAH BAYANG-BAYANG; Potret Jauh Sebuah Civitas Akademika*

Friday, February 29, 2008


Oleh: M. Luthfi al-Badi’ie**

Saat ini Masisir tengah dihadapkan pada sebuah babak baru. Babak baru ini setidaknya ditandai oleh beberapa hal yang baru pula. Pertama; kedatangan Dubes baru, kedua; kedatangan mahasiswa baru, ketiga; munculnya beberapa kebijakan baru, baik dari pihak KBRI maupun pemerintah setempat, keempat; maraknya berbagai masalah baru, mulai dari krisis identitas (baca: identitas Masisir yang mulai pudar) hingga kasus-kasus kriminalitas yang menimpa Masisir dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sebagaimana yang telah jamak diketahui bahwa, kursi Duta Besar RI untuk Mesir sempat mengalami masa vakum selama kurang lebih 2 tahun, yaitu terhitung sejak 2005 akhir hingga 2007 akhir. Selama masa kekosongan ini ternyata cukup berpengaruh terhadap proses birokrasi maupun arah kebijakan; baik antara Masisir-KBRI, antara KBRI-pemerintah Mesir, dan atau antara pemerintah Mesir–Masisir. Yang terasa sejauh ini adalah, bahwa implikasi kekosongan itu berimbas pada citra Indonesia di mata Mesir yang semakin pudar (baca: hubungan bilateral dua negara yang kurang sinergis), yang pada level tertentu hal itu berefek pada turunnya kemaslahatan Masisir dalam berbagai ijro’at.

Semacam ada perasaan dongkol yang menyeruak hebat ke dalam benak ketika menyaksikan martabat bangsa diinjak-injak. Walaupun hal itu terjadi secara tidak langsung memang, namun tak tau entah mengapa kesan diremehkan itu justru terasa secara langsung dan reflektif merespon berbagai ketimpangan yang ada. Taruh saja saat ini “kita” seakan masih dipandang sebelah mata oleh Mesir. Beberapa kasus kecil yang memicu rasa dongkol itu antara lain tercermin dalam proses ijro’at Visa di kantor imigrasi Mesir (Cab. Madinat Bu’us khususnya) maupun penanganan kasus kriminalitas yang kurang sigap dari pihak yang berwajib. Ketika hari Sabtu jadwal pengurusan Visa itu berbarengan dengan mahasiswa Malaysia, mahasiswa Indonesia diakhirkan. Dan ketika hari Senin berbarengan dengan mahasiswa Rusia, mahasiswa Indonesiapun dibelakangkan; kenapa bisa seperti itu? Tatkala kondisi keamanan semakin memburuk, pantaskah jika kita (sebagai tamu di negeri orang) melakukan patroli maupun ronda sendiri berbondong-bondong bak pasukan jihad mau menangkap para musuhnya? Lalu dari situ apa kata dunia ketika kita yang notabenenya hanya penuntut ilmu justru terpaksa atau dipaksa menenteng “senjata” kemana-mana untuk berjaga-jaga, bagaimana perasaan anda?

Hipotesa yang mungkin masih sangat prematur di atas tentu saja bukan bermaksud untuk mencari kambing hitam terhadap berbagai permasalahan yang muncul selanjutnya. Namun lebih kepada bagaimana kita melakukan otokritik yang membangun sehingga dari situ kita bisa melakukan perbaikan. Dengan kedatangan Dubes baru rasa rindu Masisir terhadap kehadiran seorang pengayom di negeri rantau ini sedikit terobati. Masalah demi masalah, kasus demi kasus telah mulai mendapat titik cerah solusi. Kedatangan Maba yang secara merata mundur bisa segera teratasi ketika sesosok Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh melancarkan komunikasi dari berbagai arah. “Mesir” sedikit demi sedikit mulai membuka matanya yang lain setelah sebelumnya mereka tutup rapat menatap acuh dan sinis terhadap ”kita”.

“Dubes doyan akademis”. Begitulah salah satu media Masisir (baca: Arus Kampus) mengusung sebuah jargon dalam rubrik wawancaranya. Iya, setiap Dubes yang pernah “bertahta” di negeri Musa ini tentunya mempunya kecenderungan masing-masing. Nah, Dubes kita kali ini kebetulan mempunyai kecenderungan yang sangat besar dalam mengentaskan keterpurukan Masisir dalam bidang akademis. Siapa coba yang tak prihatin melihat kuantitas yang tak sebanding dengan kualitas? Semakin derasnya arus kedatangan mahasiswa Indonesia ke Mesir sejak tahun 2004 yang mencapai angka 1000 lebih per tahun ternyata justru menimbulkan berbagai efek negatif. Sesuai data yang kami peroleh dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, bahwa prosentase kegagalan Masisir pada Tahun Ajaran 2005/2006 lebih besar (53%) ketimbang yang lulus (47%). Namun pada tahun 2006/2007, alhamdulillah kurva kelulusan Masisir sedikit meningkat dan lebih besar (55%) ketimbang yang gagal (45%). Walaupun angka kenaikan itu hanya mencapai 8%, namun setidaknya hal itu bisa menjadi indikasi mulai bangkitnya kembali gairah belajar Masisir. Benarkah demikian?

Melihat kondisi yang cukup parah ini berbagai langkah menuju perbaikan ditempuh oleh sang Dubes. Di antaranya adalah sebuah ide besar untuk menyelenggarakan Lokakarya yang akan mengumpulkan seruluh Stakeholders (pemangku kebijakan) guna membincang ihwal Masisir beserta hal-hal apa saja yang bisa mereka cetuskan untuk memperbaiki kualitas SDM Masisir. Telah sejak lama ide itu muncul dan berbagai langkah untuk merealisasikannya telah ditempuh. Namun hingga saat ini berbagai pro dan kontra justru muncul dari pihak Masisir itu sendiri, antara yang setuju agenda itu dilaksanakan atau tidak. Yang jelas, sampai detik dimana tulisan ini tercatat, pihak KBRI melalui PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) masih terus melakukan komunikasi dengan pihak mahasiswa terkait pelaksanaan agenda ini yang rencananya akan digelar 12-13 April mendatang.

Setelah beberapa saat mencoba meraba dan membaca kondisi mutakhir dari “gedung putih”, kini saatnya kita membaca kondisi Masisir secara umum. Masih banyak yang terlelapkah, atau justru bermunculan berbagai gejolak di benak mereka(semacam rasa ingin berontak), atau justru terdiam di rumah ketakutan pasrah terhadap kondisi lingkungan yang semakin mencekam?

Terlelapkah? Mungkin iya, masih banyak yang acuh atau sudah tahu tapi tak mau tahu terhadap kondisi dirinya sendiri yang sebenarnya masih jauh dari sifat pantas untuk disebut sebagai seorang akademisi. Dengan demikian mereka tidak ambil pusing memikirkan dirinya sehingga tetap menjalani hidup sebagaimana “masyarakat purba”, hanya makan-minum, bermain-tidur, memenuhi kebutuhan biologis, belajar dengan sangat sederhana, hanya ruang-ruang tertentu itu saja yang mereka kunjungi, hanya aktifitas itu-itu saja yang mereka lakukan.

Bergejolakkah? Sebagai kaum “dewasa” yang berfikir tentu saja banyak gejolak yang muncul merespon berbagai hal baru di sekitarnya. Antara lain seperti yang telah tertulis di atas, yaitu munculnya pro dan kontra atas “niat agung” penyelenggaraan lokakarya stake-holders. Lalu riak-riak lainnya juga muncul merespon kebijakan mulia Dubes yang seakan memberikan perhatian penuh terhadap pendidikan, akademis, kampus, kuliah, ujian, dengan seakan melupakan bahwa kreatifitas manusia itu bermacam-macam dan sangat beragam. Seni-budaya, olah raga, dan hal-hal lain di luar muqarrar dan kampus seakan dikesampingkan. Apakah hidup dan dunia ini sesederhana itu? Justru yang mereka rasakan adalah proses peninabobokan dan dianggap masih seperti anak kecil yang harus dituntun terus menerus. Catatan; “niat baik tidak selalu diterima dengan baik pula”. Karena baik menurut seseorang belum tentu baik menurut orang lian. Terbuktikah?

Terdiamkah? Iya mungkin ada yang diam saja, tapi ada juga yang selalu ingin bergerak entah dengan daya apa karena dilandasi sebuah keinginan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Nah, terlepas dari segala lika-liku kehidupan di atas, beberapa pertanyaan besar yang patut diindahkan oleh setiap elemen adalah: “bagaimanakah kualitas hidup kita? Apakah kita telah menjalani kurnia hidup ini secara optimal? Sebagai seorang ulil amri bagaimana? Dan sebagai seorang pelajar juga bagaimana? Apakah lingkungan kita telah mencerminkan lingkungan para akademisi; kampus, majelis diskusi, perpustakaan, kamar belajar? Atau tak lebih hanya medan kebebasan total yang menawarkan sejuta kenikmatan hidup tapi sebenarnya hampa?

Alhasil, pertanyaan-pertanyaan itulah yang hingga kini membayangi Masisir. Masisir sedang berdiri di bawah bayang-bayang ketakutan, bayang ketidakjelasan masa depan, bayang tuntutan survive dan sukses, yang sebenarnya banyangan itu ada karena mereka sendiri yang menciptakan?. Masih tetap ada berbagai usaha yang akan dan bisa ditempuh. Bukan hanya dari pihak stakeholders, tapi dari para grassroot yang sadarpun akar turut berperan dalam proses perbaikan citra maupun kualitas yang diharapkan. Walaupun sketsa yang ada saat ini masih sangat jauh dari nilai kepantasan, namun potret yang lebih baik akan bisa dihasilkan dengan meneguhkan kesadaran akan pentingnya meningkatkan kualitas hidup; dalam belajar, dalam bermasyarakat. Karena manusia adalah tercipta lemah, maka ia membutuhkan orang lain untuk dapat bersinergi.Wallahu a’lam![]

*) Tulisan ini telah dimuat di Buletin Prestâsi Kelompok Studi Walisongo edisi 77 Februari 2008.
**) Mahasiswa tk. 3 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir, Wartawan ndal-ndul, Santri Afkar for Aufklarung, Ketua Misykati.

Picture taken from: http://cefil19.blogspot.com/2007_11_01_archive.html

Baca Selanjutnya...!...