Catatan Ujian 4 – “Kafa bil Mauti Wa’idzo”

Sunday, January 14, 2007

Sore hari sebelum ujian ke-4 (13/01/’07) tiba-tiba tubuhku terasa sakit. Kepala terasa panas dan hidung meler. Tiba-tiba aku flu, badan meriang-meriang. Padahal keesokan harinya ada materi ujian Manthiq yang konon ceritanya banyak menelan ‘korban’. Terbukti beberapa temen banyak yang gagal dalam ujian materi ini dan harus mengulang di tahun berikutnya. “Ahh...walau bagaimanapun keadaannya aku harus tetap bertahan dan berjuang melawan rasa sakit ini, i must be survive!!”.

“wah, malam ini menu dinner kita apa nih?”, nyletuk salah satu temen rumah melempar pertanyaan. “bikin sup ayam yuuk!”, temen yang lain menyahuti. “ayuukuk!!”, serempak temen-temen yang lain menjawab. Karena seluruh anggota keluarga sudah setuju maka kita langsung bagi-bagi tugas. Aku dan Faiz kebagian belanja bahan-bahan yang diperlukan termasuk ayam, wortel, brokoli, dll. Sedang Brownies alias Tobtob yang kebagian masak dan yang lain tetep staycune belajar untuk persiapan ujian besok.

Belanja telah beres, lalu Tobtob segera mengeluarkan segenap jurusnya untuk bikin sup ayam. Jadilah sup ayam itu dalam waktu yang relatif singkat namun tidak mengurangi kelezatan rasanya. Emm...lezatt, setidaknya bisa buat doping flu dan persiapan energy buat ujian esok. Si Tob emang terhitung anggota rumah paling lihai dan kreatif kalo soal urusan masak. “Makasih Tob sup ayamnya, setidaknya itu bisa mengurangi pusing kepala dan meriang-meriang”.

Selepas makan malam langsung start belajar lagi. Untung Dosen Mantiqnya baik hati. Sebab materi yang akan diujikan tidak sebegitu banyak seperti materi-materi lainnya. “Cayoo...belajar...belajar...semangat men, semangat”, begitulah biasanya kami memberikan semangat pada diri sendiri dan temen serumah.

◊◊◊
Duuhh, pagi ini dingin banget. Pukul 07.45 WK aku keluar rumah dengan mas Agus, namun sang surya pun tak menampakkan sedikit senyumnya, gelap. Ugghhh....sueerr pagi ini sungguh dingin. Apalagi sesampainya di kuliah pun tak langsung masuk kelas dan masih menunggu di luar seperti biasa, tubuh terasa semakin menggigil. Belajarpun semakin tak nyaman.

Di dalam ruangan ujian aku kembali sedikit muraja’ah pelajaran sembari menunggu waktu ujian mulai. “Yallah ya Syabab, ithla’ kutub ‘uddam, kam sa’ah dilwa’ti?” (ayo, segera kumpulkan buku dan tas ke depan, kalian tau jam berapa ini), begitulah biasanya para pengawas memberi instruksi tanda waktu ujian segera dimulai.

Lembar jawaban dibagikan beserta lembar soalnya. Aku baca. Alhamdulillah, ada 3 soal dan setidaknya aku masih bisa mengerjakannya walaupun tidak sempurna. ternyata soal yang diberikan dosen tidak sesulit yang aku bayangkan. Meski demikian aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengerjakannya. Pasalnya materi kali ini cukup rumit, njelimet dan butuh ketelitian. Soal-soal yang keluar diantaranya adalah pembahasan tentang proposisi kategoris (qadhiyah hamliyyah), hukum kontradiksi (tanaqudh), dan silogisme (qiyas). Alhamdulillah, wallahul muwaffiq, Tuhan berikan aku kesehatan!.

◊◊◊
Cukuplah Dengan Sebuah Peristiwa Kematian Untuk Menjadi Petunjuk dan Peringatan

Sesampainya dirumah rasanya ingin segera istirahat. Dengan harapan itu bisa mengurangi rasa pusing dan meriang-meriang. Namun tak disangka, ketika sampai di rumah yang aku terima adalah berita duka. Ada salah seorang mahasiswi al-Azhar asal Sumeneb Madura Indonesia yang baru saja meninggal dunia. Namanya Luqmatul Karimah, ia adalah salah seorang alumni Ponpes al-Amin Perendoan Madura. “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, spontan aku mengucap kalimat istirja’ itu.

“bukannya baru kemaren sore kalian melaksanakan do’a bersama untuk kesembuhan beliau?, tapi ternyata Allah menghendaki lain, ia justru dipanggil oleh Allah secepat itu”. Selidikku kepada salah satu temanku yang juga alumni dari pondok yang sama. “iya, semalam kita baru saja mendo’akannya, tapi sekarang ia sudah tiada!”. Jawab temanku tadi.

Usut boleh usut ternyata beliau memang didera penyakit komplikasi. Asalnya Cuma satu, namun lama kelamaan penyakit itu merembet-rembet dan menggerogoti organ tubuh yang lain termasuk paru-paru dan liver. Inna lillah..!

“kafa bil mauti wa’idzo!”. Begitulah satu kalimat yang aku dengar pertama kali dahulu ketika buyutku meninggal. Kalimat itu di sampaikan oleh KH. Wahab Hafidz, Lc. dalam kesempatan khutbah mayyit mengantar pemberangkatan mayat buyutku ke pemakaman. “Sesungguhnya telah cukup dari sebuah peristiwa kematian untuk dijadikan i’tibar bagi manusia lain yang masih hidup. Bahwa semua yang hidup pasti akan mati dan tiada seorangpun yang tahu kapan ajal akan menjemputnya. Ia bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apapun. Tidak yang tua, tidak pula yang masih muda, ia tidak pernah pilih kasih. Maka tiada alasan apapun untuk menunda sebuah ibadah. Tiada alasan satupun untuk menunda melakukan kebaikan. Segera berbenah dan segera bertaubat”. Begitulah kurang lebih pidato beliau 3 tahun yang lalu.

Namun manusia sungguh begitu bebal. Kematian bukan lagi menjadi pelajaran. Apakah karena memang terlalu sering setiap hari terjadi kematian, sehingga ia hanya menjadi tagedi biasa? Maka perlu apalagi untuk bisa menyadarkan manusia. Bumi sudah banyak diguncangkan, laut ditumpahkan, gunung diledakkan, pesawat hilang, kapal tenggelam. Apakah perlu Tuhan turut langsung campur tangan untuk menunjukkan kekuasaannya; seperti kejadian foto hasil semburan api lumpur Lapindo misalnya?? Atau bahkan hanya dengan kehancuran dan kehancuran bumi menuju titik akhir lalu manusia baru tersadar? Itu pun belum jaminan!! (gerbangtiga, 14-01-’07).

3 Komentar:

Anonymous said...

Kami ingin lihat hasil ujian anda selanjutnya!sukses!
Iwanka

M. Luthfi al-Anshori said...

trima kasih buat sahabat yang telah bersedia mampir. Semoga hampiran sabahat adalah juga sebagai do'a buat saya. Ujian memang akan selalu ada dan datang. yang jelas kita akan tetap berusaha seoptimal mungkin untuk menghadapinya, namun masalah hasil, hanya TUhan yang berhak menentukan...

aris_eldurra said...

yaa..betul kematian seseorang\\ cukup jadi pering\\atan bag\i kita...tulisan kamu cukup bisa menggerakkan dan membangkitkan sebuah kesadaran..sukron