Dakwah dan Kapsul

Tuesday, June 19, 2007


Seringkali orang masih getol menerjemahkan teks secara leterlijk-tekstual. Hasilnya, apa yang diinginkan terkadang justru kontraproduktif. Ironisnya lagi hal ini masih berlaku juga dalam lingkup dunia dakwah. Sebuah sabda Nabi yang sudah sangat masyhur; “qul al-haqqa walau kâna murran”, pun diartikulasikan sebagai dalil untuk berbicara lantang dan bertindak tegas dalam menyerukan kebenaran. Jika itu salah, maka dengan tegas dan terus terang harus dikatakan salah. Dan jika ini benar, maka juga harus dikatakan benar.

Secara sekilas statemen di atas memang benar. Bahwa sebuah kebenaran memang harus dibenarkan dan kebathilan harus dihapuskan. Namun dalam tataran praksis hal itu tidak serta-merta bisa diterapkan secara saklek. Banyak contoh kasus yang secara eksplisit menyatakan bahwa praktek dakwah yang kaku semacam itu justru menimbulkan penentangan (minimal perasaan dongkol) dari pihak audience. Bahkan bisa jadi seorang audience akan sampai pada tindakan mencegat bahkan mengancam sang da’i jika dirasa apa yang disampaikannya terlalu kaku dan keras merobek-robek adat atau tatanan masyarakat yang sudah ada sebelumnya.

Seorang da’i, dalam disiplin ilmu dakwah disebutkan minimal harus memiliki beberapa kecakapan dan kemampuan keilmuan yang cukup untuk menjalankan proses dakwah. Diantaranya adalah ilmu bahasa, sosial dan psikologi. Di samping itu ia juga harus mempunyai kesiapan mental serta material yang cukup untuk menopang aktifitas dakwahnya. Dan jika beberapa hal di atas tidak dimiliki seorang da’i, proses dakwah yang diembannya bisa jadi akan sia-sia dan tidak tepat sasaran.

Melalui kecakapan bahasa, seorang da’i dengan elok dan menawan akan mampu menyampaikan materi dakwahnya secara optimal dan lugas. Dengan ilmu sosial, seorang da’i setidaknya bisa membaca dan menganalisa secara cepat bagaimana kondisi sosial masyarakat setempat yang akan dijadian sebagai obyek dakwah. Dan dari situ ia akan mampu menyesuaikan gaya serta materi penyampaian sesuai dengan latar belakang dan karakter masyarakat tersebut. Masyarakat desa tentu tidak akan nyambung dengan urusan politik, perekonomian maupun materi-materi lain yang sekiranya berat dan di luar jangkauan keseharian mereka. Berdakwah untuk mereka juga tak mungkin menggunakan gaya bahasa intelektual yang banyak diserap dari berbagai bahasa asing. Begitu juga sebaliknya, model dakwah untuk masyarakat desa belum tentu cocok untuk diterapkan di kota. Maka intinya adalah bagaimana seorang da'I bisa bersikap proporsional dalam “mengukur kedalaman sungai yang akan disebrangi”.

“Khâtibu an-Nâsa ‘ala Qadri ‘Uqûlihim” begitulah sabda Nabi yang mengajarkan sebuah metode dakwah yang juga telah diterapkan oleh Nabi-nabi sebelumnya. “Sampaikanlah dakwah, risalah, maupun nilai-nilai lainnya kepada manusia sesuai kadar kemampuan otak mereka”. Betapa bijak memang kandungan Hadits di atas. Bahwa setiap masyarakat memang diciptakan berbeda-beda dan beraneka ragam corak budaya dan adat istiadatnya. Dan pada gilirannya hal itu juga mempengaruhi tingkat kecerdasan berpikir dan daya tangkap mereka terhadap sesuatu yang baru. Maka bagi setiap da’i seyogyanya bisa arif menangkap setiap perbedaan-perbedaan tersebut, lalu mempersiapkan materi beserta bumbu-bumbunya yang sesuai dengan karakter masing-masing masyarakat.

Sabda “Qul al haqqa walau kâna murran” lagi-lagi tidak harus diterapkan secara saklek dan kaku. “Sampaikanlah kebenaran walaupun itu rasanya pahit”. Menggenggam amanat dakwah adalah bukan hal yang remeh. Apalagi jika kita menilik konteks kekinian, maka kita akan menjumpai berbagai aral dan tantangan yang setiap saat siap menghadang. Iya. Mengemban amanat dakwah pada masa sekarang adalah laksana menggenggam bara api yang setiap saat siap membakar diri sendiri.

Maka sejenak mari kita mengamati falsafah "kapsul". Bahwa kandungan obat yang terbungkus di dalamnya sejatinya adalah pahit. Pahit bahkan getir jika ia ditelan secara langsung tanpa ada pembungkus berupa “kapsul”. Maka dari sini kita mengambil sebuah kesimpulan bahwa sesuatu yang hakikatnya pahit tidak harus ditelan secara pahit pula. Namun kepahitan itu bisa dihindari dengan memberikan pembungkus yang rapi dan nyaman.

Mari kita analogikan dan kita singkronkan dengan sabda Nabi di atas; “Sampaikanlah kebenaran walaupun itu rasanya pahit”. Seorang da’i, dalam kaca mata syar’i adalah ibarat dokter yang secara komprehensif mendata dan mendiagnosa gejala-gejala penyakit yang ada dalam masyarakat. Maka dari situ ia akan memilih dan memilah obat apa yang kira-kira cocok untuk masyarakat tertentu. Dan selanjutnya adalah proses pengobatan yang tiada lain adalah praktek dakwah itu sendiri. Maka muatan dakwah atau materi pengobatan maupun penyuluhan yang hakikatnya mungkin terasa pahit sepahit obat atau pil, bisa jadi disiasati supaya tidak diterima pahit pula oleh masyarakat. Untuk itulah kecakapan seseorang dalam mengolah kata itu diperlukan. Dan hal itu terkembali pada sejauh mana seorang da’i mempunyai kemampuan berbahasa yang maksimal.

Iya. Sebuah materi yang substansinya pahit karena itu akan memperbarui bahkan merombak tatanan-tatanan yang sudah ada sebelumnya dalam sebuah sistem masyarakat tidak harus disampaikan untuk dikomsumsi secara pahit pula. Namun ibarat obat pahit yang berada dalam kapsul ia menjadi tidak pahit ketika dikonsumsi, karena telah dibungkus dengan sesuatu yang baik yang sudah diramu dan diolah oleh tangan-tangan profesional. Maka, “sampaikanlah kebenaran yang substansinya terasa pahit namun bisa diterima dengan tanpa rasa, tanpa disadari dan hal itu secara alami akan merasuk ke berbagai jaringan syaraf dan sel, namun memberikan efek perubahan signifikan menuju arah perbaikan dan penyembuhan”. Wallahu a’lam!

M. Luthfi al-Anshori
Mutsallas-Hay Asyir-Nashr City, 18 Juni 2007, 10.02 WK.

2 Komentar:

mademoiselle*bee said...

filsafat tentang kapsulnya menyentuh hatiku..

cuman rasanya ada sesuatu yang nggak tepat. besok aja lah...

M. Luthfi al-Anshori said...

yah Bee...kok nanggung seh comment-nya. kapan-kapan diterusin lho ya. koreksi, kritik dan saran akan sangat membantu dalam proses pembelajaran menuju ke arah yang lebih baik.

anyway thx deh poko'e...