Mesir yang Aneh, Lucu dan Menjengkelkan

Monday, October 01, 2007


Pada Sabtu kemarin (29/9), kami (Grup Hadrah “An-Nahdlah”) berkesempatan untuk menghadiri sebuah seminar international yang diselenggarakan oleh “Jam’iyyah Syarqil Ausath li as-Salâm wa Huqûq al-Insân” di Perpustakaan Umum Mubarak, Giza. Satu hari sebelumnya, Jum’at (28/9) kami menerima tawaran itu dari Muhyiddin Basrani, Koordinator Lembaga Seni dan Budaya (LSBNU) Mesir yang kebetulan menerima informasi itu langsung dari Muhlason Jalaluddin, Lc, ketua Tanfidziyah PCINU Mesir. Mendengar bahwa kami akan diundang dalam sebuah seminar berskala internasional untuk berpartisipasi membawakan sebuah kesenian Islam Indonesia, tentu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Pada awalnya kami agak merasa kecewa karena beberapa personel inti kami menyatakan tidak bisa ikut karena bertabrakan dengan jadwal acara lainnya. Namun setelah melalui nego dan beberapa pertimbangan, akhirnya seluruh tim menyatakan siap untuk tampil. Alhamdulillah.

Sabtu malam pukul 19.00 CLT, kami telah berkumpul di Griya Jawa Tengah menunggu jemputan dari KBRI yang akan mengantarkan kami ke tempat seminar. Pertama kami meluncur ke arah Dokki karena menghampiri dua orang personel yang ada di sana, juga untuk menjemput Bpk. Muhammad Salim, salah satu Staf Atdikbud KBRI yang akan berangkat bersama-sama kami. Dari Dokki meluncurlah mobil el-tramco yang membawa kami menuju Giza, tempat Perpustakaan Umum Mubarak berada. Sampai di sana pukul 20.40. Lalu kami diberitahu oleh salah satu pegawai perpustakaan bahwa acara akan dilaksanakan di Auditorium Seminar Perpustakaan yang terletak di lantai 4. Ahh..sayang lift yang ada nampaknya tidak bekerja dengan baik, maka kami terpaksa naik melalui tangga biasa.

Beberapa saat kemudian, sampailah kita di lantai 4 lalu ditunjukkan dimana Auditorium itu berada. Memasuki Auditorium, hati kami tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Ada beberapa kesan yang terpotret oleh mata kami. “Loh…kenapa tempatnya sedehana banget. Penataan kursinya juga masih berantakan. Trus back-ground-nya mana? Kok seakan-akan gak ada “hawa” mau diadakan acara dalam ruanagn itu”. Demikianlah sekilas kesan aneh yang kami rasakan menatap kondisi ruangan seminar.

Lalu keanehan selanjutnya; “bukankah ini seminar internasional? Apalagi diselenggarakan di Perpustakaan Umum Mubarak yang notabene membawa nama baik Presiden Mesir. Apakah itu tidak memalukan jika muncul kesan dari para undangan bahwa acara ini terkesan tidak terkonsep secara rapi? Lalu dimana pula para panitianya? Gak ada satupun orang diruangan itu yang nampak seperti seorang panitia”.

Kamipun kemudian menanyakan keadaan yang “carut-marut” ini kepada Pak Salim yang katanya tahun lalu juga sudah pernah menghadiri acara yang sama. Menurut keterangan beliau, agenda semacam ini memang rutin diadakan setiap tahun. Pada bulan Ramadhan tahun lalu, perwakilan Indonesia juga diminta untuk berpartisipasi dalam seminar semacam ini yang diwakili oleh Grup Nasyid Da’i Nada. Dan tahun ini kebetulan Indonesia mewakilkan utusannya kepada Grup Hadrah “an-Nahdlah” PCINU Mesir. Naifnya, acara tahun ini juga terkesan tidak ada perubahan dari tahun sebelumnya yang juga “carut-marut” dan tidak ada kesiapan dari pihak penyelenggaranya. KBRI beritanya tahun lalu sudah memberikan beberapa kritik maupun saran berkenaan dengan penyelenggaraan acara semacam ini. Namun hasilnya masih tetap nihil. Tak ada respon. Lucu memang! Acara berskala internasional tapi segi profesionalitasnya di bawah rata-rata mahasiswa Indenoesia Mesir (Masisir) dalam hal penyelenggaraan sebuah acara.

Sejurus kemudian, muncul dua orang panitia yang nampak menenteng sebuah spanduk. Mungkin itu yang akan dipasang sebagai back-ground panggung. Nah, ternyata benar. Spanduk itu lalu dipasang dengan bertuliskan seperti di bawah ini:

Kemudian, perasaan dongkol itu kembali muncul tatkala kita sudah menunggu selama bermenit-menit bahkan hampir satu jam diruang seminar tanpa ada jamuan, penyambutan, maupun ramah-tamah dari pihak penyelenggara. Yahh….kami dicuekin gitu aja! Sungguh tidak berperasaan! Ughh..! Sudah begitu yang muncul kemudian adalah gaduh dan riuh karena kedatangan beberapa wartawan stasiun televisi dan radio yang berebutan untuk melakukan wawancara, baik dengan penyelenggara maupun para tamu undangan. Diantara beberapa negara yang diundang adalah Indonesia, al-Jazair, Sinegal, Sudan dan Kazakstan. “Menjengkelkan! Ini acara yang sebenarnya wawancara atau seminar sih?”

Namun sedikit yang menjadi obat penawar kekecewaan kami, walau bagaimanapun bentuk atau wujud acara itu, yang penting nanti kita bisa masuk TV. Entah yang hadir sedikit atau banyak, yang jelas gaung kita bisa disaksikan dimana saja melalui stasiun televisi yang saat itu hadir. Bahkan penulis sendiri, sebagai koordinator Grup Hadrah sempat diwawancarai oleh dua stasiun televisi. Yang pertama adalah “O” TV, sebuah stasuin televisi lokal Mesir dan yang kedua adalah dari stasiun televisi Irak. Topik wawancaranya adalah seputar adat istiadat, ritual keagamaan, bahkan hingga pada masakan khas Indonesia yang ada (khususnya) pada bulan Ramadhan. Di samping itu, penulis juga diwawancarai seputar bentuk keikutsertaan kami (an-Nahdlah) dalam acara ini. Ahh…lumayan, setidaknya bisa masuk TV!

Eit…sebentar. Nampaknya masih ada lagi keanehan serta kelucuan yang terlihat dalam penyelenggaraan acara ini. Antara lain adalah; bahwa kedatangan para wartawan stasiun televisi dan radio itu seakan-akan memang telah direncanakan, atau dengan bahasa lain telah diundang atau diajak kerjasama oleh pihak penyelenggara. Hingga pada saat berlangsungnya acarapun, yang mengatur bahkan mengontrol acara adalah justru wartawan itu sendiri dan bukan panitia. Waah..sunguh aneh memang orang Mesir. Tapi satu sisi terlihat pintar, atau licik?. Acara yang sebenarnya tidak begitu hebat, namun bisa di blow-up sedemikian rupa hingga seakan menjadi acara yang besar karena disiarkan oleh beberapa stasiun televisi lokal maupun internasional, juga diliput oleh radio, koran dan majalah.

Setelah molor beberapa lama, akhirnya acara dimulai pukul 21.45 dan dipimpim langsung oleh Abdul Fatah Hamid selaku panitia seminar, sekaligus ketua dari “Jam’iyyah Syarqil Ausath li as-Salâm wa Huqûq al-Insân”. Telah hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut masing-masing perwakilan dari al-Jazair, Sinegal, Kazakstan dan Sudan. Sementara Indonesia, pada kesempatan itu tidak diminta untuk menjadi salah satu pembicara. Namun hanya berpartisipasi memeriahkan acara dengan penampilan Grup Hadrah “an-Nahdlah” asuhan Lembaga Seni dan Budaya (LSBNU) Mesir.

Sesuai tema yang diangkat, Abdul Fatah dalam pembukaan acara menjelaskan bahwa, seminar ini dimaksudkan untuk mengetahui lebih jauh ritual-ritual keagamaan maupun adat istiadat dari masing-masing negara, khususnya yang ada pada bulan Ramadhan. Di samping itu acara ini juga bertujuan untuk menjalin silaturrahmi dan ukhuwwah islamiyyah antar negara-negara muslim di dunia. Maka pada sesi selanjutnya, secara bergantian masing-masing pembicara menceritakan adat istiadat yang ada di negara mereka masing-masing dalam menyambut maupun mengisi bulan suci Ramadhan.

Pukul 23.00 CLT seminar usai, lalu dilanjutkan dengan beberapa penampilan seni. “An-Nahdlah” yang pada malam itu berkesempatan tampil pertama mempersembahkan dua buah shalawat Qoshidah diiringi tabuhan alat musik Rebana. Kemudian dilanjutkan oleh perwakilan dari Sudan yang menampilkan musik khas ala sudan bernama “Aud” mengiringi beberapa lagu kebangsaan mereka. Lalu perwakilan dari Mesir sendiri yang menyanyikan lagu khas ala Mesir.

Dan begitulah seluruh rangkaian acara pada malam itu. Kami keluar dari ruangan dengan berbagai rasa yang campur baur jadi satu. Rasa lapar, karena tidak ada jamuan makan maupun snack. Haus karena tak dikasih minum. Capai dan ngantuk karena acara molor terlalu lama. Juga sebentuk lucu, aneh, bahkan jengkel yang tersirat dalam penyelenggaraan acara ini. Namun yang terpenting dari itu semua, kami tetap berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik dari Indonesia untuk dunia. Karena kami datang atas nama duta bangsa, maka kami sebisa mungkin membalut perasaan-perasaan yang ada itu tadi dengan selaput kesabaran, lalu menghadirkan sebuah performa yang semaksimal mungkin. Bagaimanapun juga, pengalaman Ramadhan tahun ini tak akan terlupa untuk menjadi kenangan indah yang aneh, lucu dan menjengkelkan.[dicatat oleh: M. Luthfi al-Anshori]

3 Komentar:

Faisal Zulkarnaen said...

Sabar adalah senjata paling ampuh untuk hidup di Mesir.

aulia ratna said...

waduh...

emang smua orang mesir seperti itu ya??

aulia ratna said...

waduh...

emang smua orang mesir seperti itu ya??