Sebegitu Pentingkah Ikhlas dalam Cinta??

Wednesday, May 07, 2008


Oleh: M. Luthfi al-Anshori

Kita tentu telah mengenal kata “ikhlas” sejak kecil. Sebuah kata yang boleh jadi sangat akrab kita dengar, terutama dari kalangan kaum beragama, atau bahkan masyarakat biasa. Namun saking akrabnya kita dengan kata itu, terkadang justru membuatnya bias dan tak nampak penting. Padahal, ketika kita telusuri lebih jauh, sebuah kata “ikhlas” dalam tataran aplikasi mempunyai substansi yang sangat penting. Mengapa demikian? Ya, sebab dalam kaidah agama (sebelum kita meniliknya melalui perspektif yang lain), keikhlasan menempati posisi penting sebagai parameter sampai atau tidaknya amal perbuatan seseorang. Kata “sampai” di sini tentu kita artikan dengan: diterimanya amal perbuatan hamba oleh Tuhannya. Mungkin dengan ungkapan yang lebih akrab, masyarakat pedesaan sering menyebutnya dengan lillâhi ta’âla. Yaitu mendasarkan segala perbuatan atas landasan keikhlasan semata-mata hanya karena Allah. Sebab, dalam tataran praksis, masih sangat banyak sekali orang yang melandasi perbuatannya atas dasar inilah, itulah,... atasan, bos, suami, istri, pacar, calon mertua, atau hanya karena ingin dipuji oleh sesamanya saja (mungkin termasuk penulis juga masih belum bisa ikhlas secara murni dalam konteks ini, hehe).

Di samping urgensitas ikhlas dalam hal ibadah syar’iyyah, ia juga menempati posisi penting dalam ranah kehidupan sosial (baca: dalam hal mu’amalah atau ahwal syahshiyyah). Sebagai contoh, mungkin kita tak perlu terlalu jauh menjelajahi kitab-kitab fikih atau bahkan tasawuf, kita cukup flash back saja merenungkan isi pesan yang terkandung dalam film “Kiamat Sudah Dekat”. Seorang Rocker yang akhirnya berhasil mendapatkan putri Pak Kiai melalui ilmu ikhlas. Ya, bisa jadi memang seperti itulah hakekat sebuah keikhlasan, merelakan dengan sepenuh hati, bahwa jika memang sang Rocker bukanlah yang terbaik untuk putri Pak Kiai dan ada calon lain yang lebih pantas, maka ia pasrah dan mengikhlaskan segala apa yang akan terjadi. Alhasil, dengan sikap yang seperti itulah justru akhirnya Pak Kiai menyetujui lamaran sang Rocker untuk meminang putrinya. Sebab menurut Pak Kiai, sang Rocker ternyata telah mampu mengaplikasikan ilmu ikhlas itu tanpa ia sadari.

Contoh lain dapat kita lihat dan saksikan dalam film “Ayat Ayat Cinta”. Seorang Fakhri yang diuji oleh Allah karena mempunyai dua istri, Aisyah dan Maria. Pada awalnya si Fakhri belum bisa menerima dengan lega kenyataan yang ia hadapi itu, bahwa ia mempunyai dua istri. Sehingga yang terjadi, kehidupan rumah tangganya menjadi goncang, sebab secara psikis si Fakhri belum benar-benar bisa menerima nasib yang harus ia jalani. Namun, setelah mendapatkan nasihat dari si Saiful agar si Fakhri ini bisa mengikhlaskan takdirnya itu, akhirnya iapun mampu memperbaiki keadaan rumah tangganya. Tiada lain adalah dengan mengaplikasikan konsep ikhlas yang menempati posisi cukup sentral dalam menentukan bahagia atau tidaknya hidup seseorang. Sebab tanpa keikhlasan, seseorang akan terkungkung dalam keadaan gelisah yang berkepanjangan dan ingin senantiasa protes, bahkan menentang takdir yang ia hadapi.

Nah, tulisan ini memang tidak hendak memaparkan konsep ikhlas secara detail sebagaimana yang dapat kita temukan dalam buku-buku fikih atau tasawuf. Namun ingin lebih menekankan pada sisi aplikasi dari konsep tersebut. Sebab beberapa waktu terakhir ini, secara pribadi penulis juga cukup dihantui oleh sebuah kata bernama “ikhlas” itu sendiri. Bukan hanya itu, beberapa kawan yang penulis jumpai di sekelilingnya juga nampak sedang mengalami “krisis ikhlas”, sehingga membuatnya kian gelisah dan tak tenang menatap hari depan. Hidup dalam bayang-bayang “dendam” dan penasaran.

Maka dari itu, penulis merasa tergugah untuk merenungkan kembali sebuah kata “ikhlas” yang sebenarnya telah kita hafal sejak kecil. Bukan hanya merenungkannya sebagai sebuah istilah yang hampa makna, tapi mencoba mencari dan memahami substansi aplikasinya dalam kehidupan nyata. Dan ternyata, oh... sungguh menderitanya hidup tanpa keikhlasan. Dan ohh,...sungguh damai dan tenangnya hidup berpegang keikhlasan. Atau dalam istilah lainnya kita mengenal kata “qanâ’ah” atau dalam bahasa Jawanya “nerimo ing pandum” (menerima apa adanya). Segalanya sudah digariskan oleh Allah, dan setiap yang terjadi pasti mengandung sebuah hikmah atau pelajaran. Maka terserah anda bagaimana akan menyikapi setiap takdir! Akan tersenyum selalu atau menangiskah? Yang jelas penulis mengajak diri sendiri dan kawan-kawan semua untuk sama-sama belajar mengamalkan ilmu ikhlas, supaya mendapat sorga di kehidupan selanjutnya, dan minimal bisa dapat putri Pak Kiai di kehidupan dunia.

Kedua kisah di atas hanyalah sebagian kecil dari potret pengamalan ikhlas. Namun dari sesuatu yang kecil tentunya kita berpeluang untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang besar. Maka jadilah kita orang-orang yang berbesar hati, sehingga ketika derita dan coba sedang melanda, hati kita masih tetap lapang, yang masih menyediakan ruang masuknya cahaya maupun udara. Tapi ketika ruang tampung hati kita sempit, maka sedikit cobaan saja yang kita hadapi, tak tau entah di mana kita akan menampungnya. Sehingga hati kita menjadi sumpek, penuh dengan derita dan gelap karena tak ada lagi ruang kosong dalam hati. Dan dalam kondisi hati seperti ini, manusia berpotensi untuk nekad karena tak kuat lagi menerima semuanya. Lalu anda akan memilih yang mana??

Cukup sampai di sini saja sang pena menorehkan tintanya. Adapun kisah selanjutnya bisa anda buktikan sendiri dalam kehidupan sehari-hari!?[]

Kairo, 7 Mei 2008. Sebuah renungan singkat di sela peristirahatan menjalani skenario-skenario kehidupan selanjutnya yang telah digariskan Tuhan. Tak melalui referensi, karenanya hanya suara hati yang muncul begitu saja merespon fenomena yang mampu diserap indera. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang sedang menghadapi problem apa saja, terutama “cinta”. Semoga kita bisa ikhlas menjalani semuanya.Amin.

2 Komentar:

Aan Zainul A said...

Kon Nyapo Thoo Cak?!!!

M. Luthfi al-Anshori said...

weh...maksud loh??