Mushaf-Mushaf Berdebu

Monday, November 17, 2008


(1)
Di negeri pasir
angin sering berdesir.

Di negeri gurun
hujan jarang turun.

Karena angin mendesir
dan hujang mengering,
pasir-pasir hambur,
lembut dan tipis serupa debu.

Di negeri para nabi
isi-isi Mushaf dihafal,
dibaca di mana saja,
di bis-bis, angkutan kota, hingga kereta tua.

Namun di kamarku
di sebuah flat sederhana negeri menara seribu
kujumpai Mushaf-Mushaf berdebu
menatapku sinis, membuatku malu!

"Kenapa kau tak menyentuhku? Apalagi membacaku!"[]

Kairo, 16 November 2008
.............................

(2)
Aku melihat kaum Muslim bertengkar
bukan gara-gara harta maupun tahta
mereka berselisih tentang sumber agama
satu sisi al-Qur'an dibela sekaligus dipuja
di sisi lain ada yang meragukan keasliannya
namun anehnya, mereka tak mendekat,
tak menyelam, justru memilih berdiri di luar
di sebuah tempat yang mereka elukan
sebagai titik obyektivitas
karena dengan demikian mereka baru bisa berfikir jernih
aman dari tendensi kiri dan kanan.
mereka berlomba mencari titik kelemahan
mencibir agamanya sendiri
sementara Mushaf-Mushaf yang mereka beli,
hanya menjadi pajangan kebanggaan
yang lambat laun akan usang
dimakan debu yang garang.[]

Kairo, 17 November 2008.

2 Komentar:

budi p said...

Indah....

hadidul fahmi said...

dalam...indah...mengena...

satu kata..keren..!