Antara Bandara dan Kota Tua!

Friday, March 19, 2010

Teringat suatu kala, dimana jiwa beserta raga ini harus berhijrah meninggalkan gemerlap dunia.
Ingin hati menuju cahaya agar mampu menyerap auranya, namun tak kuat ego ini merengkuhnya, lantaran terlalu jumawa.

Teringat suatu masa di bandara, tatkala isak tangis menggelegak mengiring kepergian para duta.
Tiap tetes air mata tak sekedar menjadi magma melainkan untaian doa yang menerobos masuk ke 'arasy kasih-Nya.
Barangkali, malaikatpun kala itu ikut haru menyaksikan kesucian niat para penuntut ilmu.
Akankah... meraka istiqomah, atau justru goyah dihempas malas dan kebebalan??
...

Berhari hingga bertahun, akan terbukti pertanyaan tadi!
...

Betul!
Aku membuktikannya sendiri;
lentera yang kubawa di kedalaman jiwa tak cukup terang menerangi jalan, hingga aku terseok dan jatuh dalam licin godaan dan kelalaian.

Mimpi yang kuidamkan tak sedahsyat usaha yang nyata. Aku hanya tidur dan terus terlelap dalam pelukan kenyamanan dan kebebasan.

Niat yang kupegang tak sekuat ikatan janji dua sejoli, melaikan hanya utopia yang fatamorgana. Terlalu mudah aku menanggalkannya lantaran niat-niat lain seliweran di kepala; ingin terkenal, ingin kaya, ingin merdeka dan ingin masuk surga. Bukankah itu hanya sampah yang bisa ditemukan oleh siapa saja di sepanjang jalan. Betulkah aku seorang hamba, atau hanya penjual yang memimpikan laba dalam setiap tidurnya??

Cahaya yang kuinginkan ternyata bukan matahari, melainkan hanya kunang-kunang yang redup-redam di gelap malam. Pantas saja aku tersesat. Bukan kemajuan yang kutapaki, tapi kemunduran-kemunduran, stagnasi di titik-titik beku.

Di negeri tua ini, warisan dan modernitas saling berjuang penuh gigih. Keduanya bak dua sisi magnet yang tarik-menarik menentukan siapa yang mendominasi, siapa yang menguasai.

Sementara aku adalah sebentuk obyek di antara kedua sisi itu, teseret kesana kemari dihempas dan tertarik.
Aku tak mampu teguh menancapkan mimpi dan niatku di sini. Terlalu keras tanahnya, terlalu gersang buminya.
Atau, terlalu kerdil mentalku untuk menghadapi beribu rintangan yang menghadang??

Namun demikian aku terus berusaha memijaknya, sehingga masih ada sepercik asa untuk bertahan, menghadapi kenyataan yang ada. Hingga pada akhirnya aku sampai di sebuah terminal, dimana aku telah mendapatkan apa yang tak kuinginkan: "Kepulangan dengan tangan hampa!".

Dan, pada suatu sore nan petang nanti, aku akan kembali pada sebuah rotasi, dimana aku berdiri di altar bandara ibu kota, mengenang sebuah cita-cita, serta sepenggal kisah dari kota tua.

***
Andai waktu bisa diputar kembali, aku akan meminta "ibu" untuk menemaniku dalam hijrah menuntut ilmu, agar selalu ada yang menjagaku, mengingatkanku, menghukumku dan menghadiahiku! Agar tangis, doa dan jerih payahnya senantiasa memotivasiku. Sungguh, aku terlalu lalai untuk hidup tanpa "ibu".

Cairo, 24 Oktober 2009. 14.35.

2 Komentar:

El-Qolam said...

Wah bagus bener blognya, anda menyukai sastra ya? pingin belajar nih? Boleh berguru???

Elka said...

ayo mas phi, buktikan merahmu!
heheh
all you can do is make His will become true here by you, and that's for sure!!