Mesir - Masisir, yang merupakan sebutan akrab bagi Mahasiswa Indonesia di Mesir, tentunya terdiri atas berbagai latar belakang budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda dari masing-masing daerah asal. Oleh sebab itu, muncullah berbagai macam organisasi, mulai dari organisasi kekeluargaan (yang mewadahi setiap warga dari konsulat daerah masing-masing), hingga organisasi almamater, marhalah, dan juga afiliatif (termasuh NU dan Muhammadiyah). Jamur di musim hujan, begitulah gambaran cocok mengungkapkan geliat pertumbuhan organisasi yang begitu subur di kalangan Masisir.
Bagi masyarakat Indonesia, kesenian Hadrah atau Rebbana mungkin sudah tidak menjadi barang langka. Terlebih bagi kalangan pesantren, baik salaf maupun modern, yang mempunyai geliat dan ghirah seni lumayan tinggi. Bahkan beberapa tahun terakhir ini, kesenian hadrah nampak begitu menjamur hingga ke pelosok-pelosok desa. Hampir setiap desa mempunyai paling tidak satu group Hadrah. Adalah lantunan sholawat atas nabi dan puji-pujian yang diiringi tabuhan alat musik berbentuk bundar dengan permukaannya yang terbuat dari kulit binatang, merupakan ciri khas kesenian ini.
Berbeda dari Indonesia, di negeri Mesir kesenian semacam ini jarang kita temui. Saking jarangnya, secara sekilas mungkin orang akan mengatakan tidak ada. Kalaupun toh ada, mungin hanya akan kita temukan di pos-pos atau markas-markas besar Jam’iyyah Thariqah, yang memang salah satu ajaran dan amaliyahnya berorientasi seputar memperbanyak sholawat atas Nabi dan puji-pujian.
Masisir, yang merupakan sebutan akrab bagi Mahasiswa Indonesia di Mesir, tentunya terdiri atas berbagai latar belakang budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda dari masing-masing daerah asal. Oleh sebab itu, muncullah berbagai macam organisasi, mulai dari organisasi kekeluargaan (yang mewadahi setiap warga dari konsulat daerah masing-masing), hingga organisasi almamater, marhalah, dan juga afiliatif (termasuk NU dan Muhammadiyah). Jamur di musim hujan, begitulah gambaran cocok mengungkapkan geliat pertumbuhan organisasi yang begitu subur di kalangan Masisir. Apapun background, yang jelas, sebagai anak bangsa yang belajar di negeri manca, kami (Masisir) pun tak akan lupa mengenalkan keanekaragaman budaya Indonesia kepada para penduduk di bumi Musa. Kami adalah satu dari sekian banyak perkumpulan anak bangsa di negeri seribu menara.
Tepatnya kami tergabung dalam group Hadrah “an-Nahdhah” di bawah asuhan PCINU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama’) Mesir. Dengan fasilitas alat yang seadanya, itupun juga kiriman dari Indonesia, kami, bersama beberapa teman yang dahulu sempat berlatih menabuh ‘terbang’ (sebutan lain dari alat musik Rebbana/Hadrah) di pesantren masing-masing mulai menggabungkan niat untuk melestarikan kesenian ini di kalangan Masisir. Sebetulnya di tubuh PCINU Mesir, kesenian ini sudah ada sejak dulu. Namun karena keterputusan proses kaderisasi, eksistensinya pun kembang kempis. Hingga akhirnya pada tahun 2004, dengan datangnya mahasiswa baru dari indonesia yang berjumlah sekitar 1000-an lebih, berdatanganlah pula kader-kader baru NU yang membawa keterampilan seni ini. Disusul angkatan 2005 yang juga tidak kalah membawa personelnya hingga 1045 orang, group Hadrah an-Nahdhah, dengan mendapatkan personel-personel baru menjadi semakin berkembang.
Awalnya kami hanya mengisi acara-acara intern PCINU Mesir saja. Lalu beranjak menghiasi acara-acara yang berskala umum dan lumayan besar, seperti ‘walimatul arusy’ mahasiswa yang menikah, acara wisuda, seminar, dan lain sebagainya. Sebetulnya secara histori kami hanya bermaksud untuk mengejawantahkan bakat dengan niat syiar. Minimal untuk kalangan warga Nahdhiyyin. Namun lambat laun gaung kesenian itu terdengar juga di telinga orang Mesir. Mulai dari sini kami sempat dipanggil untuk membawakan kesenian ini dalam sebuah siaran radio lokal di Kairo. Yah, masih seperti biasa, dengan alat apa adanya, dan dengan performance yang selugunya. Tapi lumayan, kami mendapatkan pesangon, setidaknya bisa untuk biaya latihan. Kami selalu berusaha mandiri, dengan tanpa membebankan biaya latihan dan transportasi kepada organisasi. Bahkan jika memungkinkan, uang kas yang kita dapat dari manggung bisa untuk menyokong kegiatan yang lain.
Nampaknya beberapa kalangan orang Mesir mulai tertarik dan menyukai kesenian ini. Mungkin tidak lebih karena muatannya adalah sholawat atas nabi dan puji-pujian, siapa sih yang tidak suka membaca sholawat?? Apalagi orang Mesir, yang katanya ketika ada orang bertengkar lalu ada yang teriak “sollu ‘ala an-Nabi” mereka langsung berhenti dan segera menjawabnya. Dan ditambah lagi dengan adanya sebuah jama’ah thariqah Ja’fariyah yang memang menekankan ajarannya untuk memperbanyak sholawat. Walhasil kami jadi sering diundang oleh orang Mesir untuk mengisi dalam halaqah-halaqah “mada’ih ‘ala an-Nabi”, sholawat atas nabi.
Yang paling sering mengundang kami adalah Syeikh Muhammad Kholid Tsabit, salah seorang dermawan dan muhsisin Mesir yang mempunyai Dar al-Muqattam atau percetakan kitab Darul Muqattam. Biasanya bukan hanya kami yang diundang untuk turut membawakan sholawat atas nabi dalam halaqah beliau, namun ada juga mahasiswa dari India dan negara-negara Afrika lainnya. Lambat laun kami mulai akrab. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk turut memberikan bea siswa kepada beberapa teman personil group yang belum mendapatkan bea siswa dari al-Azhar atau instansi-instansi yang lain. Alhamdulillah. Setidaknya beberapa teman bisa mendapat sedikit tunjangan bea siswa dari beliau, ketimbang tidak sama-sekali. Sebab, dengan naiknya prosentase kedatangan mahasiswa Indonesia ke Mesir dari tahun ke tahun, terutama yang lewat jalur mandiri atau terjun bebas (bukan lewat jalur Depag), hal ini memperkecil peluang mereka untuk bisa mendapatkan beasiswa.
Dari Syeikh Kholid kami pun diperkenalkan dan di bawa ‘konser’ ke mana-mana. Dari rumah ke rumah, hingga ke masjid-masjid. Daya tarik tersendiri bagi mereka mungkin karena kami membawa ‘alat Rebbana’, di samping lantunan sholawat yang senantiasa kami dendangkan. Kami seperti seniman jalanan, namun agak necis. Kalo ada undangan dari orang Mesir, kami sengaja membawa perlengkapan kami sendiri, termasuk sound-system. Sebab suara telanjang kami tentu tidak akan terdengar kalah dengan suara alat musiknya. Kami biasa mengangkat perlengkapan ‘konser’ dari markas besar PCINU yang berlokasi agak di dalam ke jalan raya dengan jalan kaki. Tidak ada rasa bosan bagi kami walau harus angkat-angkat alat&sound hingga ke tempat tujuan. Bagi kami, bisa mensyi’arkan budaya bangsa dalam alunan nada sholawat atas nabi adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami. Dan selanjutnya, kami, sebagaimana kaum muslimin yang lain tentu juga mengharapkan syafa’at dari Nabi besok di padang mahsyar.