Gemerlap Khan el Khalily di Malam Sabtu

Thursday, February 08, 2007

Catatan Satu Pekan Yang Mengesankan, Melelahkan dan Mengharukan [2]
*)Jum'at, 2 Februari 2007

Pada Jum’at kali ini, kami -dept. Kaderisasi KSW- telah berencana untuk mengadakan rapat intern dengan pengurus “Izdihar” (marhalah terbaru Kelompok Studi Walisongo, organisasi kekeluargaan mahasiswa asal Jawa Tengah di Mesir) pada pukul 15.00 WK. Rapat ini kami tujukan untuk mengadakan konsolidasi internal dengan para pengurus Izdihar guna memulai sosialisasi beberapa program KSW pada termin kedua tahun pelajaran 2006/2007 ini.

Pagi hari aku mendapat telpon dari teman satu angkatanku di MAKN-MAPK Surakarta dulu yang sedang melakukan Observasinya di Mesir atas praka
rsa Departemen Agama RI. Namanya Fitria Sari Yunianti, Mahasiswa semester 6 Fakultas Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Dia bilang hari Jum’at ini dia tidak ada jadwal wawancara atau penelitian. Maka aku dimintanya untuk main kerumahnya, sekalian mengantarkannya berobat karena sakit. Cuaca Mesir saat ini nampaknya tidak bersahabat dengannya. Dingin. Tak ayal lagi kalo ia sampai flu.

Sebelum sholat Jum’at aku sudah meluncur ke penginapannya yang berlokasi di Abbas el Akkad, Nasr City, bersama Fuad, temen seangkatanku juga. Nyampe sana lalu kita ngobrol-ngobrol. Aku tidak mengiyakan keinginannya untuk berobat ke dokter. Aku hanya menyarankannya untuk beli obat saja dengan berbagai pertimbangan. Diantaranya takut kalo dia dikasih obat dosis tinggi. Sebab ukuran orang mesir dan orang Indonesia tentu berbeda karena berbagai perbedaan ketahanan tubuh dan lain sebagainya.

Karena adzan sudah berkumandang, beberapa saat kemudian aku dan fuad pun beranjak ke masjid untuk menunaikan sholat Jum’at.
Usai sholat, kami bertolak ke Bawwabah Tiga, Hay ‘Asyir, Nast City. Kali ini tujuannya adalah ke flat tempat tinggalku, dengan harapan temen-temen satu angkatan kami bisa silaturrahmi dan menemuinya di sana. Di setiap gerak aku teringat, bahwa usai sholat Ashar nanti aku ada jadwal rapat. Ahh…sambil menunggu waktu Ashar, aku memasak beberapa bungkus indomie untuk kawan-kawan. Si Fitri telah minum obat yang baru saja dibeli dari apotik.


Rasanya gak enak meninggalkan tamu di rumah. Namun jadwal rapat telah ditetapkan. Aku tetap harus berangkat. Walhasil, setelah beberapa kali lobi dan kroscek ke lokasi rapat kami –sekretariat KSW-, rapat bisa diundur beberapa saat karena para pengurus belum sampi di tempat. Setidaknya aku masih punya waktu untuk menjamu para tamu dahulu.

Pukul 17.00 WK aku menuju KSW. Di sana aku sudah ditunggu Zaenal dan Arfan, ketua dan sekretaris Izdihar. Sembari menunggu pengurus yang lain, kami langsung bercakap-cakap mengenai latar belakangnya diadakannya rapat ini. Tiada lain adalah untuk memulai konsolidasi antara Dewan Pengurus Pusat KSW dan anggota marhalah Izdihar. Beberapa pengurus lain datang, dan rapat segera kami buka.

Adzan maghrib berkumandang beberapa menit kemudian. Kami break sejenak untuk sholat, lalu melanjutkan rapat lagi. Ditengah-tengah rapat aku mendapat telpon dari Ari, temenku yang waktu itu menemani Fitri di rumahku. Dia bilang Fitri ingin ke Husein atau Kha
n Khalily, salah satu pusat penjualan souvenir di daerah Darrasah-Kairo, deket Masjid Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Alasannya simple; kalo tidak sekarang kapan lagi. Sebab dia takut kalau besok-besok dia sibuk dengan wawancara dan penelitiannya, dia akan tak sempat belanja-belanja lagi. Aku jawab OK! Tapi aku jelaskan rapatku mungkin baru akan selesai jam 19.00, waktu ‘Isya. Ia mengamininya.

Alhamdulillah, rapat telah usai sebelum Isya. Hasilnya adalah; bahwa marhalah Izdihar akan lebih berkonsentrasi pada pengembangan program penguasaan bahasa arab. Sementara program-program lain dari masing-masing departemen akan di bicarakan selanjutnya.

Aku segera kembali ke rumah. 5 menit kemudian aku sampai. Mengingat waktu yang semakin malam, aku dan Ari segera
sholat Isya’ sebelum berangkat. Si Fitri telah siap-siap. Lalu kami keluar rumah pukul19.30 dan nyari taksi untuk bisa mengantarkan kami ke Husein. Nyetop taksi, tawar menawan dulu, 10 LE. Akhirnya kami mendapat taksi dengan biaya cukup murah dilihat dari jarak yang akan kita tempuh.

Bismillah, kami berangkat. 30 menit kemudian kami telah sampai di Darrasah, yang telah dekat dengan lokasi tujuan. Namun macet. Jalanan malam ini sangat macet. Tak tau entah kenapa. Sedikit demi sedikit taksi yan
g kami naiki berjalan hingga akhirnya kami melihat kerumunan manusia yang sangat banyak. “hari ini kan hari Jum’at”, jawab salah seorang pejalan kaki setelah ditanya penyebab macetnya jalan oleh sopir taksi kami. Ohh…memang, hari Jum’at dan Sabtu adalah hari liburnya orang Mesir. Pantes saja kalau di Daerah Husein juga sangat ramai.



Akhirnya sampai juga. Di trotoar sepanjang jalan Darrasah dan Husein bagaikan ada aliran sungai manusia. Penuh sesak. Warga Mesir dari berbagai daerah nampaknya sedang beramai-ramai week-end di Husein; entah di masjid dan makam imam Husein atau Khan el-Khalily. Aku mulai memasuki pusat pertokoan souvenir itu bersama Ari dan Fitri. Fitri bilang ia ingin membeli beberapa kaos dan boneka Onta untuk saudara dan keponakannya. Beberapa kaos pun terbeli dengan gambar-gambar khas Mesir. Di samping itu ia juga sempat membeli Papyrus, lukisan khas Mesir. Satu boneka Onta besar dan lima yang kecil ia beli juga sebagai oleholeh untuk adik dan ponakannya. Waaah…mumpung ada di Mesir, nampaknya ia takkan melewatkan kesempatan ini untuk membelikan souvenir buat keluarga dan saudaranya.

Setelah kurang lebih satu setengah tahun di Mesir, baru kali ini aku menikmati suasana seramai ini, di malam hari, di kawasan Khan el Kholili. Sungguh ramai. Para turis pun hilir mudik dengan bus-bus travel yang mereka naiki. Kawasan ini memang salah satu aset Mesir yang cukup menarik perhatian wisatawan asing.

Wusssyyy…ditemani hujan rintik-rintik yang menambah dinginnya udara Mesir, kami terus menyusuri daerah tersebut. Beberapa jebretan foto pun telah kita ambil untuk mengabadikan suasana. Usai sudah belanja-belanja hari ini. Waktu sudah menunjukkan jam 22.30. Kami segera pulang ke Abbas el Akkad, penginapan Fitri. Dengan naik taksi, kami berharap akan segera sampai ke penginapan, karena si Ari sudah kebelet pipis, dan susah plus repot mencari toilet di Husein. Maka ia tahan hingga sampai di penginapan.

Sampai di penginapan kita duduk-duduk sejenak sebelum akhirnya aku dan Ari kembali ke Hay “Asyir untuk segera beristirahat. Hari ini sungguh cape dan berat. Tapi kepuasan tersendiri rasanya memenuhi dada. Seakan waktu benar-benar sangat berharga dalam sebuah kesibukan dan kegiatan-kegiatan. Kali ini aku tidur larut malam lagi. Melepaskan segala cape’ dan penat, berharap esok akan segar kembali.

2 Komentar:

-tikabanget- said...

hohoho..
semoga selalu sibuk biar selalu terpuaskan hari harinya.. ^_^

M. Luthfi al-Anshori said...

wah, emang betul juga sih. dengan kesibukan biasanya waktu-waktu menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. penghargaan akan mahalnya waktu pun lebih besar ketimbang ketika kita nganggur tanpa ada pekerjaan pasti.

Ok, thanks ya mbak dah mo mampir+ngasih comment-nya...