Monday, October 09, 2006

Ilmu dan hati

Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa adhesi adalah daya tarik antara dua benda yang berbeda jenis, contohnya adalah seperti kapur dan papan tulis. Karena adanya adhesi tadi maka kapur bisa kita gunakan untuk menulis pada papan tulis karena dia bisa melekat pada permukaannya. Dan hasilnya, itu tergantung pada yang memegang kapur tadi, apakah berupa gambar yang indah, berderet tulisan yang penuh makna, ato bahkan Cuma Cuma berbentuk coretan-coretan yang sunyi arti.

Jika papan tulis tersebut dalam keadaan bersih, maka kita akan mendapatkan kemudahan dalam menulis, kerena keduanya dalam keadaan bersih( yaitu antara kapur dan papan tulisnya bersih). Namun apabila papan tulis itu mulai berdebu dan kotor akibat hempasan angin yang membawa butiran-butiran molekul debu ato yang lainnya, dan ditambah lagi dengan keadaan kapur yang sudah tidak shohih lagi (bercampur kerikil misalnya), maka kita akan mendapatkan kesulitan dalam menulis. Dan yang dihasilkan justru bunyi yang menyayat hati ketika usaha penulisan itu dipaksakan...

Selanjutnya, apabila papan tulis tersebut semakin berdebu, hari demi hari selalu bertambah tebal permukaannya hingga mengeras dan membatu lagi, maka usaha penulisan akan kembali menjadi mudah. Tapi tentu saja hasilnya tidak bisa seperti pada keadaan pertama (ketika keduanya sama-sama dalam keadaan bersih).

Contoh lain dari Adhesi ani adalah ilmu dan hati. Seperti halnya kapur dan papan tulis, ilmu dan hati juga mempunya semacam daya tarik. Ilmu akan mudah digoreskan dalam hati apabila hati tersebut dalam keadaan bersih, salim, shohih. Namun sebaliknya, apabila hati tersebut dalam keadaan kotor akibat tertutup noktah-noktah buah dari kemaksiatan, maka rasanya ilmu itupun akan enggan melekat dalam hati.

Hal inilah yang senada juga kita temukan dalam syakwanya Imam Syafi’I kepada gurunya Syeh Waqi’ perihal susahnya dalam hal hafalan. Maka beliaupun memberikan isyarat bahwa penyebabnya adalah maksiat. Ilmu Allah itu adalah cahaya ato "Nur", yang mana cahaya tersebut tidak akan di sinarkan kepada para pendosa, cahaya tidak akan pernah bersatu dengan maksiat.

Dari jawaban Syeikh Waqi’ tersebut dapat kita simpulkan bahwa debu penghalang tadi adalah maksiat. Namun demikian, beberapa kalangan ada juga yang meragukannya. Pasalnya, jika kita menengok pada kenyataan bahwa, tidak sedikit orang yang mampu menghafal Al-Qur’an sementara ia sangat benci dan dendam kepadanya, suatu contoh yaitu Snouck Hurgronje dan beberapa orientalis barat yang lain. Mereka bukan hanya hafal Al-Qur’an, bahkan mereka telah mampu mendalami khazanah-khazanah ilmu keislaman yang lain. Dengan hujjah ini, kita pun terusik untuk menela’ah lebih jauh lagi, betulkah dosa mampu menjadi debu bagi hati? Hingga ilmu yang akan digoreskan kepadanya terhalang.

Untuk melacak akar masalah ini, marilah kita menilik sebuah hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengenai hakikat dosa. Nabi SAW bersabda:"Dosa adalah apa-apa(suatu perbuatan) yang selalu menimbulkan keresahan dihati, yang menimbulkan perasaan tidak enak jika perbuatan itu dilihat orang".(HR.Muslim).

Intinya, dosa adalah perbuatan yang selalu menimbulkan keresahan di hati. Dan jelas keresahan inilah yang akan mengganggu proses belajar-mengajar. Jika demikian berarti teori Syeikh Waqi’ tadi benar. Tapi bagaimana jika dalam mengerjakan kemaksiatan seseorang tidak merasakan gundah? Apakah perbuatannya tersebut tidak masuk dalam kategori perbuatan dosa? Tidak. Tentu kita masih ingat tentang debu yang sudah membatu tadi, dosa itu seperti debu yang sudah membatu, karena terlalu banyak, terus bertumpuk, dikerjakan berulang-ulang sehingga akhirnya membeku menjadi batu dan berkarat. Wajar dalam kondisi seperti ini secara sepintas proses belajar-mengajar seakan normal dan biasa-biasa saja. Dikatakan sepintas disini karena kenyataannya ilmu tadi melekat pada permukaan tumpukan dosa yang membatu, bukan pada hati. Wajar pula jika yang dipahami, yang dihafal, dan yang dipelajari sama sekali tidak mempunyai pengaruh(atsar) dalam kehidupan sehari-hari.

Maka lain lagi halnya dengan orang yang hatinya bersih. Orang-orang yang keimanannya tidak terkontaminasi dengan berbagai dosa, maka apa yang dipelajarinya akan membawanya pda keimanan yang lebih matang. Bukan hanya pada saat ia telah ilmu itu telah melekat di hati, namun ketika pertama kali mendengarkannya,(Baca QS. Al-Anfal ayat: 2).
wallahu a'lam bis showab...
wassalam............

2 Komentar:

Nanang Musha said...

om, kalo sudah diketahui bersama, ngapain diposting??

M. Luthfi al-Anshori said...

njih om nanang, tak apalah jika tulisan itu aku post lagi. sekedar buat me-refresh kembali ingatan2 yang sudah lapuk...
makacih comment-nya, kritis juga...