Tadabbur Rindu [1]

Wednesday, October 25, 2006

Lebaran ke-2 di Negeri Senja

Sudah dua kali aku melewatkan Ramadhan di negeri ini. Sebuah negeri yang kata orang menyimpan sejuta sejarah dan peradaban. Negeri yang dahulu hingga sekarang terkenal sebagai lumbung ilmu pengetahuan islam. Adalah Mesir, negeri yang dikenal sebagai bumi para nabi. Maka tak ayal lagi jika pesona Ramadhannya begitu membahana dan penuh dengan nuansa ibadah dan ta’abbudiyah.

Lantunan ayat suci al-Qur’an terdengar dimana-mana. Di rumah-rumah, di kantor-kantor, Madrasah-madrasah, Universitas & Perguruan Tinggi, di bus, di halte & terminal, apalagi dimasjid-masjid. Setiap manusia seakan berlomba-lomba untuk mencapai sesuatu yang besar di bulan ini. Sesuatu yang mungkin akan sulit dicapai pada bulan-bulan selainnya. Pasalnya mereka telah tahu, bahwa Allah memang benar-benar membukakan pintu rahmat dan maghfirahnya di bulan ini, seakan pahala telah di obral untuk hamba yang taqwa. Terlebih lagi al-Qur’an, ia diturun pertama kali juga pada bulan ini, yang keberadaannya adalah sebagai kitab pedoman hidup dunia-akhirat, maka nuansa saling berlomba dalam beribadah dan kebaikan sungguh sangat kentara. Yang tak kalah hebatnya bahwa di antara bilangan hari Ramadhan juga terdapat satu hari bernama Lailatul Qadar, dan nampaknya hal ini pulalah yang juga menambah semangat mereka untuk berpuasa, tarawih, witir, tadarrus, dan i’tikaf demi mendapatkan malam seribu bulan tersebut.

Warna-warni lampu dan lampion juga turut menemani, menghiasi dan memperindah suasana Ramadhan di negeri ini. Ma’idaturrahman [hidangan buka bersama] juga banyak digelar di masjid-masjid oleh para dermawan dan muhsinin Mesir. Memang tak tanggung-tanggung dalam mereka menginfaqkan sebagian hartanya, dan caranya juga berbeda-beda. Ada yang lewat badan/instansi struktural, ada juga yang disumbangkan ke masjid-masjid, anak yatim dan ada juga yang diberikan kepada para Mahasiswa asing atau wafidin. Semoga amal kebaikan mereka senantiasa mendapatkan Ridha dari-Nya.

Nuansa Ramadhan di negeri ini memang betul-betul beda dengan negeriku di sebrang sana. Begitu juga suasana Iedul Fitrinya. Jika yang lebih ramai di indonesia adalah pada waktu Iedul Fitri, maka di Mesir justru kesan ramai ada pada hari-hari Ramadhannya. Idul Fitri di sini memberikan kesan sepi dan biasa-biasa saja. Tidak ada budaya halal bi halal dan saling silaturrahmi antar tetangga (sebatas pengetahuanku) seperti halnya di Indonesia yang bisa dipastikan lalu lintas akan tersulap menjadi sangat padat pada hari-hari menjelang Lebaran. Arus mudik tahun demi tahun tidak pernah berkurang bahkan selalu bertambah, semakin padat, semakin macet. Berbagai cara mereka tempuh untuk dapat melewatkan lebaran bersama keluarga dan sanak saudara mereka di kampung halaman tercinta. Begitulah hiruk-pikuk suasana menjelang lebaran di negeri tercinta, Indonesia.

Sudah dua tahun aku melewatkan Ramadhan di negeri senja. Sudah dua kali aku menjalani Idul Fitri tanpa keluarga. Sepi, sepi dah sendiri aku benci [begitulah kata cinta]. Aku kesepian dalam keramaian. Aku rindu membuat petasan seperti halnya dulu aku sering menyiapkannya sendiri bersama adikku ketika menjelang lebaran. Aku juga rindu makan lontong dan ketupat buatan ibu yang khusus disiapkan untuk hidangan lebaran. Tapi tak apalah, namanya juga perjuangan. Toh keberadaanku yang jauh dari mereka semua yang aku cinta juga karena belajar. Dan itu semua pasti ada berkah dan hikmahnya.

Lebaran setahun lalu ibuku menelponku, menangis, pasti setiap kali ibu menelponku pasti menangis. Yah dan aku pun maklum, karena bagaimanapun hati dan karakter seorang ibu memang terdesain untuk pralambang kelembutan dan kasih sayang, terlebih lagi kepada anak-anaknya. Maka tangisan dan tetesan air mata itu adalah hal yang wajar dan bisa sebagai do’a.

Tahun ini ibuku kembali menelponku. Tapi kelihatannya beliau sudah lebih tabah dari sebelumnya. Kali ini beliau sudah tidak menangis lagi, walaupun masih terdengar suara agak parau dari bibirnya ketika berkata; “nak, zakat fitrahmu sudah aku tunaikan di rumah, jadi kalau kamu tidak zakat di sana juga tidak apa-apa”. Habis itu gantian adikku yang bicara. Dia sedikit bercerita tentang kegiatan Camping Dakwah Ramadhannya yang baru saja dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun ini. Lebaran tahun ini bagiku cukup beda dengan tahun sebelumnya. Lebih mengharukan, lebih memprihatinkan.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillah al-hamd...
Malam lebaran tahun ini aku mengikuti acara takbiran bareng bersama temen-temen di KSW [Kelompok Study Walisongo], kekeluargaan mahasiswa Jateng di Mesir. Aku cukup bisa terhibur dengan melantunkan kalimat-kalimat takbir bersama teman-teman. Setidaknya adanya teman di sini sebagai pengganti keluarga yang jauh di tanah air. Walaupun hanya sedikit yang hadir, namun acaranya cukup meriah dengan diiringi nada-nada ngawur hasil bebunyian alat rebana. Cukup ramai, cukup membuat suasana lebih hidup. Ya, jika biasanya di kampungku kami menabuh bedug untuk mengiringi takbir, maka di sini cukup dengan cucunya bedug, alias ketipung sederhana dan rebana yang sama-sama terbuat dari kilit binatang.

Lebaran kedua di negeri senja aku lalui dengan sepi dalam keramaian. Bukan suasana sekitar yang sepi. Teman banyak, apalagi mahasiswa indonesia di Mesir ini jumlahnya sudah ribuan. Namun hatiku yang merasa kesepian. Ahh,...untungnya itu sudah aku biasakan. Di sini aku memang ibarat yatim. Tak ada orang tua yang akan merawatku, membimbingku, mengingatkanku, dan sesekali memarahiku jika aku tersalah. Maka aku memang harus jadi diri sendiri, belajar mandiri dan mawas diri. Toh selamanya aku juga tidak akan hidup selalu berdampingan dengan orang tua. Dan untungnya di sini banyak teman yang bisa diajak saling berbagi dan saling membantu.

Kesepianku kali ini tidak begitu menyakitkan. Bahkan mungkin ini lebih baik, karena aku memang sedang membutuhkan sepi. Toh perihnya sebuah kesepian dan kesendirian itu bukan pada saat kita sedang sedih, namun justru ketika kita sedang bahagia dan senang namun tidak ada teman dan keluarga yang bisa kita ajak untuk tertawa. Dan keadaanku saat ini adalah yang mendukung aku untuk bisa berteman dengan kesendirian, kesepian.

Tapi rindu tetap rindu. Datangnya tidak bisa kita tebak dan tidak bisa kita tolak. Maka kali ini aku tetap menyimpan segudang rindu. Rindu yang kian hari semakin subur. Aku tidak menyiramnya juga tidak membakarnya. Namun justru rindu itu yang membuat aku tetap bertahan dan hidup. Aku jadikan lumbung rindu itu sebagai semangat. Rindu untuk bisa kembali ke kampung halaman, rindu pada keluarga besarku, rindu pada teman-teman kecilku, dan juga rindu pada kekasihku. Semuanya itu adalah semangatku untuk bekal perjalanan ke masa depan.
-------------
>Dear ibu dan bapakku, juga kedua adikku, Burhan Yusuf Habibi dan M. Rasyid Ridlo, semoga kalian semua sehat selalu, panjang umur, dan mendapat rizqi yang banyak dan berkah untuk bekal ibadah kepada Allah SWT.
>Dear kedua nenekku yang hingga sekarang masih diberikan sisa nafas untuk dapat selalu mendo’akan cucu-cucunya agar berhasil dalam setiap langkahnya.
>Bagi kedua kakekku yang sudah kembali ke rahmatullah, semoga arwah kelian diterima di sisi-Nya dan diberikan tempat yang mulya. Semoga amal ibadah mbah Masduq dan mbah Rasyid senantiasa mendapat ridha dan pahala dari-Nya.
>Dear seluruh keluarga besar Bani Dzurriyati di Rembang-Semarang-Cirebon dan sekitarnya yang selalu memberikan support spirituilnya.
>Dear seluruh guru yang selama ini pernah mengajarkan aku setiap ilmunya dengan penuh keikhlasan.
>Dear Teman-temanku semua dimanapun berada, khususnya teman-teman sepermainanku; dek Ipul, mbak Ida, Fatimah, mbak Ela, Kak Thoifur, Yazid, Asrofi, Ais, Said, Kak Zakin dll yang tidak bisa tersebutkan satu per satu.
>Dear Kekasihku di kotanya yang selama ini juga tak pernah lelah memberikan supportnya demi keberhasilanku sekaligus tempat berbagi senang maupun susah. Semoga kasih dan cinta-Nya senantiasa melindungi setiap langkahmu.
>Dan Special buat seluruh temen di negeri kinanah ini untuk setiap kebersamaan yang telah terjalin bagaikan satu keluarga. Semoga ikatan persahabatan kita bisa langgeng sampai akhir dunia.
>Dear seluruh temen Cyber yang mau bersilaturrahmi untuk saling berbagi pengalaman dan ilmunya.

[bagi setiap nama yang tercantum di atas, walaupun aku yakin tidak semua kalian bisa baca pesan singkat ini, namun aku yakin ikatan hati dan perasaan kita yang telah terjalin akan bisa menghantarkan ketulusan ke tempatnya. Selamat ber-Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin wal Faizin, Mohon maaf Lahir dan Bathin, kullu Aam wa antum thoyyibin, taqabbalallahu minna wa minkum Taqabbal ya Karim]

1 Komentar:

oO iNasHa Oo said...

Makasi banyak ya..
Udh mampir ke blogQu..
Semoga sukses selalu..